Ketika Sumber Daya Habis — Lalu Ke Mana Bangsa Ini Akan Melangkah?

- Editor

Kamis, 13 Agustus 2026 - 01:34

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

P

Bekasi/Tribuneindonesia.com

Ketika sebuah bangsa salah mengambil arah, salah memutuskan hal-hal yang paling mendasar — maka keruntuhannya tidak datang dalam satu malam. Ia datang perlahan, diam-diam, ketika semua orang merasa semuanya baik-baik saja. Kamis 13 Agustus 2026

Mari kita lihat kenyataan yang sudah terjadi di depan mata kita sendiri:

✅ Minyak bumi — Dulu Indonesia pengekspor minyak, bahkan anggota OPEC. Sekarang kita justru mengimpor minyak dari luar negeri karena cadangannya sudah sangat berkurang. Lapangan-lapangan besar di Sumatera, Kalimantan, Jawa — sudah tua dan produksinya terus turun.
✅ Hutan dan kayu — Dulu hutan Indonesia salah satu yang terluas di dunia. Sekarang sudah banyak yang gundul. Kayu yang dulu berlimpah — sekarang jauh berkurang, bahkan banyak tempat sudah tidak ada lagi yang bisa diambil.
✅ Batubara dan tambang — Memang masih banyak digali di Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Tapi ini juga suatu saat pasti habis. Diperkirakan dalam beberapa puluh tahun ke depan cadangannya akan jauh berkurang — dan tanah yang rusak tidak bisa kembali seperti semula.
✅ Ikan di laut dan tanah subur — Sumber daya yang dulu seakan tidak akan pernah habis, sekarang sudah menipis. Nelayan harus pergi jauh, tanah subur berubah jadi gedung dan jalan.

Semua ini mengingatkan kita pada satu kebenaran yang tidak bisa dibantah:
Apa yang diambil dari perut bumi, dari hutan, dari laut — suatu saat pasti habis. Itu bukan milik kita selamanya, itu hanya titipan. Dan ketika hari itu tiba — lalu apa yang tersisa untuk bangsa ini?

Apakah gedung-gedung tinggi bisa berpikir? Apakah jalan yang lebar bisa menciptakan sesuatu yang baru? Apakah kekayaan yang sudah habis itu bisa kembali sendiri? Tidak ada satu pun yang mampu berdiri sendiri — kecuali manusia yang cerdas, yang terdidik, yang siap memimpin negaranya tanpa harus bergantung pada apa yang ada di dalam tanah.

Baca Juga:  Babinsa Gandapura Ajak Warga Perkuat Kerukunan dan Jaga Kamtibmas di Desa Binaan

Itulah yang paling menyedihkan dan paling berbahaya:
Bangsa ini sibuk menggali, sibuk menjual, sibuk menghabiskan — tetapi lupa membangun yang paling penting. Lupa membangun peradaban yang bernama guru.

Kalau gurunya tidak sejahtera, kalau pendidikannya diabaikan, kalau anak-anaknya dibiarkan tidak terdidik — maka:

– ❌ Ketika sumber daya habis, bangsa ini akan jatuh dan tidak mampu bangkit kembali
– ❌ Akan terjadi kemunduran yang sangat jauh, kembali ke belakang tanpa mampu menahan
– ❌ Akan terdengar ratapan di mana-mana — karena semua kemewahan yang dibangun di atas kekayaan alam akan runtuh bersama alamnya
– ❌ Tidak ada yang bisa diselamatkan, karena tidak ada manusia yang siap memikul beban masa depan

Inilah perbedaan antara bangsa yang bijaksana dan bangsa yang tergesa-gesa:
Negara-negara yang tidak punya banyak sumber daya alam — seperti Singapura, Jepang, Israel — justru sekuat tenaga membangun manusia, membangun guru, membangun pendidikan. Karena mereka sadar: ini satu-satunya kekayaan yang tidak akan pernah habis.

Sebaliknya — kita yang diberi kekayaan berlimpah — justru sibuk menghabiskannya, dan melupakan satu hal yang paling abadi: akal budi, ilmu pengetahuan, dan generasi yang cerdas.

Maka mari pemimpin bangsa Indonesia, dengarkanlah seruan ini:

Lihatlah kepada guru, lakukanlah dari sekarang. Janganlah engkau memikirkan para perusak bangsa yang hanya duduk di kursi kekuasaan tanpa pernah membawa kemajuan apa pun. Janganlah engkau menuruti mereka yang hanya pintar berbicara tetapi tidak pernah membuktikan karyanya. Bangunlah dari akarnya — sejahterakanlah gurunya — karena di sanalah masa depan bangsa ini sebenarnya disimpan.

Sebelum semuanya habis — belum terlambat untuk berbalik arah. Sebelum hari perhitungan tiba — mulailah dari yang paling dasar. Karena tanah bisa berhenti memberi, tetapi manusia yang terdidik tidak akan pernah berhenti menciptakan.

Berita Terkait

BERJUANG SENDIRI, TAPI TIDAK HARUS MENUTUP DIRI
Polsek Gandapura Gencarkan Patroli KRYD Cegah Karhutla, Imbau Warga Tak Bakar Lahan
Carles Imbir Ajak Rakyat Raja Ampat Kawal DPRK: Pastikan Berjalan Sesuai Aturan dan Aspirasi
Ketua DPRK Raja Ampat Tegaskan APBD Perubahan 2026 Harus Tepat Sasaran
FKLL Jakarta Selatan Perkuat Sinergi Tangani Titik Rawan Kecelakaan di Jalan Ciputat Raya Kebayoran Lama
Kapolres Aceh Timur Silaturahmi ke Abu Paya Pasi, Perkuat Sinergi Polri dan Ulama
Peringati Maulid Nabi, Kapolres Aceh Timur Santuni puluhan Anak Yatim
Fraksi Otsus DPRK Raja Ampat Soroti Dana Otsus Rp268 Miliar: Jangan Hanya Jadi Angka di APBD
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 04:40

Jepang Memberi Makan Gratis Tanpa Keracunan- Mengapa Kita Tidak Bisa? Pemimpin Harus Mencicipi Dulu!

Kamis, 20 Agustus 2026 - 03:19

Jangan Menjadi Pemimpin — Gubernur Atau Siapa Pun — Untuk Menciptakan Kebohongan Kepada Rakyat

Kamis, 20 Agustus 2026 - 03:14

Korupsi Menggurita — Mengapa Koruptor Diperlakukan Istimewa, Rakyat Yang Disiksa?

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:48

Ketika Tanah Leluhur Diambil — Tanda Peradaban yang Akan Hancur

Rabu, 19 Agustus 2026 - 04:43

Belajarlah kepada India — Bukan Meniru, Tapi Membangun Peradaban Sendiri

Rabu, 19 Agustus 2026 - 03:59

Kerajaan Babilon: Kekuasaan yang Lupa Pencipta

Rabu, 19 Agustus 2026 - 03:56

Bangsa Kaya yang Terjatuh karena Melupakan Rakyat

Rabu, 19 Agustus 2026 - 03:54

Kesombongan yang Menjatuhkan

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Deli Serdang Kembangkan Bawang Merah di Namorambe, Target Produksi 13 Ton

Minggu, 27 Sep 2026 - 08:04

Sosial

BERJUANG SENDIRI, TAPI TIDAK HARUS MENUTUP DIRI

Minggu, 27 Sep 2026 - 07:11

Feature dan Opini

Panggil BKPSDM Soal IPDN Dipertanyakan, Warga: Jangan Salah Sasaran!

Minggu, 27 Sep 2026 - 01:29