Program Makan Bergizi Gratis: Investasi Masa Depan atau Sekadar Proyek Populis?

- Editor

Kamis, 12 Maret 2026 - 04:26

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TribuneIndonesia.com Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sejak awal peluncurannya langsung menjadi sorotan publik. Program yang diklaim bertujuan memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia ini disebut sebagai investasi sumber daya manusia untuk masa depan.

Namun di sisi lain, tidak sedikit kalangan akademisi, pengamat ekonomi, hingga aktivis mahasiswa yang mempertanyakan efektivitas dan arah kebijakan tersebut.

Salah satu kritik datang dari pengamat ekonomi Prof. Ferry Latuhihin yang menilai program MBG perlu dikaji secara serius dari perspektif ekonomi pembangunan. Menurutnya, investasi negara seharusnya diarahkan pada sektor yang memberikan dampak jangka panjang yang jelas dan terukur.

Ia mencontohkan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, peningkatan kualitas pendidikan, serta kesejahteraan guru dan dosen sebagai bentuk investasi nyata bagi kemajuan bangsa.

Dalam pandangannya, program yang menghabiskan anggaran negara dalam jumlah besar namun tidak memiliki nilai tambah ekonomi yang jelas berpotensi menjadi beban fiskal di masa depan.

Kritik tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: apakah program makan gratis benar-benar merupakan investasi strategis, atau justru hanya kebijakan populis yang menguras anggaran negara tanpa hasil yang signifikan?

Kritik yang lebih keras datang dari kalangan mahasiswa. Sejumlah aktivis mahasiswa, termasuk Presiden Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), bahkan menyebut program tersebut sebagai kebijakan yang menyimpang dari tujuan awalnya.

Mereka menilai, secara konseptual MBG memang dirancang untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah, namun implementasinya di lapangan dinilai belum mencerminkan standar gizi yang layak.

Baca Juga:  MBG di Aceh Tenggara Serap 3.000 Tenaga Kerja, Khairul Abdi: Bukan Sekadar Gizi, Tapi Penggerak Ekonomi Rakyat

Di berbagai daerah, laporan masyarakat menunjukkan menu yang disajikan dalam program tersebut masih jauh dari standar makanan bergizi seimbang. Kondisi ini menimbulkan skeptisisme publik karena tujuan besar program yakni memperbaiki kualitas gizi generasi muda dikhawatirkan tidak tercapai secara optimal.

Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah aspek tata kelola anggaran. Program berskala nasional seperti MBG membutuhkan pengawasan yang ketat agar tidak membuka celah penyimpangan. Tanpa sistem pengawasan yang transparan dan akuntabel, program sosial yang bernilai triliunan rupiah berpotensi menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Di sisi lain, pemerintah tetap memiliki argumentasi kuat bahwa perbaikan gizi merupakan fondasi penting bagi pembangunan manusia. Negara-negara maju pun menjadikan program nutrisi anak sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang. Namun perbedaannya terletak pada kualitas pelaksanaan, pengawasan, serta ketepatan sasaran.

Karena itu, perdebatan mengenai program MBG seharusnya tidak berhenti pada dukungan atau penolakan semata. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap rupiah anggaran negara benar-benar menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama bagi anak-anak yang menjadi target utama program ini.

Jika memang bertujuan membangun generasi yang sehat dan cerdas, maka kualitas gizi, transparansi anggaran, serta efektivitas program harus menjadi prioritas utama. Tanpa itu semua, program yang dimaksudkan sebagai investasi masa depan bisa saja berubah menjadi kebijakan mahal yang tidak memberikan dampak signifikan bagi pembangunan bangsa.

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Mengemuka, Tersangka Tak Kunjung Ada: Ketua LKGSAI Saidul Angkat Bicara
Angkat Bicara, Anggota LSM KPK RI Saidul Amran: “Kalau Dugaan Penyimpangan Terus Bermunculan Tapi Tak Ada Respons, Publik Berhak Curiga Ada yang Salah”
Jadup Bukan Sulap: Jangan Politisasi Perjuangan, Beri Kesempatan Jeffry Sentana Bekerja
Negara ikut Melegalkan Korupsi melalui Metode Tender Epurchasing, Ekatalog untuk Pengadaan Barang dan Mini Kompetisi untuk pekerjaan Konstruksi.
 HIDUP KITA DITENTUKAN OLEH PERKATAAN TUHAN, BUKAN OLEH PERKATAAN MANUSIA 
Lebih Baik Seperti Anjing Gila daripada Seperti Anjing Mati
Arief Martha Rahadyan: Demokrasi Sehat Bertumpu pada Pers yang Berintegritas
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:39

​AKBP Albert Zai Turun Lapangan, Semarak Kapolres Cup Bitung Makin Sengit

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:41

Kilas Balik Sejarah: Mengapa 1 Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Islam?

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:07

Tampil Produktif, Penyerang RR FC Daniel Hendatu Raih Top Scorer Youth Kampis Cup 2026

Selasa, 16 Juni 2026 - 03:39

​Lewat Ucapan Selamat 1 Muharram, Pemkot Bitung Gaungkan Jargon “Hijrah untuk Berbenah”

Selasa, 16 Juni 2026 - 01:23

​Hujan Lebat Picu Bencana di Sejumlah Kelurahan, Plt Kalakas BPBD Bitung Turun Lapangan

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:54

​Borong Penghargaan di HKG ke-54 Sulut, TP-PKK Kota Bitung Ukir Prestasi Gemilang

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:29

Khidmat dan Syahdu, Ratusan Jemaah Masjid Al Muttaqien Bitung Sambut Tahun Baru 1 Muharram 1448 H

Senin, 15 Juni 2026 - 13:17

Peringati 1 Muharram 1448 H,Wabup Bireuen Ajak Masyarakat Jadikan Hijrah Momentum Muhasabah Diri

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Deli Serdang Sukses Dukung Pembukaan MTQ Sumut 2026 di Astaka Pancing

Selasa, 16 Jun 2026 - 13:28