BEKASI/Tribuneindonesia.com
Investasi dan pengembangan kendaraan listrik adalah langkah ke depan yang patut diapresiasi. Namun kita harus jujur dan realistis: pergantian total dari minyak ke listrik tidak bisa terjadi dalam semalam. Yang mau pakai listrik silakan, yang masih butuh minyak tetap berjalan — sampai minyak benar-benar tidak ada lagi dari perut bumi. Jumat 14 Agustus 2026
🔍 Belajar dari Tiga Negara: Belanda, Singapura, China
🇳🇱 BELANDA — Maju tapi Bertahap
Belanda adalah salah satu negara paling maju dalam kendaraan listrik — hampir 35% mobil baru yang terjual sudah berlistrik, dan stasiun pengisiannya paling padat di Eropa. Namun demikian, mobil berbahan bakar minyak tetap berjuta-juta berjalan di sana. Pemerintah Belanda menargetkan mobil baru bebas emisi pada 2030-2035, tetapi tidak melarang mobil BBM yang sudah ada. Mereka membangun dulu, baru beralih perlahan — tidak mendadak, tidak memaksakan.
🇸🇬 SINGAPURA — Terencana tapi Bertahap
Singapura sudah merencanakan transisi dengan sangat jelas: menghentikan pendaftaran mobil bensin baru pada 2030, dan menargetkan semua kendaraan bersih pada 2040. Tapi sampai tahun 2025–2026, mobil bensin dan solar masih berjalan berjuta-juta di jalanan Singapura! Bahkan di negara sekecil dan sekaya Singapura sekalipun, mereka memberi waktu 15–20 tahun penuh untuk transisi — bukan paksa dalam 5 tahun.
🇨🇳 CHINA — Terbesar di Dunia, Minyak Tetap Ada
China adalah pasar kendaraan listrik terbesar di dunia — lebih dari 60% mobil baru yang terjual sudah listrik. Tapi tetap saja, mobil berbahan bakar minyak belum hilang! Puluhan juta mobil BBM masih berjalan di seluruh penjuru negeri, terutama di daerah pedalaman. China tidak menghapus BBM secara mendadak — mereka membiarkan keduanya berjalan berdampingan sampai yang baru benar-benar siap merata.
⚡ Listrik Pun Punya Keterbatasan — Apakah Selalu Bisa Dicas?
Ada hal penting yang sering terlupakan: listrik sendiri belum tentu selalu ada. Listrik itu dihasilkan — sebagian besar masih dari batu bara, tenaga uap, dan sumber lain. Kalau aliran listrik mati, bagaimana kendaraan listrik mau dicas? Belum semua daerah punya jaringan listrik yang stabil. Belum semua orang mampu memasang pengisi daya di rumah. Baterai itu berat, mahal, dan butuh waktu lama untuk mengisi — belum secepat mengisi bensin yang cuma butuh hitungan menit.
🇮🇩 Indonesia — 250 Juta Jiwa, Ribuan Pulau
Kalau negara sekecil dan sekaya Singapura, sekecil Belanda, seluas China — semuanya butuh waktu belasan hingga puluhan tahun — bagaimana dengan Indonesia yang 250 juta jiwa, ribuan pulau, dan wilayah yang sangat luas?
Membangun jaringan listrik dan stasiun pengisian sampai ke ujung-ujung negeri butuh waktu puluhan tahun. Harga kendaraan listrik belum terjangkau semua. Pasokan listrik sendiri belum merata stabil. Truk jarak jauh, kapal, pesawat, industri berat — belum semuanya bisa digantikan listrik dalam waktu dekat.
🎯 Penutup
Majulah dengan teknologi baru, tetapi jangan tinggalkan yang lama sebelum yang baru benar-benar siap untuk semua orang. Yang mau pakai listrik — silakan. Yang masih butuh minyak — tetap berjalan. Biarkan rakyat memilih sesuai kemampuan dan kebutuhan. Transisi energi bukanlah paksaan sepihak, melainkan kesiapan menyeluruh — dari infrastruktur, harga, hingga pemerataan di seluruh penjuru negeri. Sampai minyak benar-benar habis dari perut bumi, biarkan keduanya berjalan berdampingan dengan damai.



















