Bekasi/Tribuneindonesia.com
Sering terlihat hal yang sangat ironis – ketika seseorang dipercaya menjadi pengawal, menjadi pendamping walikota atau gubernur, tiba-tiba hatinya meninggi. Ia merasa kedudukannya sama dengan pemimpinnya, merasa lebih tinggi dari orang biasa, lalu mulai merendahkan, menghina, dan bersikap sewenang-wenang kepada sesama manusia. Seolah-olah kebesaran yang menempel sementara itu adalah kebesaran dirinya sendiri. Selasa 18 Agustus 2026
Lupa ia — bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Jabatan bisa berubah, kepercayaan bisa berakhir, dan kedudukan bisa digantikan dalam sekejap mata. Yang membuat seseorang dihormati bukanlah siapa yang dijaganya — melainkan kerendahan hatinya, adabnya, dan cara ia memperlakukan orang lain.
Pengawal bukanlah siapa-siapa. Ia tidak menjadi lebih tinggi karena berdiri di dekat orang tinggi. Ia hanyalah orang yang dipercaya menjalankan tugas — menjaga, melayani, dan menolong. Bukan untuk menempati kursi pemimpin, bukan untuk memakai wibawa orang lain, dan bukan pula untuk menindas yang datang.
Jangan sampai hati tersuntik kesombongan hanya karena kebetulan berdiri di tempat yang terlihat. Kecongkaan itu bukan kemenangan — itu adalah pemberat yang perlahan-lahan akan menjatuhkan pemiliknya. Sejarah mencatat: mereka yang meninggikan diri akan direndahkan. Dan mereka yang merendahkan diri, merekalah yang benar-benar berdiri tegak.
Maka jangan hancurkan dirimu dengan keangkuhan. Tugasmu adalah melayani, bukan digemari. Menjaga, bukan menakuti. Dan menjadi rendah hati — itulah satu-satunya cara agar tetap dihargai, meskipun seragam dan tugas itu sudah tidak ada lagi.






















