Bekasi,/Tribuneindonesia.com
Banyak bangsa yang dahulu besar, kaya raya sumber daya alam, dan diperhitungkan di dunia — namun akhirnya jatuh, hancur, dan dilupakan sejarah. Lihatlah kisah bangsa Edom — tinggal di tanah yang berbukit kuat, kaya tambang, merasa aman dan tidak akan pernah tersentuh. Tetapi karena mereka bersikap kasar kepada yang lemah, memandang rendah rakyat kecil, dan merasa kekayaan itu datang dari kekuatan sendiri — keruntuhan datang tanpa diduga, dan kini puing-puingnya saja yang tersisa. Selasa 18 Agustus 2026
Lihatlah Moab — bangsa yang kaya gandum, kaya anggur, dan makmur di atas permukaan tanah. Mereka merasa aman, sombong hati, dan menindas yang miskin. Mereka lupa bahwa kekayaan itu titipan, bukan hak milik. Maka datanglah hari ketika kemakmuran itu lenyap dalam sekejap, dan bangsa Moab yang sombong itu tidak ada lagi di peta dunia.
Dan masih banyak lagi — Asyur yang perkasa dengan tentara yang tak terkalahkan, Filistin yang kaya dan berdagang ke seluruh negeri — semuanya jatuh bukan karena musuh dari luar yang lebih kuat. Mereka jatuh dari dalam. Mereka jatuh karena lupa siapa yang memberi tanah, siapa yang memberi kekayaan, dan siapa yang bekerja hingga keringat bercucuran supaya negeri itu makmur.
Maka demikian juga bagi negeri kita, bagi bangsa ini:
Janganlah kita melangkah di jalan yang keliru. Bangunlah di atas kebenaran, bukan di atas kebohongan. Hentikanlah kekerasan — baik yang berupa senjata maupun yang berupa kebijakan yang menindas. Hentikanlah pengabaian yang membuat rakyat semakin susah, semakin menderita, dan semakin jauh dari sejahtera.
Janganlah kita menjadikan rakyat hanya sebagai alat kepentingan di saat jelang pemilihan — disapa, dijanjikan, dipuji — lalu setelah suara diperoleh, dilupakan kembali dan ditinggalkan dalam penderitaan. Itulah permulaan akhir sebuah bangsa — ketika rakyat hanya diingat saat butuh, dan dilupakan saat berkuasa.
Bangsa yang besar tidak dibangun di atas kekayaan alam semata — dibangun di atas rakyat yang diperhatikan, guru yang disejahterakan, daerah terluar yang dijangkau, dan keadilan yang tidak pilih kasih. Jika tidak — maka kisah Edom, Moab, Asyur, dan Filistin bukan sekadar cerita lama. Itu adalah peringatan yang sedang mengetuk pintu negeri ini.
Bekasi, 18 Agustus 2026






















