Bekasi/Tribuneindonesia.com
Alih-alih sibuk memaksa rakyat beralih ke kendaraan listrik, seharusnya pemerintah lebih dulu membangun infrastruktur transportasi massal yang layak, nyaman, dan menjangkau seluruh pelosok negeri. Seperti yang terlihat di Belanda, di Singapura, maupun di Amerika Serikat — transportasi publik terakomodasi dengan rapi, membawa warga langsung ke titik-titik sentral. Rakyat pun dengan senang hati memilih menggunakan transportasi umum karena memang nyaman, tepat waktu, dan menjangkau ke mana saja. Jumat
14 Agustus 2026
Bukan di Jakarta saja, bukan di Pulau Jawa semata. Harus sampai ke ujung-ujung pulau, ke seluruh Nusantara. Jika transportasi umum sudah memadai, rakyat akan dengan sendirinya beralih. Beban pasokan bahan bakar pun berkurang, jumlah kendaraan pribadi menurun, termasuk mobil-mobil dinas pejabat yang begitu banyak dan mewah. Pilihan tetap berada di tangan rakyat — bukan dipaksakan dari atas.
Pengamat publik Rocky Gerung menegaskan: “Pemerintah seharusnya membangun kemudahan transportasi, bukan memaksa rakyat menyesuaikan diri dengan kebijakan yang belum siap.” Jika rakyat masih terpaksa menggunakan kendaraan pribadi karena transportasi umum buruk, maka memaksa mereka beralih ke kendaraan listrik tanpa prasarana yang siap hanyalah beban tambahan bagi rakyat. “Bangun dulu jalannya, bangun dulu aksesnya, baru rakyat memilih,” demikian pandangan beliau.
Membangun transportasi massal yang merata adalah solusi sesungguhnya. Mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar, mengurangi kemacetan, dan mengurangi beban rakyat. Bukan memaksa rakyat membeli kendaraan yang belum bisa diproduksi sendiri di negeri ini. Biarkan rakyat memilih apa yang terbaik bagi dirinya, sementara pemerintah menyediakan prasarana yang memadai. Itulah tugas pemimpin sejati — memudahkan rakyat, bukan mempersulit dan memaksakan kehendak.

















