TribuneIndonesia.com I Deli Serdang-Di balik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terdapat urusan yang jauh lebih besar daripada makanan yang tersaji di meja anak sekolah. siapa yang memasok beras, telur, sayuran, buah, daging, serta kebutuhan dapur setiap hari. di Kecamatan Beringin, rantai pasok itu mulai diikat melalui kesepakatan antara Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan sejumlah SPPG pada Senin, 7 September 2026.
Kesepakatan tersebut disaksikan dr H Asri Ludin Tambunan bersama Lom Lom Suwondo. Tiga pasangan KDMP-SPPG menandatangani nota kesepahaman. KDMP Emplasemen Kualanamu dengan SPPG Beringin, KDMP Sidodadi Ramunia dengan SPPG Sidodadi Ramunia I, serta KDMP Beringin dengan SPPG Beringin Karang Anyar 2.
ada pula penandatanganan kesepakatan antara Ketua KDMP Desa Emplasemen Kualanamu dan Koordinator Kecamatan SPPG Kecamatan Beringin. Kertas kerja itu tampak administratif. namun konsekuensinya menyentuh mata rantai ekonomi desa. dari lahan petani, kandang peternak, kebun buah, sampai dapur pengolahan makanan.
Asri Ludin Tambunan menyebut Beringin sebagai wilayah kedua yang menjalankan pola tersebut setelah Sunggal. Ia mengatakan dua agenda nasional, Koperasi Desa Merah Putih dan program Makan Bergizi Gratis, dirancang agar saling menguatkan.
Program makanan bergizi membutuhkan pasokan yang berlangsung terus-menerus. Kebutuhan dapur tidak berhenti pada satu kali pengadaan. Ada beras yang harus tersedia, telur yang harus datang, sayuran yang harus segar, buah yang harus memenuhi kebutuhan menu, serta tenaga yang mengolah bahan pangan setiap hari.
jika kebutuhan itu dipasok dari luar daerah, uang belanja pangan ikut mengalir keluar. Sebaliknya, jika petani dan peternak setempat mampu memasok kebutuhan SPPG, belanja program tersebut berpotensi berputar lebih lama di desa. Asri Ludin karena itu menginstruksikan pengurus KDMP memaksimalkan hasil bumi lokal. Ia meminta koperasi tidak mengambil komoditas dari luar wilayah untuk dijual kepada SPPG.
Instruksi itu membawa pekerjaan tambahan bagi KDMP. Koperasi tidak cukup hanya menjadi perantara pembelian. Mereka harus mengetahui kapasitas produksi petani, memastikan kualitas barang, menghitung kebutuhan SPPG, mengatur jadwal pengiriman, dan menjaga kesinambungan pasokan. Persoalan paling penting justru berada pada kemampuan memenuhi kebutuhan tersebut.
Petani dapat memiliki hasil panen, tetapi belum tentu produksinya berlangsung sepanjang tahun. Peternak dapat menghasilkan telur atau daging, tetapi volume dan kontinuitasnya harus sesuai kebutuhan dapur. Produk buah dan sayuran juga memiliki persoalan umur simpan serta distribusi.
Karena itu, instruksi memakai produk lokal akan diuji oleh angka. berapa banyak kebutuhan SPPG setiap hari, berapa kapasitas produksi desa, berapa harga yang disepakati, dan seberapa besar bagian belanja pangan yang benar-benar kembali kepada warga setempat.
Kepala Desa Emplasemen Kualanamu, Koko Kurniawan, menyambut kerja sama KDMP dan SPPG tersebut. Ia berharap mekanisme itu membantu pemenuhan gizi anak sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga desa.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Kabupaten Deli Serdang, Rizky Ichsan Putra Liany, turut menyaksikan penandatanganan bersama unsur Muspika Kecamatan Beringin, Lembaga Masyarakat Peduli Makan Bergizi Gratis serta tokoh masyarakat. namun ukuran keberhasilannya kelak tidak berhenti pada banyaknya nota yang ditandatangani.
ukuran sesungguhnya berada pada dapur SPPG: apakah bahan pangan datang tepat waktu, apakah kualitasnya terjaga, apakah petani memperoleh pasar yang pasti, dan apakah KDMP mampu mengelola rantai pasok tanpa membuat harga bahan pangan menjadi lebih mahal.
Program makanan bergizi pada akhirnya memiliki dua meja. Meja pertama berada di hadapan anak-anak sekolah. Meja kedua berada di pasar desa, tempat petani, peternak, pedagang, pekerja dapur dan koperasi berhadapan dengan peluang ekonomi baru.
Kesepakatan di Beringin baru membuka pintu menuju meja kedua itu. Seberapa besar uang belanja SPPG berputar di desa akan ditentukan oleh cara KDMP mencari, membeli, mengangkut dan memasok bahan pangan. di sanalah gagasan tentang pemberdayaan ekonomi lokal akan diuji oleh mekanisme pengadaan sehari-hari. (Ilham Gondrong)





















