Kepala BPBD Raja Ampat, Guntur Tamima, bersama Wakapolres Raja Ampat AKP Muhadi, SH, beserta tim gabungan saat berada lapangandi kawasan Lonobi, Kompleks Perumahan 100, Kabupaten Raja Ampat, Minggu (27/9/2026), dihadapkan pada medan yang ekstrem. Pada pukul 12.23 menit WIT.
RAJA AMPAT-TRIBUNEINDONESIA.COM –Perjuangan tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Polres Raja Ampat memadamkan kebakaran di kawasan Lonobi, Kompleks Perumahan 100, Kabupaten Raja Ampat, Minggu (27/9/2026), dihadapkan pada medan yang ekstrem.
Meski kobaran api mulai menurun dan bergerak ke arah pinggir tebing, proses pemadaman belum dapat dilakukan secara maksimal. Titik-titik api berada di kawasan yang sulit dijangkau, mulai dari sekitar Kali 100 hingga lereng tebing gunung di wilayah Lonobi.
Tim gabungan disebut harus menghentikan sementara upaya pemadaman di sejumlah titik karena peralatan yang tersedia belum memadai untuk menjangkau lokasi rawan.
Medan terjal menjadi tantangan utama. Pantauan di lapangan menunjukkan, peralatan seperti mesin penyedot air belum mampu menjangkau kawasan dengan ketinggian yang diperkirakan mencapai sekitar 500 meter.
Kondisi tersebut membuat proses penanganan kebakaran semakin berat. Jarak antara sumber air dan titik api serta kontur gunung yang terjal menjadi kendala bagi petugas di lapangan.
Situasi ini sekaligus menjadi perhatian bagi Pemerintah Kabupaten Raja Ampat agar memperkuat sarana dan prasarana penanggulangan bencana, khususnya peralatan pemadam kebakaran untuk wilayah dengan karakter medan sulit.
Apalagi, kondisi cuaca kering dan potensi kemarau panjang hingga akhir tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan maupun kawasan permukiman.
Kelengkapan peralatan dinilai penting agar petugas tidak hanya mengandalkan peralatan yang tersedia ketika kebakaran sudah meluas, tetapi mampu melakukan penanganan sejak titik api pertama ditemukan.
Kebakaran di Lonobi kini menjadi alarm bagi pemerintah daerah: medan Raja Ampat yang bergunung dan sulit dijangkau membutuhkan kesiapan peralatan penanggulangan bencana yang sebanding dengan karakter wilayahnya.

















