Bekasi/Tribuneindonesia.com
Hakikat seorang pemimpin sesungguhnya adalah melayani, bukan dilayani. Sebuah kebenaran yang sangat sederhana, namun semakin lama semakin terlupakan oleh mereka yang memegang tampuk kekuasaan. Pemimpin yang sejati seharusnya memiliki ketetapan hati yang tegas, kebijakan yang membangun demokrasi yang sehat, serta segala keputusan dan aturan yang ditujukan untuk kebaikan rakyat secara luas. Jumat 7 Agustus 2026
Namun sungguh sangat disayangkan, kenyataannya kini terlihat lain. Banyak yang menduduki kursi kekuasaan seolah-olah itu adalah takhta kemewahan pribadi, bukan amanah berat yang harus dipertanggungjawabkan. Mereka duduk di atasnya dengan tenang, namun sama sekali tidak memahami tangisan dan suara-suara rakyat yang memohon: memohon keadilan, memohon kepastian hukum, memohon kesejahteraan yang layak.
Telinga mereka seakan menjadi tebal dan tuli terhadap jeritan yang datang dari bawah. Hati nurani mereka tumpul dan tidak lagi peka. Yang tampak justru sebaliknya: mereka jauh lebih memihak dan memelihara kepentingan lingkaran kekuasaan di sekitarnya, daripada memperhatikan nasib rakyat yang sebenarnya menempati urutan paling atas dalam setiap sila dan janji kenegaraan.
Sejarah telah memberikan pelajaran pahit yang berulang: Raja Louis XVI dari Prancis membiarkan rakyatnya kelaparan sementara ia hidup bermewah di istana, hingga rakyat bangkit dan ia kehilangan takhta serta nyawanya. Demikian pula Tsar Nikolai II dari Rusia, yang menutup mata terhadap penderitaan rakyatnya, akhirnya runtuh dalam revolusi. Mereka lupa satu hal yang paling mendasar: Rakyat tanpa negara masih bisa hidup, tetapi negara tanpa rakyat pasti runtuh. Inilah yang sedang mengancam peradaban bangsa ini saat ini.
Jika seorang pemimpin lebih mencintai kursinya daripada rakyatnya, jika ia lebih takut kehilangan kekuasaannya daripada kehilangan kepercayaan rakyatnya, maka jangan heran jika perlahan-lahan pondasi bangsa ini mulai retak dan runtuh. Jangan menunggu sampai rakyat pergi atau kepercayaan hilang sama sekali, barulah sadar. Karena ketika rakyat sudah tidak percaya, maka takhta kekuasaan apa pun tidak akan mampu bertahan lama.
















