Prof. Dr. H. Sumaryoto;Menimbang Kembali Sistem Pemilihan Langsung Demi Demokrasi Indonesia yang Lebih Baik

- Editor

Senin, 20 April 2026 - 15:12

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta/Tribuneindonesia.com

Rektor Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), Prof. Dr. H. Sumaryoto, menyampaikan pandangan kritisnya mengenai sistem pemilihan rakyat secara langsung di Indonesia. Ia menilai bahwa sistem tersebut keliru dan berpendapat bahwa pemilihan tidak langsung, yang dilakukan oleh wakil rakyat terpilih, justru merupakan wujud demokrasi yang lebih sesuai serta menguntungkan bagi kondisi Indonesia. Pernyataan ini disampaikannya ketika ditemui di kampus UNINDRA Jalan Nangka Raya, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Senin 20 April 2026

Demokrasi Melalui Mekanisme Perwakilan yang Otentik

Prof. Sumaryoto menjelaskan bahwa esensi demokrasi sesungguhnya sudah terwujud melalui mekanisme perwakilan. Setiap partai politik, sesuai aturan, menempatkan wakil-wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia menyebut DPR dan DPRD sebagai faksi-faksi atau kelompok yang mewakili partai, di mana nantinya akan ada faksi terbesar, faksi terkecil, dan faksi yang bergabung.

Menurutnya, inilah wujud dari demokrasi yang sesungguhnya, bukan berarti “disembelih” atau “dipotong”. Sistem ini dinilai menguntungkan negara, khususnya mengingat pengalaman sejak reformasi di mana pemilihan langsung seringkali melibatkan banyak pejabat yang kemudian terjerat korupsi. Money politics, tegasnya, justru banyak terjadi dalam pemilihan langsung.

Mengurangi Risiko Politik Uang dan Menjamin Representasi Berkualitas

Prof. Sumaryoto menyoroti bahwa dalam pemilihan langsung, praktik politik uang kerap memanfaatkan “grassroots” atau rakyat yang tidak mengerti apa-apa, yang kemudian ditawari uang untuk memilih calon tertentu.

Berbeda halnya jika terjadi politik uang di lingkup DPRD, ia meyakini skalanya tidak akan sebesar jika pemilihan dilakukan secara langsung oleh publik. Lebih lanjut, karena yang memilih adalah anggota DPRD, dimungkinkan untuk mendapatkan pilihan pemimpin yang lebih representatif dari sisi pendidikan dan kompetensi. Hal ini karena mereka memilih dari kalangan orang-orang terpilih, yaitu wakil-wakil rakyat di dalam keanggotaan DPR dan DPRD.

Baca Juga:  Kyai Beling: Polisi Harus Tegak Lurus pada Hukum

Tantangan Tingkat Pendidikan dan Dampak Biaya Politik Tinggi

Prof. Sumaryoto menyentil realitas bahwa di Indonesia, dengan tingkat pendidikan yang masih rendah, praktik politik uang menjadi marak dalam pemilihan langsung. Ia mengilustrasikan dengan pertanyaan, “Sekarang bisa dibayangkan tukang becak disuruh pilih siapa bupatinya? Kan tidak jelas, dia kenal juga tidak. Justru nanti dimanfaatkan ‘ini saya kasih ini nanti kamu pilih ini loh’.” Dampaknya, begitu terpilih, para pejabat cenderung berpikir bagaimana mengembalikan uang yang telah dikeluarkan, sebuah fenomena yang terjadi sejak reformasi.

Ia mencontohkan, seorang bupati yang mengeluarkan miliaran rupiah untuk kampanye, padahal gajinya tidak sebanding. “Katakanlah keluar 50 milyar, kapan kembali? Apalagi uang pinjaman, nah itu masalahnya,” ujarnya, menambahkan bahwa hal itu bisa ditelusuri langsung dengan orang yang bersangkutan. Menurutnya, politisi harus sadar bahwa jika langsung, mereka “mendapatkan pekerjaan”, tetapi jika tidak langsung di DPRD, ruang lingkupnya dipersempit.

Keunikan Indonesia Menuntut Sistem Perwakilan yang Lebih Tepat

Prof. Sumaryoto juga menegaskan bahwa Indonesia tidak dapat dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand atau Amerika Serikat. Bangsa Indonesia, menurutnya, lebih majemuk, heterogen, dan memiliki penyebaran geografis yang luas, dengan banyak daerah terpencil seperti di pinggiran Pulau Kalimantan. Luas wilayah Indonesia yang membentang dari London hingga Moskow jika di Eropa, menjadikannya unik.

“Makanya tidak bisa kita banding-bandingkan orang Indonesia dengan orang lain. Selain banyak bersuku-suku, banyak pulau dan juga menyebar. Itulah salah satu makanya lebih tepat kita menggunakan perwakilan. Seperti itu risikonya lebih kecil, masalah ruang korupsinya lebih kecil,” pungkasnya kepada media.

Berita Terkait

HRD Dukung Terobosan Presiden Prabowo Hadirkan Infrastruktur Dasar bagi Masyarakat
HUT ke-81 RI, TKN Kompas Nusantara dan KAMADA LMP Sumut Gelar Hiburan Rakyat
21 Tahun MoU Helsinki, Ketua PC IPNU Bireuen Kritik Pemerintah Pusat: Jangan Abaikan Kesepakatan Damai Aceh
Peringati 21 Tahun MoU Helsinki, Kecamatan Jangka Gelar Zikir dan Doa Bersama
Arief Martha Rahadyan dan Harapan Generasi Muda: Dukungan Ujang Supriatin untuk Indonesia yang Lebih Produktif
GMNI Aceh Tengah Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Kebakaran Jagong Jeget
Camat dan Forum Reje Lut Tawar Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Jagong Jeget
Dikira Embun, Ternyata Debu Selimuti Jalan Lintas Kutacane-Medan ‎
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:14

Perkuat Sinergi Syariah, Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp400 Juta Melalui Baitul Mal Simeulue

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:38

Dari Pinang Tak Produktif Menjadi Kebun Manfaat, SMA Negeri 1 Badar Sulap Halaman Sekolah Jadi Aset Pendidikan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 07:41

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju Simeulue Hebat, Indonesia Kuat

Kamis, 13 Agustus 2026 - 07:27

​Tekan Angka TBC, Pemkot Bitung Gencarkan Gerakan Terintegrasi “Ketuk Pintu” Hingga ke Rumah Warga

Kamis, 13 Agustus 2026 - 04:09

Desa Kute Buluh Juara Evaluasi Desa Cantik Aceh Tenggara, Pengelolaan Data Jadi Fondasi Pembangunan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 03:37

KINERJA PEMKAB SIMEULUE DAPAT PENGAKUAN NASIONAL TAHUN 2026

Kamis, 13 Agustus 2026 - 00:59

Selamat Jalan Kak, Semoga Husnul Khatimah

Kamis, 13 Agustus 2026 - 00:00

Satuan Lantas Polres Simeulue Semarakkan HUT RI ke 81 Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih di Jalan Raya

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

45 Paskibraka dan Amanah Merah Putih

Jumat, 14 Agu 2026 - 16:35

Feature dan Opini

Transisi Energi: Yang Listrik Silakan, Yang Minyak Tetap Berjalan

Jumat, 14 Agu 2026 - 16:18