Bekasi/Tribuneindonesia.com
Vietnam telah menetapkan sasaran yang jelas dan tegas: pada tahun 2045, sistem pendidikan dan pendidikannya masuk ke dalam jajaran 20 terbaik di dunia. Bukan sekadar janji manis, bukan sekadar kata-kata indah di atas kertas. Pemimpin dan kabinetnya bekerja membangun peradaban bangsanya — demi kemajuan yang nyata, demi generasi yang unggul, demi masa depan yang pasti. Kamis 13 Agustus 2026
Maka pertanyaannya kembali kepada kita semua: bagaimana dengan bangsa ini?
Sementara bangsa lain melangkah tegas menuju masa depan — kita masih terus berjalan mundur. Masih terus bermimpi tentang “Generasi Emas 2045”, namun mata hati kita tertutup. Kita mencita-citakan peradaban yang tinggi, namun melupakan akar yang menopangnya: kesejahteraan dan penghormatan kepada para pendidik.
Cita-cita boleh setinggi langit. Namun bila tangan yang mendidik generasi itu tidak diberi makan dengan layak, tidak dihormati dengan tulus, tidak disejahterakan dengan tegas — maka peradaban ini hanya akan berjalan di tempat. Bukan melangkah maju, bukan pula mundur dengan cepat — melainkan berdiri diam, berputar pada titik yang sama, tahun demi tahun, hingga cita-cita itu akhirnya menjadi kisah yang tidak pernah terwujud.
Vietnam membuktikan satu kebenaran sederhana yang seakan-akan tidak ingin kita pahami:
Masa depan tidak dibangun dengan pidato. Masa depan dibangun dengan menghormati guru, menyejahterakan pendidik, dan memastikan mereka bisa mendidik dengan tenang, bermartabat, dan penuh kebanggaan.
Kalau Vietnam dalam perang yang hancur lebur pun mampu bangkit dan menetapkan sasaran masuk 20 besar dunia — mengapa Indonesia yang kaya raya, yang damai, yang diberkahi segala kekayaan alam — masih saja bermimpi tanpa langkah nyata?
Sebagaimana dikatakan pengamat sosial Rocky Gerung dengan tegas:
“Cita-cita bangsa itu bukan tulisan di tembok atau janji di atas kertas. Cita-cita bangsa itu ada di tangan para pendidik. Kalau tangannya tidak diberi makan dengan layak, bagaimana dia bisa memegang pena untuk membangun masa depan? Jangan bermimpi tinggi kalau fondasinya kau biarkan rapuh.”
Jangan sebut itu cita-cita, kalau akarnya tidak pernah dibenahi. Jangan sebut itu masa depan, kalau gurunya masih berjuang demi nafkah hari ini.
Selama guru belum sejahtera — maka peradaban ini hanya akan berjalan di tempat. Dan cita-cita yang tidak ditopang oleh penghormatan kepada pendidik — hanyalah mimpi yang akan pudar bersama bergantinya tahun.















