Bitung | Tribuneindonesia.com – Menerobos barisan kedua penyumbang kasus Tuberkulosis (TBC) terbanyak di dunia, Pemerintah Kota Bitung menabuh genderang perang terhadap penyakit menular tersebut.
Mengambil momentum program Cek Kesehatan Gratis serentak di 38 provinsi di Indonesia, Pemkot Bitung resmi meluncurkan gerakan Tracing TBC Terintegrasi di Aula Kantor Kelurahan Wangurer Barat, Kecamatan Madidir, Kota Bitung, Kamis (13/8/26).
Aksi agresif di tingkat lokal ini berakar dari ancaman global TBC yang kian mengkhawatirkan. Data global 2024 mencatat angka kasus TBC menembus 10,7 juta jiwa, dengan Indonesia menyumbang sekitar 10 persen atau satu juta kasus.

Selaras dengan arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menempatkan penanggulangan TBC sebagai salah satu program prioritas nasional (Big Win) berbasis layanan inklusif dan deteksi dini, Pemkot Bitung mematok target ambisius, menyapu bersih screening serta pelacakan kontak erat hingga 100 persen pada 2026 dengan memeriksa 6.249 warga.
Guna mengejar target tersebut, Dinas Kesehatan Kota Bitung mendobrak pola lama dengan menggulirkan strategi pemindaian aktif “Ketuk Pintu”. Petugas kesehatan bersama kader bergerak menyisir kawasan permukiman dari rumah ke rumah demi menemukan indikasi kasus sedini mungkin.
Langkah operasional ini disokong dana APBD sebesar Rp436.760.000 yang dialokasikan ke 62 titik kegiatan, di mana setiap lokasi membidik target sasaran 100 orang.

Prosesi pembukaan acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ibu Jein, disambut penyampaian laporan teknis oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bitung, dr. Pitter Lumingkewas, M.Kes.
Asisten I Sekretariat Daerah Kota Bitung, Forsman Dandel, S.Sos, hadir membuka agenda strategis tersebut mewakili Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E, yang tengah menyelesaikan tugas kedinasan bersama jajaran Forkopimda.
”Pak Wali masih menerima tamu Pak Dandim dan jajaran Forkopimda Kota Bitung. Agar Bapak dan Ibu tidak menunggu lama, Pak Wali menugaskan saya selaku Asisten I untuk membuka kegiatan ini,”
ungkap Forsman saat menyampaikan pengantar pembukaan, menegaskan komitmen pemerintah daerah agar pelayanan publik tetap berjalan optimal meski pimpinan daerah berhalangan hadir.
Dalam sambutan tertulis Wali Kota yang dibacakannya, Forsman mengimbau warga agar membuang rasa malu maupun takut untuk memeriksakan diri.

”Penyakit ini bisa didapat oleh siapa saja, bukan cuma karena umur atau bawaan. Jangan takut dan jangan malu untuk melakukan pemeriksaan, karena pemeriksaan adalah jalan keluar bagi kita semua yang mengusulkan umur panjang,”
tegas Dandel.
Selain melacak infeksi, program terpadu ini menyuntikkan inovasi medis berupa Terapi Pencegahan Tuberculosis (TPT) bagi warga yang berkontak erat dengan pasien namun belum terjangkit, guna memutus mata rantai penularan di lingkup keluarga.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bitung, Pitter Lumingkewas, menegaskan bahwa penanganan TBC sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat nasional membutuhkan pendekatan luar biasa, terintegrasi, dan berkelanjutan dari pemerintah maupun masyarakat.
”Kegiatan integrasi ini bukan sekadar mencari penderita, tetapi merupakan strategi Pemerintah Kota Bitung untuk menemukan sumber penularan, mencegah munculnya kasus baru, dan melindungi masyarakat dengan melakukan kegiatan secara agresif hingga ke rumah-rumah warga,”
pungkas Piter, menutup laporannya. (kiti)



















