Deli Serdang I TribuneIndonesia.Com–Situasi di Desa Paya Gambar Kecamatan Batang Kuis kembali memanas pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Ketegangan mencuat setelah Kepala Desa Paya Gambar memanggil salah satu tokoh pemuda desa, Ridwan Lubis, Kamis 12 Maret 2026 sekitar pukul 16’00 wib terkait pemberitaan dugaan perampasan lahan yang sebelumnya mencuat ke publik.
Pertemuan yang berlangsung di kantor desa tersebut semula disebut sebagai klarifikasi atas pemberitaan yang beredar. Namun, suasana pertemuan justru berubah tegang dan memicu polemik baru di tengah masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, Ridwan Lubis meminta agar Kepala Desa juga menghadirkan pimpinan pengelola lahan, yakni Abdul Hadi. Permintaan tersebut dinilai wajar karena Abdul Hadi merupakan pihak yang selama ini terlibat langsung dalam pengelolaan lahan yang dipersoalkan.
Namun, menurut Ridwan, Kepala Desa terkesan menghindari permintaan tersebut dan tetap melanjutkan pertemuan tanpa menghadirkan Abdul Hadi. Situasi ini memunculkan kecurigaan dari pihak pengelola lahan.
Ridwan Lubis mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut dirinya justru mendapat sejumlah pertanyaan yang bernuansa tekanan. Kepala Desa disebut mempertanyakan siapa sebenarnya pemilik lahan yang saat ini menjadi sengketa.
Menanggapi hal itu, Ridwan menjelaskan bahwa secara administratif lahan tersebut merupakan milik pemerintah. Namun, menurutnya, kondisi lahan tersebut sebelumnya hanyalah semak belukar dan tidak produktif.
Ia menyebutkan bahwa lahan tersebut kemudian dibuka dan dikelola oleh Ustadz Abdul Hadi bersama sejumlah petani setempat. Proses pengelolaan itu dilakukan secara swadaya dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit hingga lahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sawah.
“Awalnya itu semak belukar, tidak ada sawah di sana. Ustadz Abdul Hadi bersama petani yang membuka dan mengelolanya hingga bisa ditanami. Banyak biaya yang sudah dikeluarkan,” ujar Ridwan.
Persoalan mulai memuncak ketika Kepala Desa Paya Gambar Harmaini secara tiba-tiba memasang plang di area lahan tersebut dengan alasan program ketahanan pangan. Tindakan itu memicu kemarahan para pengelola lahan karena dianggap dilakukan tanpa komunikasi maupun pembicaraan mengenai ganti rugi atas biaya pengelolaan yang telah dikeluarkan para petani.
Ketua Perkumpulan Penulis Berita Media Indonesia(P2BMI) Sumatera Utara, Abdul Hadi, turut angkat bicara terkait pemanggilan Ridwan Lubis oleh Kepala Desa Paya Gambar Ia menyayangkan sikap pemerintah desa yang memanggil salah satu tokoh yang terlibat dalam pengelolaan lahan tanpa melibatkan dirinya sebagai pihak yang memimpin pengelolaan tersebut.
Menurut Abdul Hadi, langkah tersebut menunjukkan sikap yang tidak terbuka dan justru memperkeruh situasi di tengah masyarakat.
“Saya sangat menyayangkan pemanggilan Ridwansyah tanpa melibatkan saya. Padahal saya yang memimpin pengelolaan lahan itu bersama para petani,” tegasnya.
Abdul Hadi bahkan melontarkan kritik keras terhadap Kepala Desa Paya Gambar. Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk keberanian yang setengah-setengah.
“Kalau memang dia mau mengajak ribut, kami siap. Tapi yang jelas, sejengkal pun tanah yang selama ini kami kelola secara terus-menerus tidak akan kami serahkan begitu saja tanpa adanya kesepakatan atau MoU yang jelas,” ujarnya dengan nada tegas.
Pernyataan keras tersebut semakin memperlihatkan bahwa konflik lahan di Desa Paya Gambar bukan sekedar persoalan administratif, tetapi telah berubah menjadi konflik kepentingan yang berpotensi memicu gejolak lebih besar di tengah masyarakat desa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak Kepala Desa Paya Gambar terkait tudingan intimidasi maupun polemik pemasangan plang di lahan yang menjadi sengketa tersebut.
Sementara itu, masyarakat desa berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara terbuka dan adil agar tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang dapat merusak stabilitas sosial di Desa Paya Gambar.
Ilham Gondrong


















