Tiga Tahun Tanpa Kepastian, GRPK Adukan Dugaan Pelanggaran Etik Penyidik Harda ke Propam Polresta Deli Serdang

- Editor

Senin, 14 September 2026 - 07:09

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TribuneIndonesia.com I TribuneIndonesia. Com-Gerakan Rakyat Pejuang Keadilan (GRPK) kembali mempertanyakan penanganan laporan pengaduan masyarakat (Dumas) terkait dugaan penjualan aset negara di Desa Sugiharjo, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang.

Hampir tiga tahun berjalan, Dumas yang dilaporkan sejak 6 Maret 2023 tersebut disebut belum memberikan kepastian hukum. Kondisi itu mendorong Ketua GRPK, Abdul Hadi, melaporkan dugaan pelanggaran etik terhadap penyidik dan Kanit Unit Harda Polresta Deli Serdang ke Unit Propam Polresta Deli Serdang.

Senin (14/9/2026), Abdul Hadi menjalani pemeriksaan sebagai pelapor di ruang Paminal Unit Propam Polresta Deli Serdang. Pemeriksaan berlangsung sekitar tiga jam dan dilakukan oleh Reza selaku penyidik.

Dalam pemeriksaan tersebut, Abdul Hadi memaparkan kronologi penanganan Dumas serta sejumlah persoalan yang menurut GRPK menunjukkan adanya dugaan ketidakprofesionalan dalam proses penanganan perkara.

Dumas tersebut berkaitan dengan dugaan penjualan aset negara di Desa Sugiharjo. Dalam laporan yang dikawal GRPK, terdapat empat nama yang disebut, yakni Avro Wibowo SSTP, mantan Camat Batang Kuis; Junaedi SE MSi, mantan Sekretaris Camat Batang Kuis yang kini menjabat Camat Pagar Merbau; Burhanuddin, mantan Kepala Desa Sugiharjo; serta Irwansyah Putra, warga Desa Sugiharjo.

Abdul Hadi menilai lamanya penanganan laporan tanpa kejelasan perkembangan perkara perlu mendapat perhatian serius dari institusi kepolisian.

Menurutnya, GRPK memilih membawa persoalan tersebut ke Unit Propam agar dugaan pelanggaran prosedur maupun etik dalam proses penanganan Dumas dapat diperiksa secara objektif.

Sementara itu, Wakil Kepala Divisi Investigasi GRPK, Muller Dolok Saribu, menyoroti keberadaan sejumlah akta camat yang diterbitkan pihak Kecamatan Batang Kuis terkait kawasan eks-HGU.

Muller menduga penerbitan dokumen tersebut tidak memiliki dasar yang jelas dan berpotensi menimbulkan persoalan hukum serta kerugian terhadap negara.

Sorotan GRPK juga tertuju pada pernyataan Junaedi SE MSi pada Januari 2026. Saat itu, menurut GRPK, Junaedi pernah menyampaikan kepada sejumlah awak media bahwa surat camat terkait kawasan tersebut telah dibatalkan.

Baca Juga:  Didukung Kemensos RI, Simeulue Kuatkan Ketangguhan Masyarakat Lewat KSB dan TAGANA Masuk Sekolah

namun, ketika tim GRPK melakukan konfirmasi ke Kantor Camat Batang Kuis, keterangan tersebut disebut tidak menemukan dukungan arsip administrasi.

Kasi Pembangunan Kecamatan Batang Kuis, Yudi, menurut GRPK, tidak dapat menunjukkan arsip terkait pembatalan surat sebagaimana pernyataan Junaedi.

Perbedaan antara pernyataan dan dokumen administrasi tersebut kemudian menjadi salah satu hal yang dipertanyakan GRPK.

Kalau memang surat tersebut sudah dibatalkan, tentu harus ada arsip atau dokumen administrasi yang membuktikan pembatalannya. Karena ketika kami melakukan konfirmasi, arsip itu tidak ditemukan,” ujar Muller.

