Bekasi/Tribuneindonesia.com
Mengapa ketakutan buta masih membelenggu langkah negaraku? Mengapa kita lebih memilih jalan bentrokan, pertahanan kaku, dan konflik berkepanjangan—jalan yang hanya membuang anggaran negara miliaran bahkan triliunan rupiah tanpa hasil—padahal kita bisa memilih jalan hikmat dan keberanian? Beranilah untuk mendengar jeritan hati rakyat daerah: permintaan mereka untuk mengelola rumah tangganya sendiri, menikmati kedaulatan atas tanah leluhur mereka, bukanlah musuh negara, melainkan kunci menciptakan stabilitas abadi yang kita impikan.
Kita harus sadar sepenuhnya: perlawanan dan penolakan terhadap hak asasi untuk menentukan nasib sendiri adalah pemborosan paling konyol dan tragis. Lihatlah angkanya saja: di wilayah-wilayah tertinggal, dana yang tergelontorkan setiap tahun hanya untuk biaya operasi keamanan, logistik, dan pertahanan bernilai sangat besar—uang yang seharusnya bisa membangun ribuan sekolah, rumah sakit, jalan raya, dan fasilitas kesejahteraan. Konflik yang dipelihara karena menolak keadilan hanya memakan korban jiwa, merusak infrastruktur, menanam kebencian antar generasi, dan menghambat pembangunan yang sesungguhnya. Anggaran itu habis untuk menahan orang, bukan untuk memajukan orang. Bukankah ini kerugian besar yang sia-sia?
Lantas, mengapa kita harus gemetar dan takut jika rakyat daerah meminta hak kedaulatan dan kemerdekaan mengelola wilayahnya? Apakah kita kurang paham bahwa di dunia modern ini, kemitraan antarnegara atau antarwilayah yang berdaulat jauh lebih kuat dan menguntungkan daripada paksaan di bawah satu atap yang retak? Kita bisa tetap bersatu dalam persaudaraan, kerjasama ekonomi, pertahanan bersama, dan kebahagiaan bersama—tanpa harus menindas atau menahan hak orang lain. Ketakutan itu muncul karena kita terbiasa dengan pola pikir “pusat menguasai segalanya”, padahal sejarah dunia membuktikan sebaliknya: kebebasan yang dihormati melahirkan mitra yang setara, bukan musuh.
Mari kita lihat contoh nyata dari dalam negeri dan luar negeri yang menjadi pelajaran berharga:
✅ Pelajaran Aceh (Dalam Negeri): Dulu terjerat konflik puluhan tahun karena penindasan dan pengurasan kekayaan alam, tuntutan kemerdekaan membara. Namun ketika negara berani memberikan Otonomi Khusus Luas dan Hak Mengelola Sendiri, damai tercapai. Aceh tetap dalam bingkai persatuan namun memegang kendali nasibnya sendiri—ini bukti bahwa memberi ruang bukanlah kehilangan, melainkan menyelamatkan masa depan.
✅ Model Kerajaan Belanda dengan Aruba, Curaçao, dan Sint Maarten: Kerajaan Belanda membiarkan pulau-pulau tersebut menjadi negara berdaulat di dalam persekutuan kerajaan. Mereka mengurus dalam negeri sendiri, memiliki aturan sendiri, namun tetap bermitra erat dalam perdagangan, pertahanan, dan hubungan internasional. Tidak ada perang, tidak ada dendam, hanya kerja sama setara yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
✅ Pemisahan Damai Ceko dan Slowakia: Dulu satu kesatuan, ketika keinginan berbeda muncul, mereka tidak berperang dan tidak bermusuhan. Mereka memutuskan jalan masing-masing dengan kepala dingin. Kini keduanya berdiri sebagai negara sahabat, saling berdagang, saling mendukung, dan menjadi contoh dunia bahwa kemerdekaan pilihan rakyat adalah awal persahabatan sejati.
✅ Prinsip “Satu Negara, Dua Sistem” di Tiongkok: Menerapkan otonomi sangat luas bagi wilayah Hong Kong dan Makau—memiliki mata uang sendiri, hukum sendiri—sehingga bisa berkembang pesat dan tetap menjalin hubungan erat tanpa gesekan yang berdarah.
Ini bukanlah gagasan yang tidak masuk akal. Ini adalah logika damai dan kebijaksanaan zaman kini. Kita tidak perlu memaksakan kesatuan yang penuh luka dan pemberontakan. Biarkan daerah memiliki kedaulatan atas kekayaan dan pembangunannya; biarkan mereka merasakan hasil keringat sendiri. Jika mereka bahagia dan sejahtera, mereka akan menjadi mitra terbaik, sahabat paling setia, dan benteng persaudaraan yang tak tergoyahkan.
Berhentilah membuang uang untuk senjata dan pertikaian. Mulailah mengalihkan dana itu untuk membangun kepercayaan dan kemitraan. Negara yang berani memberi kebebasan adil adalah negara yang paling kuat dan disegani. Mari kita buka mata: stabilitas tidak lahir dari ketakutan, tapi dari keadilan. Kemajuan tidak tumbuh dari paksaan, tapi dari hak yang dihormati.
⚠️ disclaimer
Tulisan ini adalah pandangan dan analisis kritis pribadi penulis berdasarkan pengamatan sejarah dan dinamika sosial. Bertujuan untuk membuka dialog menuju perdamaian dan solusi terbaik, bukan untuk mengajak pada kekerasan atau pembangkangan.
—
















