Iman di Balik Seragam Bhayangkara, Polri Bukan Sekadar Penegak Hukum, tetapi Istana Kebaikan Bangsa

- Editor

Minggu, 22 Februari 2026 - 06:03

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TribuneIndonesia.comMenjadi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia bukanlah semata-mata profesi. Di balik seragam Bhayangkara, tersimpan amanah besar yang menyatukan dua kedudukan mulia sekaligus, sebagai hamba Tuhan dan sebagai penegak hukum negara. Dua peran ini bukanlah jalan yang terpisah, melainkan menyatu dalam satu tarikan napas pengabdian.

Pesan mendalam itu disampaikan Pengasuh Pesantren dan aktivis dakwah, Zulfan Nababan, dalam sebuah refleksi spiritual tentang wajah kepolisian hari ini. Menurutnya, kehormatan seorang anggota Polri terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara keteguhan iman dan integritas pengabdian kepada masyarakat.

“Jika dua fungsi ini berjalan seiring dan saling menguatkan, bukan hanya pimpinan institusi yang akan memberi penghargaan, tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa akan melimpahkan keberkahan hidup,” ujarnya.

Ia mengibaratkan manusia seperti sebuah kendaraan. Selama berfungsi dengan baik, kendaraan akan dirawat, dijaga, dan dipelihara. Namun ketika rusak dan tak lagi menjalankan fungsinya, ia akan ditinggalkan. Logika yang sama berlaku dalam kehidupan sosial. Ketika seseorang mengabaikan amanah dan tanggung jawab, maka kepercayaan pun perlahan akan runtuh.

Dalam konteks kepolisian, pengabaian terhadap salah satu fungsi akan melahirkan konsekuensi serius. Ketika peran sebagai aparat negara diabaikan, sanksi institusional menanti, mulai dari teguran hingga pencopotan jabatan. Sebaliknya, ketika fungsi sebagai hamba Tuhan dilupakan, kehampaan batin, kegelisahan hidup, dan keretakan moral menjadi harga yang harus dibayar.

Alquran, kata Zulfan Nababan, telah menegaskan bahwa kebaikan yang dikerjakan dengan iman akan melahirkan kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik itu bermakna ketenangan jiwa, rezeki halal yang penuh keberkahan, keharmonisan keluarga, serta pahala yang kelak memberatkan timbangan amal di akhirat.

Baca Juga:  Fitnah dan Ketakutan: Ketika Politik Tak Siap Menerima Oposisi Non-Partai

Karena itu, ia menegaskan, tugas sebagai penegak hukum dan peran sebagai hamba Tuhan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus saling menopang demi satu tujuan besar, meraih rida Tuhan sekaligus menghadirkan wajah kepolisian yang benar-benar dicintai rakyat. Nilai ini, menurutnya, sejalan dengan jiwa pengabdian Bhayangkara yang tertanam dalam Tribrata dan Catur Prasetya.

Zulfan menilai, kegaduhan dan krisis kepercayaan publik terhadap kepolisian yang kerap muncul di ruang publik sejatinya bersumber dari melemahnya salah satu poros pengabdian tersebut. Solusinya bukan  merombak struktur atau mengganti pejabat, tetapi meluruskan kembali orientasi moral aparatur pada dua poros utama, pengabdian kepada Tuhan dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia juga mengingatkan pentingnya menanamkan tiga prinsip dasar dalam diri setiap anggota kepolisian. Pertama, niat yang ikhlas karena Tuhan. Kedua, setiap tindakan diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat luas. Ketiga, seluruh tugas diniatkan sebagai ibadah untuk bekal akhirat.

Ke depan, Zulfan mendorong agar kebutuhan rohani anggota Polri mendapat perhatian lebih serius. Tantangan tugas yang kian kompleks menuntut keteguhan moral, ketenangan jiwa, dan kekuatan iman. Menurutnya, di sanalah sesungguhnya “istana kebaikan” itu berdiri, bukan pada bangunan megah atau gemerlap pangkat, melainkan pada hati yang bersih dan pengabdian yang tulus.

“Ketika iman dan tugas menyatu, Polri bukan sekadar institusi negara, melainkan istana kebaikan yang meneduhkan rakyat dan dimuliakan Tuhan,” tutupnya.

Ilham Gondrong

Zulfan Nababan

Pengasuh Pesantren dan Aktivis Dakwah

 

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Mengemuka, Tersangka Tak Kunjung Ada: Ketua LKGSAI Saidul Angkat Bicara
Angkat Bicara, Anggota LSM KPK RI Saidul Amran: “Kalau Dugaan Penyimpangan Terus Bermunculan Tapi Tak Ada Respons, Publik Berhak Curiga Ada yang Salah”
Jadup Bukan Sulap: Jangan Politisasi Perjuangan, Beri Kesempatan Jeffry Sentana Bekerja
Negara ikut Melegalkan Korupsi melalui Metode Tender Epurchasing, Ekatalog untuk Pengadaan Barang dan Mini Kompetisi untuk pekerjaan Konstruksi.
 HIDUP KITA DITENTUKAN OLEH PERKATAAN TUHAN, BUKAN OLEH PERKATAAN MANUSIA 
Lebih Baik Seperti Anjing Gila daripada Seperti Anjing Mati
Arief Martha Rahadyan: Demokrasi Sehat Bertumpu pada Pers yang Berintegritas
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:39

​AKBP Albert Zai Turun Lapangan, Semarak Kapolres Cup Bitung Makin Sengit

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:41

Kilas Balik Sejarah: Mengapa 1 Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Islam?

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:07

Tampil Produktif, Penyerang RR FC Daniel Hendatu Raih Top Scorer Youth Kampis Cup 2026

Selasa, 16 Juni 2026 - 03:39

​Lewat Ucapan Selamat 1 Muharram, Pemkot Bitung Gaungkan Jargon “Hijrah untuk Berbenah”

Selasa, 16 Juni 2026 - 01:23

​Hujan Lebat Picu Bencana di Sejumlah Kelurahan, Plt Kalakas BPBD Bitung Turun Lapangan

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:54

​Borong Penghargaan di HKG ke-54 Sulut, TP-PKK Kota Bitung Ukir Prestasi Gemilang

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:29

Khidmat dan Syahdu, Ratusan Jemaah Masjid Al Muttaqien Bitung Sambut Tahun Baru 1 Muharram 1448 H

Senin, 15 Juni 2026 - 13:17

Peringati 1 Muharram 1448 H,Wabup Bireuen Ajak Masyarakat Jadikan Hijrah Momentum Muhasabah Diri

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Deli Serdang Sukses Dukung Pembukaan MTQ Sumut 2026 di Astaka Pancing

Selasa, 16 Jun 2026 - 13:28