Bitung | Tribuneindonesia.com –Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Duasudara Kota Bitung kembali menunjukkan komitmennya dalam merespons keresahan masyarakat, Senin (20/4/26).
Tim dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini kembali mendatangi Lingkungan I, Kelurahan Madidir Ure, Kecamatan Madidir, guna mendalami fenomena alam berupa bunyi gemuruh dan getaran misterius.
Langkah proaktif ini diambil untuk menindaklanjuti laporan warga yang mulai merasa terganggu dengan aktivitas bawah tanah yang tidak biasa tersebut.
Di bawah instruksi langsung Direktur Utama Alfred Salindeho, jajaran teknis Perumda Duasudara turun ke lapangan guna mencari titik terang atas peristiwa yang telah berlangsung selama hampir tiga pekan terakhir.
Ketegangan di tengah masyarakat memang sempat meningkat seiring dengan durasi fenomena yang cukup lama.
Warga setempat mengkhawatirkan adanya potensi bahaya laten, mengingat intensitas bunyi gemuruh yang kerap muncul bersamaan dengan getaran mekanis di area pemukiman mereka.
Kehadiran tim Perumda Duasudara kali ini merupakan kunjungan resmi kedua di lokasi yang sama.
Namun, untuk memastikan hasil penyelidikan yang akurat dan berbasis data ilmiah, pihak manajemen memutuskan untuk melibatkan unsur akademisi guna melakukan pemeriksaan secara komprehensif.
Direktur Utama Perumda Air Minum Duasudara, Alfred Salindeho, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
Para ahli dari kampus tersebut dijadwalkan akan segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan audit teknis terhadap struktur tanah maupun infrastruktur bawah tanah.
”Tim teknis atau tenaga ahli dari Unsrat Manado akan datang melakukan pengecekan menggunakan alat potret ke kedalaman 100 meter agar semuanya menjadi jelas,”
ujar Alfred Salindeho saat dikonfirmasi di lokasi kegiatan, dilansir dari Tribun Manado.com.id, Senin (20/4).
Langkah pelibatan tim ahli ini dirasa krusial mengingat berkembangnya berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Salah satu asumsi yang paling kuat beredar adalah dugaan bahwa getaran dan bunyi tersebut bersumber dari aktivitas pipa air milik Perumda yang tertanam di wilayah tersebut.
Menanggapi hal itu, Alfred menilai sah-sah saja jika warga melontarkan asumsi tersebut sebagai bentuk kewaspadaan.
Namun, secara teknis, dirinya memberikan catatan kritis terkait perbandingan infrastruktur air yang ada di seluruh wilayah Kota Bitung.
Alfred mempertanyakan mengapa fenomena getaran dan bunyi gemuruh ini hanya terjadi secara spesifik di satu titik saja.
Padahal, jaringan pipa air milik Perumda tersebar merata di seluruh penjuru kota dengan volume yang jauh lebih besar dibandingkan pipa yang ada di Madidir Ure.
”Di lokasi tersebut sudah kami cek, hanya ada tiga pipa berukuran kecil. Sementara di titik-titik lainnya di Kota Bitung, kami memiliki instalasi pipa dengan volume yang jauh lebih besar namun tidak menimbulkan gejala serupa,”
jelasnya secara rinci.
Hingga saat ini, tim internal juga telah melakukan uji coba teknis berupa prosedur buka-tutup aliran air pada pipa di wilayah tersebut.
Hasilnya, meski terdapat getaran saat air dialirkan, Alfred menegaskan bahwa hal tersebut merupakan fenomena mekanis yang normal dalam distribusi air.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya pembuktian melalui alat canggih agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi yang dapat memicu kepanikan lebih lanjut.
“Pipa secara mandiri tidak mungkin mengeluarkan suara gemuruh seperti itu. Maka dari itu, harus dicek dan dipastikan penyebabnya supaya tidak membingungkan warga,”
pungkasnya. (kiti)


















