
TRIBUNEINDONESIA. Aceh Utara – Pembangunan Koperasi Merah Putih di Desa Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, menuai sorotan warga setempat. Proyek yang diharapkan jadi penunjang perekonomian warga ini terlihat terbengkalai dan berjalan lambat.
Kondisi bangunan koperasi belum menunjukkan progres signifikan. Material bangunan tidak tertata rapi, dan aktivitas pekerja jarang terlihat. Tidak ada papan informasi proyek di lokasi, memicu pertanyaan warga tentang sumber anggaran, nilai proyek, dan jangka waktu pelaksanaan.
“Seharusnya ada papan proyek, supaya kami tahu ini anggarannya dari mana, berapa besar, dan kapan selesai. Ini sama sekali tidak ada,” ujar salah satu warga.

Anggaran pembangunan Koperasi Merah Putih disebut-sebut sekitar Rp1,5 miliar. Warga khawatir tanpa pengawasan ketat, proyek ini akan terhambat dan berpotensi terjadi mark up anggaran.
Kontraktor pelaksana proyek dinilai lamban. Warga berharap pihak terkait segera evaluasi proyek ini dan lakukan transparansi agar Koperasi Merah Putih bisa segera selesai dan dimanfaatkan masyarakat.
“Jangan sampai bangunan ini terbengkalai dan tidak bisa digunakan. Ini untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk dibiarkan,” kata warga.
Warga juga mempertanyakan pekerjaan kontraktor yang hanya melakukan pengecoran manual tanpa mesin Moller dan hanya terlihat 4-5 pekerja. Kontraktor juga belum bayar sewa Moller milik Masjid Nurussalam Desa Ulee Rubek Timu.
Saat dikonfirmasi oleh wartawan, oknum pelaksana Koperasi Merah Putih dengan nada arogan mengatakan, “Kami sudah membayarkan semua, termasuk Moller. Saya cuma sebagai pelaksana, ini perintah dari Kodim. Jadi kalau nulis berita, jangan asal-asalan. Apa sanggup kamu pertanggungjawabkan itu?” katanya kepada wartawan via WA (+62 895-3910-89949).
Laporan Reporter Saipul Ismail SF Jurnalis Aceh














