Aceh Bukan Pengemis Negara: Tuduhan ‘Saat Lapar Minta Bantuan, Saat Kenyang Minta Merdeka’ adalah Kebodohan Sejarah

- Editor

Rabu, 7 Januari 2026 - 01:30

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

News1kabar.com — Beberapa hari terakhir, media sosial kembali diramaikan oleh pernyataan yang menyudutkan rakyat Aceh. Narasi itu berbunyi sinis dan menyakitkan: “Saat lapar minta bantuan, saat kenyang minta merdeka.” Pernyataan ini bukan sekadar keliru, tetapi juga menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman sejarah dan realitas sosial Aceh hari ini.

Secara pribadi, saya menilai siapa pun yang melontarkan pernyataan tersebut adalah mereka yang tidak pernah membuka lembaran sejarah Aceh, tidak pernah membaca dengan sungguh-sungguh, dan lebih gemar berteriak daripada berpikir. Aceh bukan wilayah yang lahir dari belas kasihan negara, melainkan bagian dari republik ini yang dibangun dengan darah, keringat, dan pengorbanan panjang.

Bukalah sejarah Aceh. Jauh sebelum republik ini berdiri, Aceh telah menjadi sebuah kerajaan besar dan berdaulat, dengan kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang disegani. Dalam masa penjajahan, Aceh adalah salah satu daerah yang paling keras dan paling lama melawan kolonialisme Belanda. Perang Aceh bukan cerita singkat, melainkan catatan panjang tentang harga mahal yang harus dibayar sebuah bangsa untuk mempertahankan martabatnya.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Aceh tidak berdiri di pinggir sejarah. Aceh menjadi salah satu daerah yang menopang republik ini di masa-masa paling kritis. Dari logistik, perlindungan wilayah, hingga dukungan politik, Aceh hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku sejarah.

Kami tidak ingin beretorika. Fakta di lapangan hari ini berbicara jauh lebih jujur daripada komentar di media sosial. Saat bencana datang, rakyat Aceh bangkit dengan tangan mereka sendiri. Kami membersihkan rumah kami sendiri, menata kampung kami sendiri, dan menguatkan sesama kami sendiri. Bantuan memang ada, dan kami tidak menafikkan itu. Namun turunlah ke lapangan, lihat dengan mata kepala sendiri, jangan hanya hidup dari “katanya”.

Baca Juga:  SOMASI: Gerakan yang Terlupakan dalam Riwayat Politik Lokal

Perlu digarisbawahi satu hal penting: tidak ada satu pun rakyat Aceh yang berharap bencana datang agar bantuan berdatangan. Tidak ada ibu yang rela rumahnya tenggelam, tidak ada ayah yang ingin sawahnya rusak, hanya demi sekotak logistik. Narasi semacam itu bukan hanya kejam, tetapi juga tidak berperikemanusiaan.

Aceh bukan satu wajah, bukan satu suku, dan bukan satu suara. Aceh adalah kumpulan bangsa kecil dengan harga diri besar. Kami hidup dengan budaya gotong royong, dengan solidaritas yang lahir bukan karena kamera, tetapi karena rasa senasib. Jiwa kami bukan jiwa pengemis, melainkan jiwa yang ditempa oleh ujian berkali-kali.

Aceh telah melewati konflik bersenjata yang panjang, tsunami yang meluluhlantakkan peradaban, gempa di wilayah tengah, banjir bandang, dan kini kembali diuji dengan banjir besar serta tanah longsor di 18 kabupaten/kota. Namun setiap kali jatuh, Aceh selalu bangkit kadang terseok, kadang berdarah, tetapi tidak pernah menyerah.

Maka, kepada mereka yang dengan mudah menuduh dari balik layar gawai: Anda salah menilai. Aceh tidak sedang meminta dikasihani, Aceh hanya sedang berjuang untuk bertahan, seperti daerah lain di negeri ini yang juga ingin hidup layak dan bermartabat.

Jika ingin berbicara tentang Aceh, belajarlah terlebih dahulu. Baca sejarahnya, pahami lukanya, dan hormati daya tahannya. Sebab Aceh tidak pernah meminta dipuja, tetapi juga tidak pantas direndahkan dengan tuduhan murahan yang lahir dari ketidaktahuan.

Oleh : Chaidir Toweren

Berita Terkait

Saling Sandera di Cipete: Ketika Hukum Jadi Alat Barter
Nekat Tulis Nama Lengkap Terduga Pelaku? Media dan Wartawan Bisa Digugat, Kebebasan Pers Bukan Kebal Hukum
Kriminalitas Jalanan Ancam Rasa Aman Warga Medan dan Deli Serdang
Dugaan Korupsi Mengemuka, Tersangka Tak Kunjung Ada: Ketua LKGSAI Saidul Angkat Bicara
Angkat Bicara, Anggota LSM KPK RI Saidul Amran: “Kalau Dugaan Penyimpangan Terus Bermunculan Tapi Tak Ada Respons, Publik Berhak Curiga Ada yang Salah”
Jadup Bukan Sulap: Jangan Politisasi Perjuangan, Beri Kesempatan Jeffry Sentana Bekerja
Negara ikut Melegalkan Korupsi melalui Metode Tender Epurchasing, Ekatalog untuk Pengadaan Barang dan Mini Kompetisi untuk pekerjaan Konstruksi.
Berita ini 135 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 00:30

Lemak Manis Serenci Kuasai Bola Kasti

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:21

300 Rumah Masuk Daftar Perbaikan

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:29

Sekolah Rakyat Membuka Jalan Baru

Kamis, 30 Juli 2026 - 23:40

Alumni WBI Didorong Perkuat Ekosistem Wirausaha

Kamis, 30 Juli 2026 - 23:01

RS Grand Medica Bidik Layanan Kesehatan Pancur Batu

Kamis, 30 Juli 2026 - 01:01

HALIME Tampil Membawa Ulos ke Panggung IFW

Rabu, 29 Juli 2026 - 23:08

Ombudsman Uji Mutu Layanan, Daerah Diminta Berbenah

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:07

Revitalisasi Hunian Pesisir Siapkan Relokasi Nelayan

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Lemak Manis Serenci Kuasai Bola Kasti

Sabtu, 1 Agu 2026 - 00:30