Bekasi/Tribuneindonesia.com
Pada tahun 605 sebelum Masehi, berdirilah Kerajaan Babilon di bawah Raja Nebukadnezar II — kerajaan yang saat itu dianggap paling perkasa di seluruh dunia. Dinding kotanya begitu tebal, gerbangnya berlapis tembaga, kekayaannya tak terhitung, dan tentaranya tidak terkalahkan. Raja Nebukadnezar merasa tidak ada yang setara dengannya. Ia berjalan di atas menara pengawas, melihat kota yang megah, dan berkata dalam hatinya: “Bukankah akulah yang membangun kerajaan ini dengan kekuatanku sendiri? Bukankah kemegahan ini datang dari kehebatanku sendiri? Semua bangsa akan tunduk kepadaku, tidak ada yang berani menentang kehendakku.”selasa
18 Agustus 2026.
Ia lupa bahwa kekuasaan adalah titipan. Ia lupa bahwa rakyat bukanlah alas kakinya. Ia memerintah dengan kesewenang-wenangan, membebani rakyat dengan beban yang berat, memuja kemegahan istananya di atas keringat dan tetesan darah orang banyak. Ia merasa tak tergoyahkan — dinding Babilon kokoh, bentengnya tinggi, siapa yang berani meruntuhkannya?
Namun Tuhan melihat. Tuhan yang mengangkat dan Tuhan pula yang merendahkan. Di tengah kemegahan yang dianggap abadi itu, Tuhan berfirman: “Siapa engkau yang merasa duduk di atas langit? Tanpa Aku, segala kemegahanmu hanyalah debu yang diterbangkan angin.”
Belum lama berlalu, ketika hatinya masih penuh keangkuhan, keruntuhan datang. Tanpa diduga, kerajaan yang dianggap tidak akan pernah jatuh itu roboh dalam satu malam. Raja yang merasa paling hebat kehilangan akal sehatnya, hidup mengembara di padang seperti binatang, sampai ia sadar bahwa hanya Tuhan yang berkuasa atas kerajaan manusia — dan Dia memberikan kekuasaan kepada siapa yang rendah hatinya dan tidak menindas rakyatnya.
Begitulah peringatan abadi bagi setiap penguasa di setiap zaman:
– Dinding yang paling tebal tidak bisa melindungi dari penghakiman Tuhan
– Kekayaan yang paling banyak tidak bisa menebus kesewenang-wenangan
– Ketaatan rakyat yang dipaksa bukanlah kehormatan — itu hanyalah ketakutan yang menunggu waktu untuk berubah menjadi kebangkitan
Kerajaan Babilon telah hilang ribuan tahun lalu. Puing-puingnya kini tertimbun debu sejarah. Tetapi pelajarannya tetap berdiri tegak sampai hari ini:
Siapa yang membangun kemegahan di atas penderitaan rakyat, sedang membangun puing-puing untuk dirinya sendiri. Dan siapa yang merasa tidak perlu Tuhan dan tidak perlu rakyat — Tuhan akan membiarkan dia berdiri sendirian, lalu jatuh tanpa ada yang menolong.
Ini adalah peringatan dan sinyal bagi setiap bangsa dan negeri. Contoh-contoh seperti ini tidak akan lari ke mana-mana — kebenaran itu akan selalu mencari kebenarannya. Dan Tuhanlah yang menjalankan keadilan-Nya; apa yang dibangun di atas penderitaan dan kesombongan, Dia pula yang akan meruntuhkannya, tidak peduli seberapa kokoh dan seberapa tinggi ia berdiri hari ini.























