BEKASI/Tribuneindonesia.com
Janganlah kita menjadi pemimpin yang munafik. Janganlah menjadi pemimpin yang ambisius tanpa melihat konsep dan jalan bangsa dengan baik. Peradaban bangsa itu tidak dibangun dengan ambisi semata. Dan peradaban bangsa itu juga tidak dibangun hanya karena ada orang-orang yang duduk di kursi dewan, di lembaga-lembaga negara. Sabtu 15 Agustus 2026
Almarhum Abdurrahman Wahid, atau yang dikenal sebagai Gus Dur, pernah berkata dengan jujur dan tajam: “Kita tidak akan pernah menjadi bangsa besar kalau kita tidak menghormati dan mensejahterakan guru. Orang bisa duduk di kursi mana pun, bisa berpidato seindah apa pun — tetapi kalau guru masih menderita, semua itu hanyalah sandiwara.”
Peradaban bangsa dibangun karena adanya senjata yang paling besar dan paling kuat — yaitu guru. Merekalah kehidupan terakhir bagi bangsa dan negeri ini. Kita tidak bisa memungkiri — itulah fakta yang berdiri sendiri. Jika negeri ini tidak membangun kesejahteraan guru, jika tidak memberikan gaji yang besar dan layak, maka janganlah berharap disebut bangsa yang berperadaban. Itu keputusan yang mutlak, tidak bisa digugat, dan tidak bisa ditawar.
Janganlah berbicara dengan kata-kata yang kosong. Janganlah dikatakan bahwa eksekutif, legislatif, dan yudikatif sudah bekerja keras lalu kelelahan — kelelahan mereka tidak ada bandingannya dengan kelelahan sang guru. Guru adalah pahlawan yang menyinari bukan hanya satu bangsa, melainkan seluruh dunia.
Lihatlah Israel — negeri yang kecil, tetapi peradabannya diakui dunia. Di sana guru dihormati, disejahterakan, dan ditempatkan di posisi terhormat. Lihatlah China — negeri yang luasnya jauh melebihi Indonesia, tetapi mereka tahu fondasi kemajuan ada di tangan pendidik. Lihatlah Hongkong — yang dahulu dijajah, kini berdiri luar biasa karena mereka membangun kesejahteraan pengajar terlebih dahulu.
Kita tidak meniru mereka, tetapi kita belajar dari kebenaran mereka. Itulah pemimpin yang luar biasa — yang menciptakan peradaban bagi bangsanya, sehingga bangsanya maju dan sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia. Dan pemimpin yang demikian tahu: bahwa kemajuan tidak lahir dari gedung-gedung mewah atau janji-janji indah — kemajuan lahir dari kelas-kelas, lahir dari guru yang sejahtera, lahir dari generasi yang dididik dengan baik.
Maka jangan menutup mata. Kesejahteraan guru adalah jalan tunggal menuju peradaban. Dan itu mutlak — tidak bisa ditunda, tidak bisa ditawar, tidak bisa diabaikan lagi.


















