Bekasi/Tribuneindonesia.com
Belajarlah, hai negeri. Belajarlah, wahai bangsa Indonesia, kepada negeri India — bukan untuk menirunya, tetapi untuk membangun peradaban yang sejati. Rabu 19 Agustus 2026
India dengan 1,5 miliar jiwa mampu berdiri tegak, maju dalam ilmu pengetahuan, teknologi, digital, antariksa, dan pertahanan. Mereka membuktikan bahwa banyak penduduk bukan beban — melainkan kekuatan, asalkan dihargai pendidiknya, disejahterakan gurunya, dan dibangun dari akarnya.
Presiden India Droupadi Murmu secara langsung memberikan Penghargaan Nasional kepada Guru terbaik setiap tahun di Istana Presiden, dan beliau menegaskan: “Guru adalah pembangun bangsa. Mereka adalah arsitek masa depan negara.” Sementara Perdana Menteri Narendra Modi menyampaikan: “Guru tidak hanya memberi ilmu — mereka menanamkan energi positif dan membentuk watak bangsa.” Dan Menteri Pendidikan India Pralhad Joshi menegaskan: “Kualitas pendidikan bergantung pada kompetensi dan empati guru. Kita membangun negara maju melalui tangan para pendidik.”
Maka almarhum Presiden B.J. Habibie pun pernah berkata:
“Pendidikan adalah tiket menuju masa depan; guru adalah penunjuk jalannya. Guru adalah sosok yang membuat yang sulit menjadi mungkin.”
Jika India dengan 1,5 miliar jiwa bisa maju sejauh itu — Indonesia yang hanya 250 juta jiwa, jauh lebih kaya alam, jauh lebih strategis — mengapa tidak bisa? Di mana letak pemimpin kita? Di mana arah eksekutif, legislatif, maupun edukatif? Apakah mereka lupa bahwa peradaban tidak dibangun dengan janji, melainkan dengan menghormati dan mensejahterakan mereka yang mendidik anak bangsa?
Kita tidak perlu meniru India. Kita hanya perlu belajar satu hal: hormati guru, sejahterakan pendidik, dan bangunlah peradaban dari ruang kelas, bukan dari atas kertas. Maka Indonesia pun akan berdiri tegak dan disegani dunia.






















