Dapur MBG dan Peta yang Belum Tuntas

- Editor

Jumat, 14 Agustus 2026 - 03:57

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TribuneIndonesia.com I Deli Serdang-Laju distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah ini tengah diuji oleh persoalan jarak, kapasitas dapur, dan ketepatan sasaran. di balik ribuan porsi makanan yang setiap hari dikirim, masih ada pertanyaan tentang apakah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah ditempatkan berdasarkan kebutuhan penerima manfaat atau tumbuh tanpa peta yang seragam.

Pertanyaan itu muncul dalam rapat koordinasi penyelenggaraan MBG yang diikuti Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono melalui Zoom Meeting pada Kamis, 13 Agustus 2026. Dari Ruang Rapat Lantai II Kantor Bupati, Lom Lom Suwondo menyoroti persoalan yang selama ini kerap luput dari laporan serapan.bagaimana makanan bergerak dari dapur menuju penerima manfaat.

Bagi Tito, MBG adalah program prioritas nasional. Negara, kata dia, membutuhkan sumber daya manusia yang sehat, terampil, dan terlatih. namun di lapangan, ukuran keberhasilan program tidak berhenti pada jumlah makanan yang keluar dari dapur. Sudaryono mengingatkan aspek keamanan pangan dan kelayakan dapur SPPG justru menentukan apakah program itu memberi manfaat atau menghadirkan persoalan baru.di sinilah persoalan distribusi mulai terlihat.

Lom Lom meminta sebaran dapur MBG ditata dengan memperhitungkan jumlah penerima manfaat dan karakter wilayah. Dapur yang terlalu dekat dengan titik penerima dapat mengurangi waktu tempuh. Sebaliknya, dapur dengan cakupan terlalu luas berisiko membuat makanan tiba lebih lambat. Selisih jarak dalam distribusi makanan siap santap bukan perkara kecil. Waktu tempuh ikut menentukan kualitas makanan ketika sampai di tangan penerima.

Ia mengusulkan pemetaan menggunakan titik koordinat. Cara ini memungkinkan lokasi dapur SPPG dibandingkan dengan sekolah dan kelompok penerima manfaat secara lebih terukur. dari sana dapat terlihat wilayah yang sudah terlayani, wilayah dengan cakupan berlebih, serta kawasan yang masih memiliki kekosongan layanan.usulan itu sekaligus menyentuh persoalan lain. penambahan dapur SPPG.

Baca Juga:  Era Baru Birokrasi Deli Serdang, Bupati Lantik 15 Kepala OPD Hasil Seleksi Terbuka

Pembukaan dapur baru idealnya tidak hanya mengikuti ketersediaan tempat atau usulan pihak tertentu. Lokasi, kapasitas produksi, jumlah penerima, jarak distribusi, serta kelayakan fasilitas perlu dibaca dalam satu peta. tanpa perhitungan tersebut, penambahan dapur berpotensi menghasilkan ketimpangan. satu kawasan memiliki kapasitas berlebih, sementara kawasan lain masih menunggu pasokan.

Badan Gizi Nasional sendiri meminta dinas kesehatan ikut mengawasi standar dapur SPPG. Persyaratan keamanan pangan menjadi salah satu pintu pengawasan yang tidak dapat dilewati. Dapur yang memproduksi makanan dalam jumlah besar membutuhkan standar kebersihan, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi yang konsisten.Rapat itu akhirnya menghasilkan agenda evaluasi.

dalam dua pekan, Lom Lom akan mengoordinasikan OPD terkait untuk memeriksa pelaksanaan MBG di lapangan. Evaluasi tersebut akan digunakan untuk menyusun bahan masukan dan rekomendasi kepada BGN.

yang hendak diperiksa bukan hanya berapa banyak porsi yang telah disalurkan. Juga bagaimana dapur bekerja, siapa yang menerima, berapa jauh jarak distribusi, apakah kapasitas dapur sesuai kebutuhan, serta apakah standar keamanan pangan benar-benar diterapkan.di situlah angka-angka dalam laporan MBG akan diuji oleh kondisi lapangan.

Program dengan sasaran besar membutuhkan lebih dari daftar penerima dan jumlah porsi. Ia membutuhkan peta yang akurat, dapur yang layak, serta jalur distribusi yang dapat diawasi. tanpa tiga hal itu, makanan mungkin sampai ke tujuan, tetapi belum tentu sampai dengan cara yang paling tepat.(Ilham Gondrong)

Berita Terkait

Jembatan Merah Putih dan Jejak Proyek Desa
Pergantian Dandim dan Ujian Jejaring Kekuasaan
Akses Keuangan, Target yang Dikejar
Perkuat Sinergi Syariah, Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp400 Juta Melalui Baitul Mal Simeulue
Desa Kute Buluh Juara Evaluasi Desa Cantik Aceh Tenggara, Pengelolaan Data Jadi Fondasi Pembangunan
KINERJA PEMKAB SIMEULUE DAPAT PENGAKUAN NASIONAL TAHUN 2026
Survei Merit dan Jejak Kesiapan ASN
Kas dan Kewajiban Jadi Sorotan, BPK Sebut Pemkab Simeulue Belum Mampu Bayar Seluruh Utang Jangka Pendek
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:59

Jangan Jadikan Guru Komoditas Politik — Buktikanlah dengan Kesejahteraan Yang Nyata

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:56

Vietnam Menuju 20 Besar Dunia — Sementara Kita Masih Bermimpi Tanpa Langkah Nyata

Kamis, 13 Agustus 2026 - 03:27

Maluku dan Indonesia Timur — Membangun Peradaban, Tapi Dianggap Anak Tiri

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:02

Ironi Negeri Ini — Guru Disuruh Sarjana, Tapi Dewan Bisa Cukup Lulus SMA

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:32

Memimpin Bukan Bermain Catur — Membangun Peradaban atau Menjadi Cerita Keruntuhan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:14

Peradaban Bangsa Akan Bersih dan Maju Jika Dimulai dari Indonesia Timur

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:44

Jack Ma: Seorang Guru yang Membuktikan — Bukan dengan Buku, Tapi dengan Karya

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:38

Sekolah Itu Fondasi: Di Situlah Identitas dan Masa Depan Bangsa Dibentuk

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Dapur MBG dan Peta yang Belum Tuntas

Jumat, 14 Agu 2026 - 03:57

TNI dan Polri

Polres Bireuen Tangkap Spesialis Pembobol Rumah Sekolah

Jumat, 14 Agu 2026 - 03:25

Pemerintahan dan Berita Daerah

Jembatan Merah Putih dan Jejak Proyek Desa

Jumat, 14 Agu 2026 - 02:07