Maluku dan Indonesia Timur — Membangun Peradaban, Tapi Dianggap Anak Tiri

- Editor

Kamis, 13 Agustus 2026 - 03:27

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bekasi/Tribuneindonesia.com

Saya akan membangun dan saya yakini: generasi Maluku dan Indonesia Timur adalah bangsa yang luar biasa, bangsa yang mampu membangun peradaban bagi diri sendiri maupun bagi bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Tetapi sungguh sangat ironis — pusat negeri ini seakan-akan melupakan semuanya itu. Bahkan para pahlawan yang lahir dari tanah ini pun seakan dilupakan, namanya dihapus dari ingatan, jasadnya dihormati sebentar tapi jiwanya diabaikan selamanya. Kamis 13 Agustus 2026

Kembalikanlah keberadaan dan harga diri bangsa Maluku! Karena bangsa Maluku adalah bangsa yang besar, yang pernah membangun peradaban, yang menjadi jembatan antar-pulau dan antar-bangsa. Di tanah ini dulu perdagangan berjalan, di laut ini dulu saudara bersalaman, di bukit ini dulu iman ditegakkan — sebelum banyak tempat lain bahkan belum dikenal.

Mari kita lihat, bukan hanya Maluku yang pernah dilupakan:

– 🇵🇭 Filipina bagian selatan — dulu terasa jauh dan terlupakan, tetapi sekarang berdiri dan maju karena diperhatikan dan dibangun
– 🇨🇳 Wilayah pedalaman Tiongkok — dulu dianggap jauh, terasing, dan tidak penting. Tetapi pemimpinnya datang, melihat, lalu membangun jalan, sekolah, dan akses. Kini mereka ikut memajukan negaranya, bukan menjadi beban
– 🇳🇴 Daerah utara Norwegia — jauh di ujung benua, dingin, dan sedikit penduduknya. Tidak diabaikan. Sekolah dibangun, internet dipasang, akses dibuka. Hasilnya? Mereka ikut berkontribusi, tidak tertinggal, dan tetap merasa bagian utuh dari negaranya
– 🇮🇩 Papua dan Nusa Tenggara — sama seperti Maluku, berada di ujung negeri, kaya sumber daya alam tetapi miskin perhatian. Sama seperti Maluku, mereka menunggu lama sekali, dan sering kali merasa tidak diinginkan

Baca Juga:  Lintasan Jalan Balai Desa Rawan Begal, Masyarakat Diminta Waspada Saat Melintas di Malam Hari

Lalu di negeri kita sendiri?
Kalau penguasa negeri ini terus memperlakukan Maluku dan Indonesia Timur seperti anak tiri — hanya diambil hasilnya, tidak dibangun hidupnya, hanya dikunjungi saat musim kampanye, lalu dilupakan lagi — maka kegagalan bangsa ini sudah ada di depan mata. Dan dampaknya sangat fatal:

❌ Rakyat tidak akan merasa memiliki negara — mereka akan merasa negara hanya menumpang di tanah mereka
❌ Pahlawan yang dulu berjuang bersatu akan terasa sia-sia pengorbanannya
❌ Kekayaan alam berlimpah diambil, tapi kemiskinan tetap tinggal di tempatnya
❌ Persatuan yang dipaksakan dari jauh akan retak dari dalam — karena tidak dibangun di atas keadilan dan kasih sayang yang nyata

Bangsa yang bijaksana tidak melupakan ujung negerinya. Bangsa yang besar tidak membedakan anak-anaknya hanya karena dia lahir di pulau yang berbeda.

Mari kita tegaskan ini dengan lantang:

Maluku dan seluruh Indonesia Timur bukan daerah tambahan, bukan daerah yang diingat saat ada masalah saja. Mereka adalah bagian dari jantung negeri ini. Kembalikanlah perhatian, kembalikanlah keadilan, kembalikanlah pembangunan yang nyata — bukan janji di atas kertas. Karena bangsa yang melupakan anak-anaknya di ujung negeri, tidak akan pernah berdiri tegak dengan kokoh di bagian tengahnya.

Jangan biarkan pahlawan-pahlawan dari tanah ini menangis dari langit. Jangan biarkan generasi muda di sana berpikir: “Apakah kami memang tidak penting bagi negeri ini?”

Mereka penting. Mereka berharga. Dan mereka berhak dibangun — sama seperti bagian mana pun di negeri ini.

Berita Terkait

Ironi Negeri Ini — Guru Disuruh Sarjana, Tapi Dewan Bisa Cukup Lulus SMA
Memimpin Bukan Bermain Catur — Membangun Peradaban atau Menjadi Cerita Keruntuhan
Peradaban Bangsa Akan Bersih dan Maju Jika Dimulai dari Indonesia Timur
Jack Ma: Seorang Guru yang Membuktikan — Bukan dengan Buku, Tapi dengan Karya
Sekolah Itu Fondasi: Di Situlah Identitas dan Masa Depan Bangsa Dibentuk
Perampasan Aset Koruptor: Antara Ketakutan Pemegang Kuasa dan Keadilan bagi Rakyat
Pemimpin Itu Melayani, Bukan Dilayani
Kekerasan Tidak Pernah Menjadi Jalan Penyelesaian Sesungguhnya
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:02

Ironi Negeri Ini — Guru Disuruh Sarjana, Tapi Dewan Bisa Cukup Lulus SMA

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:32

Memimpin Bukan Bermain Catur — Membangun Peradaban atau Menjadi Cerita Keruntuhan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:14

Peradaban Bangsa Akan Bersih dan Maju Jika Dimulai dari Indonesia Timur

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:44

Jack Ma: Seorang Guru yang Membuktikan — Bukan dengan Buku, Tapi dengan Karya

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:38

Sekolah Itu Fondasi: Di Situlah Identitas dan Masa Depan Bangsa Dibentuk

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 04:28

Perampasan Aset Koruptor: Antara Ketakutan Pemegang Kuasa dan Keadilan bagi Rakyat

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:27

Pemimpin Itu Melayani, Bukan Dilayani

Jumat, 7 Agustus 2026 - 03:04

Kekerasan Tidak Pernah Menjadi Jalan Penyelesaian Sesungguhnya

Berita Terbaru

Headline news

KINERJA PEMKAB SIMEULUE DAPAT PENGAKUAN NASIONAL TAHUN 2026

Kamis, 13 Agu 2026 - 03:37