BEKASI/Tribuneindonesia.com
Negeri ini sungguh ironis. Anggaran demi anggaran dikeluarkan begitu besar atas nama program, atas nama kemajuan, atas nama rakyat. Namun ketika tiba waktunya memutuskan kesejahteraan bagi pendidik — gaji yang layak, kehidupan yang terjamin bagi guru — keputusan itu selalu tertunda, selalu ditangguhkan, selalu menjadi janji yang belum dipenuhi. Dari Sabang sampai Merauke, guru masih menunggu. Bukan tidak ada dana — tetapi dana itu mengalir ke mana-mana, kecuali ke mereka yang membangun akar peradaban bangsa. Sabtu 15 Agustus 2026
Banyak pemimpin berbicara tentang efisiensi, tetapi yang terlihat justru pemborosan anggaran demi program yang tidak jelas ujungnya. Janji-janji manis diucapkan, menyenangkan didengar, tetapi tidak menjadi kenyataan di kehidupan para pendidik. Apakah ini pemimpin yang mencintai peradaban bangsa? Karena peradaban yang maju dimulai dari mereka yang berdiri di depan kelas — bukan dari tumpukan program di atas kertas.
Lihatlah Malaysia. Negara itu tidak lebih luas dari Indonesia, tetapi mereka tahu ke mana arah kemajuan. Anggaran pendidikan selalu menjadi yang terbesar di negara itu, dan guru diberikan kenaikan gaji secara nyata dan teratur. Mereka tidak berjanji terus-menerus, mereka memutuskan dan melaksanakan. Itulah sebabnya peradaban mereka bergerak maju tanpa perlu waktu berpuluh-puluh tahun tertahan di tempat.
Lihatlah China — negeri yang luasnya jauh melampaui Indonesia, dengan penduduk terbanyak di dunia. Namun mereka tidak membiarkan guru berjuang sendirian. Mereka membangun kesejahteraan pendidik sebagai fondasi negara. Di sana, memuliakan guru bukan seremonial kata-kata — itu kebijakan yang diputuskan dan dijalankan. Itulah sebabnya dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka mampu membangun peradaban yang dunia kagumi hari ini.
Sementara itu di negeri ini, program demi program berganti nama, anggaran demi anggaran dicatat besar di atas kertas — tetapi guru masih berdiri menunggu. Sebagaimana dikatakan pengamat sosial Rocky Gerung: “Kebijakan yang hanya menyenangkan telinga rakyat tanpa menyentuh kesejahteraan mereka, hanyalah pencitraan yang membiarkan bangsa ini berjalan di tempat.”
Maka jangan berharap negeri ini, bangsa dan negara ini akan maju dari Sabang sampai Merauke — selama janji-janji itu hanya kata-kata yang tidak pernah ditepati. Selama guru masih menunggu, selama kesejahteraan pendidik masih ditunda, maka semua rencana besar hanyalah cerita kosong yang akan tercatat dalam sejarah sebagai janji yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak pernah menjadi kenyataan.


















