TribuneIndonesia.com I Deli Serdang-Atap rapuh, dinding yang tak lagi kokoh, serta kehidupan keluarga berpenghasilan rendah menjadi dasar penyaluran bantuan bedah rumah. Program ini menempatkan data kemiskinan sebagai pintu awal, tetapi kondisi rumah di lapangan menjadi penentu berikutnya.
Pada Sabtu, 5 September 2026, Asri Ludin Tambunan mendatangi Kantor Baznas setempat. Pertemuan itu membahas penyaluran zakat untuk warga miskin melalui perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Asri Ludin meminta dana zakat yang dihimpun dari aparatur sipil negara dan masyarakat tidak berhenti sebagai angka pada laporan. Dana tersebut diarahkan kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan, termasuk mereka yang tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan. Zakat dikelola secara amanah dan disalurkan tepat sasaran sehingga lebih banyak masyarakat yang membutuhkan menerima bantuan,” kata Asri Ludin
Baznas setempat menggunakan data Dinas Sosial sebagai dasar penyaringan calon penerima. Kelompok desil 1 dan 2 mendapat prioritas. Klasifikasi itu mengacu pada tingkat kesejahteraan keluarga, tetapi data administratif tidak selalu identik dengan kondisi yang ditemukan petugas ketika turun ke lapangan.
Ketua Baznas setempat, H Surya, mengatakan verifikasi dilakukan melalui survei. hasil pemeriksaan lapangan dapat mengubah penilaian awal. Keluarga yang tercatat pada desil lebih tinggi masih mungkin memperoleh bantuan apabila kondisi hunian dan kehidupannya memenuhi kriteria.
kami sudah survei ke lokasi penerima berdasarkan data Dinas Sosial. diprioritaskan untuk masyarakat desil 1dan 2. namun, data valid di lapangan tetap ditindaklanjuti, misalnya ada desil 4 yang kondisi rumah dan kehidupannya memang tidak layak,” ujar Surya. Pernyataan itu memperlihatkan satu celah penting. angka kemiskinan pada basis data bukan satu-satunya ukuran. Rumah menjadi salah satu alat pembuktian.
Program bedah rumah menyasar Tanjung Morawa, Namorambe, Lubuk Pakam, Patumbak, Pantai Labu, serta Hamparan Perak. Lokasi-lokasi itu menjadi tempat pengujian apakah proses seleksi berbasis data mampu menemukan keluarga yang benar-benar membutuhkan.
ada persoalan lain yang ikut dibawa program tersebut. Pekerjaan fisik rumah melibatkan tenaga lokal. artinya, bantuan tidak berhenti pada bangunan yang diperbaiki, tetapi juga membuka penghasilan bagi warga sekitar.
namun ukuran keberhasilan program tidak cukup dihitung dari jumlah rumah yang selesai diperbaiki. yang lebih menentukan ialah siapa penerimanya, bagaimana proses verifikasi dilakukan, berapa dana yang disalurkan, serta apakah hasil pembangunan sesuai kebutuhan keluarga penerima.
Zakat memiliki sumber dana yang berbeda dari anggaran belanja daerah. Karena itu, proses penyalurannya menuntut pencatatan dan pemeriksaan yang jelas. data calon penerima, hasil survei, nilai bantuan, serta hasil pekerjaan menjadi bagian penting untuk memastikan dana tersebut sampai kepada keluarga yang memenuhi kriteria. Asri Ludin meminta Baznas memperluas jangkauan bantuan. Surya menyatakan proses verifikasi tetap menjadi penyaring utama.
di antara data dan rumah yang nyaris roboh, persoalan sebenarnya terletak pada ketepatan sasaran. Sebab satu keluarga yang terlewat berarti satu rumah yang mungkin tetap dihuni dengan kondisi yang sama, sementara dana zakat terus dikumpulkan dari para pembayar zakat.(Ilham Gondrong)


