GRPK menilai persoalan tersebut perlu ditelusuri secara menyeluruh, termasuk memastikan legalitas dokumen, kewenangan penerbitannya, serta status aset yang menjadi objek persoalan.

Abdul Hadi berharap laporan yang kini disampaikan kepada Unit Propam dapat menjadi pintu masuk untuk menguji dugaan ketidakprofesionalan dalam penanganan Dumas tersebut.

Ia juga meminta agar perkara yang telah berjalan hampir tiga tahun itu segera memperoleh kepastian melalui mekanisme hukum yang transparan, termasuk apabila diperlukan dilakukan gelar perkara untuk menentukan arah penanganannya.

Kami berharap dengan laporan ke Unit Propam ini, persoalan Dumas yang sudah hampir tiga tahun tanpa progres dan kepastian hukum dapat segera mendapat kejelasan. Jika ada dugaan pelanggaran etik maupun ketidakprofesionalan dalam penanganannya, kami meminta agar diperiksa secara objektif,” kata Abdul Hadi.

GRPK juga membantah akan berhenti mengawal perkara tersebut. Menurut Abdul Hadi, pihaknya akan terus mengawasi proses penanganan laporan hingga terdapat kepastian hukum.

Kami akan terus mengawal kasus ini. yang kami dorong adalah kepastian hukum dan penegakan hukum yang adil. Jika memang ditemukan pelanggaran, siapa pun yang terlibat harus mempertanggungjawabkannya sesuai ketentuan hukum,” tegasnya.

(TribuneIndonesia)

Berita Terkait

Diduga Catut Nama Anak Sebagai Anak Didik TK Swasta Telege Cerek di Aceh Tengah Disorot
RSUD Raja Ampat Jadi Lokasi Studi Tiru RSUD Oksibil, Dari Papua Pegunungan Belajar ke Papua Laut
Kajari Simeulue Terima Tahap II, 5 Tersangka Korupsi Jalan Simpang Air Dingin-Labuhan Bajau Rp7,6 Miliar Resmi Ditahan
Pangdam IX/Udayana Kerahkan Jajaran Tangani Dampak Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Bali
Polemik Dokter Spesialis Anak di Raja Ampat Berujung Baik, Direktur RSUD Tekankan Profesionalitas dan Kepentingan Masyarakat
PENCURIAN TOWER XL DI TUALANG BARO TERULANG! WARGA RESAH, DIDUGA KOMPlotan PENCURI BERKELIARAN DI TENGAH MALAM
Cak Imin Sentil Kader PKB: Jangan Terlena Kekuasaan, Kuasai Media Sosial dan Hadir untuk Rakyat
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 05:55

Sabu Diblender dan Ganja Dibakar, Kejari Bireuen Musnahkan Barang Bukti 28 Perkara

Rabu, 4 November 2026 - 04:48

Kapolres Bireuen Ajak Masyarakat Kecamatan Juli Bersatu Berantas Narkotika

Rabu, 4 November 2026 - 03:40

Satlantas Polres Bireuen Tanamkan Budaya Tertib Berlalu Lintas di SMKN 1 Peusangan

Rabu, 4 November 2026 - 03:21

Respons Cepat Kecelakaan di Bekasi, Jasa Raharja Pastikan Seluruh Korban Terjamin Santunan

Rabu, 4 November 2026 - 02:35

Diduga Catut Nama Anak Sebagai Anak Didik TK Swasta Telege Cerek di Aceh Tengah Disorot

Rabu, 4 November 2026 - 00:31

Berpolitik Serius, Ikutan atau Sekadar Latah?

Selasa, 3 November 2026 - 23:38

Kajari Simeulue Terima Tahap II, 5 Tersangka Korupsi Jalan Simpang Air Dingin-Labuhan Bajau Rp7,6 Miliar Resmi Ditahan

Selasa, 3 November 2026 - 19:10

Dinas Sosial Langsa Turun Langsung, Berikan Perhatian dan Bantuan kepada Ibu Nur Asiah

Berita Terbaru