Tribuneindonesia.com | Fajar peradaban baru terbit ketika seluruh alam memberi isyarat atas hadirnya Sang Penuntun Agung, Nabi Muhammad saw. Kehadiran beliau bukan sekadar kelahiran seorang manusia biasa, melainkan titik balik sejarah yang menyapu kegelapan era jahiliyah menuju tatanan kehidupan yang penuh kebenaran, Selasa (25/08/26).
Sejatinya, kedatangan Sang Nabi memuat jejak sejarah panjang yang membentang jauh sebelum hari kelahirannya.
Ribuan tahun lalu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melantunkan doa yang memohon agar Allah swt. mengutus seorang rasul dari tengah-tengah keturunannya demi membimbing umat manusia.
Permohonan agung tersebut terabadikan secara jelas di dalam Al-Qur’an, tepatnya pada surah Al-Baqarah ayat 129. Melalui ayat ini, Nabi Ibrahim memohon sosok pembawa kitab, hikmah, serta pembersih jiwa bagi kaumnya.
Ulama tafsir Al-Qurthubi menguatkan fakta ini melalui kitab Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Beliau mencatat penegasan Rasulullah saw. sendiri dalam sebuah riwayat Khalid bin Ma’dan, yang menyebutkan bahwa diri beliau merupakan wujud nyata dari doa Nabi Ibrahim sekaligus kabar gembira yang disampaikan Nabi Isa ‘alaihissalam.
Nabi Isa ‘alaihissalam memang secara eksplisit mengabarkan kedatangan sosok utusan setelah dirinya kepada Bani Israil. Penegasan ini tertuang dalam surah Ash-Shaff ayat 6, yang menyebutkan nama “Ahmad” sebagai utusan yang akan datang membawa kebenaran.
Secara kebahasaan, nama “Ahmad” mengindikasikan sifat pengutamaan yang sangat mendalam. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa nama tersebut bermakna sosok yang paling banyak memuji Rabbnya dibandingkan siapa pun di muka bumi.
Lalu, momentum yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal. Dunia mencatat hari kelahiran sang Nabi bertepatan dengan kekalahan total pasukan gajah pimpinan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah.
Namun, hancurnya pasukan Abrahah hanyalah awal dari rangkaian fenomena ajaib yang menyelimuti hari kelahiran tersebut.
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam kitab Sirah Nabawiyah merangkum berbagai peristiwa di luar nalar manusia yang mengiringi detik-detik kelahiran Nabi.
Ibnu Sa’ad serta Imam Ahmad meriwayatkan kesaksian sang ibunda, Aminah, yang menyaksikan pancaran cahaya megah saat melahirkan. Cahaya tersebut memancar terang hingga menerangi istana-istana megah di wilayah Syam.
Imam Al-Baihaqi turut merinci fenomena alam dan sosial yang menggetarkan kekuasaan dunia saat itu. Peristiwa tersebut meliputi runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra di Persia, padamnya api sembahan kaum Majusi yang telah menyala ribuan tahun, hingga rubuhnya gereja-gereja di sekitar Buhairah.
Seluruh takdir dan tanda-tanda zaman ini akhirnya menyatu untuk menyambut kelahiran Sang Manusia Agung.
Rasulullah saw. lahir membawa rahmat bagi semesta alam, mengawali peradaban mulia yang terus menjadi teladan utama bagi umat manusia sepanjang masa. (talia)
























