Lebih Baik Seperti Anjing Gila daripada Seperti Anjing Mati

- Editor

Rabu, 13 Mei 2026 - 13:01

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TribuneIndonesia.com — Negeri ini sedang sakit. Bukan karena rakyatnya bodoh, tetapi karena terlalu banyak orang memilih diam. Diam melihat korupsi. Diam melihat kebohongan. Diam melihat rakyat dipermainkan setiap musim janji politik datang.

Yang lebih lucu, di negeri ini orang yang bersuara lantang justru dianggap berbahaya. Wartawan kritis dicap provokator. Aktivis disebut pengganggu stabilitas. Mahasiswa yang turun ke jalan dituduh ditunggangi. Sementara penjilat kekuasaan diberi tempat terhormat, duduk nyaman sambil menikmati sisa-sisa penderitaan rakyat.

Maka jangan heran bila hari ini lebih baik disebut “anjing gila” daripada menjadi “anjing mati”.

Anjing gila setidaknya masih menggonggong ketika ada maling masuk rumah. Masih berani menggigit ketika tuannya disakiti. Masih membuat gaduh karena ada ancaman.
Sedangkan anjing mati? Diam. Busuk. Tidak berguna. Bahkan lalat pun lebih menghargainya daripada manusia. Begitulah gambaran sebagian elite hari ini. Mulut manis di depan rakyat, tetapi tuli terhadap jeritan masyarakat. Mereka datang saat kampanye membawa senyum dan janji surga, lalu menghilang setelah duduk di kursi empuk kekuasaan.

Rakyat disuruh sabar. Rakyat disuruh mengerti keadaan. Rakyat diminta percaya proses.
Tetapi pejabat tidak pernah sabar soal proyek. Tidak pernah sabar soal pencitraan. Tidak pernah sabar soal memperkaya kelompoknya.
Jalan rusak dibiarkan sampai memakan korban. Bansos dijadikan alat politik. Anggaran rakyat habis untuk seremoni dan tepuk tangan.
Lalu ketika ada yang mengkritik, mereka sibuk berkata: “Jangan provokasi masyarakat.” “Jangan memperkeruh suasana.”
Padahal yang memperkeruh negeri ini bukan kritik, tetapi kebohongan yang dipelihara bertahun-tahun.

Baca Juga:  Berjalan Dengan Baik Kah? ASN Bekerja 3 Hari, Imbas Efisiensi Anggaran

Kritik hari ini dianggap musuh karena terlalu banyak penguasa ingin dipuji seperti raja. Mereka lupa, jabatan itu bukan warisan nenek moyang. Itu titipan rakyat. Dan rakyat berhak marah ketika titipan itu dipakai untuk kesombongan.

Yang paling berbahaya bukan pemerintah yang salah. Tetapi masyarakat yang takut melawan kesalahan.

Karena penguasa zalim tidak lahir sendirian. Mereka tumbuh dari rakyat yang diam, birokrat yang pengecut, dan intelektual yang menjual otaknya demi jabatan.

Hari ini banyak orang memilih menjadi anjing mati: aman, diam, tidak ribut, asal dapat sisa tulang kekuasaan.

Padahal negeri ini justru membutuhkan lebih banyak “anjing gila” orang-orang yang berani menggonggong ketika melihat ketidakadilan, berani melawan saat rakyat diinjak, dan berani membuat penguasa tidak tidur nyenyak karena kritik.

Sebab sejarah membuktikan Kekuasaan paling takut bukan pada senjata. Tetapi pada rakyat yang sudah tidak takut lagi. Maka istilah lebih baik menjadi anjing gila dari pada anjing mati kayak kita hidup kan lagi.

Penulis: Chaidir Toweren

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Mengemuka, Tersangka Tak Kunjung Ada: Ketua LKGSAI Saidul Angkat Bicara
Angkat Bicara, Anggota LSM KPK RI Saidul Amran: “Kalau Dugaan Penyimpangan Terus Bermunculan Tapi Tak Ada Respons, Publik Berhak Curiga Ada yang Salah”
Jadup Bukan Sulap: Jangan Politisasi Perjuangan, Beri Kesempatan Jeffry Sentana Bekerja
Negara ikut Melegalkan Korupsi melalui Metode Tender Epurchasing, Ekatalog untuk Pengadaan Barang dan Mini Kompetisi untuk pekerjaan Konstruksi.
 HIDUP KITA DITENTUKAN OLEH PERKATAAN TUHAN, BUKAN OLEH PERKATAAN MANUSIA 
Arief Martha Rahadyan: Demokrasi Sehat Bertumpu pada Pers yang Berintegritas
semua perjuangan itu tidak sia-sia. “Detik yang Tak Terbeli : Ketika Nama Kita Dipanggil sebagai Pemenang”
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:37

Blackout Sumbagut Picu Desakan Kompensasi Massal dan Evaluasi Total Tata Kelola PLN

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:32

Tragis ! Satu Balita Tewas, Satu Kritis, Kapolsek Hutagaol Turun Langsung ke Lokasi

Selasa, 19 Mei 2026 - 08:03

ASITA Bali Gelar ‘Ball Tourism Run 2026’ di Jatiluwih Juni Mendatang

Sabtu, 16 Mei 2026 - 06:04

Misteri Kematian Pria Diduga ODGJ di Sergai, Ditemukan Telungkup di Depan Rumah Kosong

Minggu, 10 Mei 2026 - 23:53

Mobil Dibakar Saat Subuh, Pengusaha Karet di Simalungun Diteror: “Kami Hampir Mati Terpanggang

Sabtu, 18 April 2026 - 13:37

Percikan Api di Teras Rumah Picu Kebakaran Hebat di Perbaungan, Dua Unit Hangus, Kerugian Ditaksir Rp500 Juta

Sabtu, 4 April 2026 - 02:08

ITDC Tingkatkan Standar Keamanan Kawasan Wisata melalui Dukungan Sarana Patroli Perairan

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:21

Puting Beliung Terjang Batang Kuis Tengah Malam, 121 Rumah Rusak dan Warga Terluka

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Deli Serdang Tembus Target KB Nasional, Perkuat Fondasi Keluarga Berkualitas

Sabtu, 27 Jun 2026 - 15:13

Pemerintahan dan Berita Daerah

Asri Ludin Dorong Budaya Batak Toba Menjadi Karakter Generasi Digital

Sabtu, 27 Jun 2026 - 11:51

Pemerintahan dan Berita Daerah

Warisan Melayu Deli Serdang Diperkuat, Telangkai Jadi Penjaga Identitas Buday

Sabtu, 27 Jun 2026 - 11:32