Korban Penganiayaan Tak Punya Biaya Visum, Harapan Keadilan Syahril Seakan Terhenti

- Editor

Kamis, 13 Agustus 2026 - 03:07

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TribuneIndonesia.com I Batang Kuis-Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pepatah itu kini terasa begitu dekat dengan kehidupan Syahril, warga Desa Paya Gambar, Kecamatan Batang Kuis.

Syahril menjadi korban penganiayaan brutal yang diduga dilakukan sekelompok pemuda di sebuah toko buah milik Rita, Jalan Medan Batang Kuis, Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan. Tubuhnya mengalami luka dan rasa sakit yang masih dirasakan hingga kini.

di tengah keinginannya mendapatkan keadilan, Syahril justru kembali berhadapan dengan persoalan yang membuat langkahnya terasa semakin berat.

Setelah Polsek Medan Tembung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), pihak SPKT juga telah mengeluarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan Polisi dengan nomor LP/B/1088/VIII/2026/SPKT/Polsek Medan Tembung/Polrestabes Medan/Polda Sumatera Utara.

Berbekal laporan tersebut, Syahril kemudian mendatangi Rumah Sakit Haji Medan untuk menjalani visum guna melengkapi proses hukum atas penganiayaan yang dialaminya.

namun, harapan itu kembali pupus ketika sampai di meja pendaftaran.

Petugas medis menyampaikan biaya visum sebesar Rp400.000.

Syahril hanya terdiam.

Uang yang ada di sakunya ketika itu hanya Rp150.000.

Dengan tubuh yang masih terasa nyeri dan kondisi yang belum pulih akibat penganiayaan, ia tidak mampu membayar biaya yang diminta.

Baca Juga:  Berbagi Beras kepada Pengurus dan Anggota, Ketua Pewarta : Untuk Pererat Silaturahmi

“Mau visum, Bang. Tapi uang saya tidak cukup. Saya hanya punya Rp150.000,” ujar Syahril dengan suara lirih.

Setelah itu, ia berjalan meninggalkan rumah sakit. Kepalanya tertunduk. Bukan karena menyerah, tetapi karena keadaan seakan memaksanya pulang tanpa mendapatkan pemeriksaan yang sangat dibutuhkan untuk memperjuangkan kasusnya.

di satu sisi, Syahril ingin mencari keadilan atas apa yang menimpanya. di sisi lain, keterbatasan biaya membuat langkahnya terasa semakin panjang.

Bagi orang lain, Rp400.000 mungkin bukan jumlah yang besar. namun bagi Syahril yang sedang terluka dan tidak memiliki cukup uang, jumlah tersebut menjadi tembok yang sulit ditembus.

Kini ia hanya bisa berharap ada perhatian dari pemerintah dan pihak terkait agar persoalan biaya visum bagi korban tindak kekerasan tidak menjadi penghalang dalam mencari keadilan.

Sebab, ketika seseorang sudah menjadi korban, apakah ia masih harus kembali berjuang hanya karena tidak mampu membayar biaya untuk membuktikan luka yang dialaminya

Pertanyaan itulah yang kini menggantung di hati Syahril.

Ia tidak meminta belas kasihan.

Ia hanya ingin satu hal keadilan.(Ilham Gondrong)

Berita Terkait

RDPU Komisi III DPR RI Bongkar Sejumlah Kejanggalan Kematian Winda Lorenza Gowasa
KELUARGA 8 TERDAKWA KASUS DUGAAN PEMALSUAN STNK DAN MOTOR BODONG DI SIMEULUE DESAK PENEGAKAN ASAS PERSAMAAN HUKUM*
Misteri Kematian Winda Lorenza Gowasa
Tanggal yang Tak Beres di Putusan Pengadilan Negri Lubuk Pakam
Gencarkan Budaya Antikorupsi, Kejari Bitung Sambangi Kampus STBM Dua Sudara
​Bentuk Agen Perubahan, Kejari Bitung Isi Pembekalan Revolusi Mental bagi Capaska
​Sidang Praperadilan Lodewyk Pusung Ungkap Pengelolaan Dapur MBG di Manado, OC Kaligis: Dapurnya Ada dan Memenuhi Syarat
​Kajari Bitung Hadiri FGD Evaluasi Restorative Justice di Kejati Sulawesi Utara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:02

Ironi Negeri Ini — Guru Disuruh Sarjana, Tapi Dewan Bisa Cukup Lulus SMA

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:32

Memimpin Bukan Bermain Catur — Membangun Peradaban atau Menjadi Cerita Keruntuhan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:14

Peradaban Bangsa Akan Bersih dan Maju Jika Dimulai dari Indonesia Timur

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:44

Jack Ma: Seorang Guru yang Membuktikan — Bukan dengan Buku, Tapi dengan Karya

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:38

Sekolah Itu Fondasi: Di Situlah Identitas dan Masa Depan Bangsa Dibentuk

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 04:28

Perampasan Aset Koruptor: Antara Ketakutan Pemegang Kuasa dan Keadilan bagi Rakyat

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:27

Pemimpin Itu Melayani, Bukan Dilayani

Jumat, 7 Agustus 2026 - 03:04

Kekerasan Tidak Pernah Menjadi Jalan Penyelesaian Sesungguhnya

Berita Terbaru

Headline news

KINERJA PEMKAB SIMEULUE DAPAT PENGAKUAN NASIONAL TAHUN 2026

Kamis, 13 Agu 2026 - 03:37