TribuneIndonesia.com — Negeri ini sedang sakit. Bukan karena rakyatnya bodoh, tetapi karena terlalu banyak orang memilih diam. Diam melihat korupsi. Diam melihat kebohongan. Diam melihat rakyat dipermainkan setiap musim janji politik datang.
Yang lebih lucu, di negeri ini orang yang bersuara lantang justru dianggap berbahaya. Wartawan kritis dicap provokator. Aktivis disebut pengganggu stabilitas. Mahasiswa yang turun ke jalan dituduh ditunggangi. Sementara penjilat kekuasaan diberi tempat terhormat, duduk nyaman sambil menikmati sisa-sisa penderitaan rakyat.
Maka jangan heran bila hari ini lebih baik disebut “anjing gila” daripada menjadi “anjing mati”.
Anjing gila setidaknya masih menggonggong ketika ada maling masuk rumah. Masih berani menggigit ketika tuannya disakiti. Masih membuat gaduh karena ada ancaman.
Sedangkan anjing mati? Diam. Busuk. Tidak berguna. Bahkan lalat pun lebih menghargainya daripada manusia. Begitulah gambaran sebagian elite hari ini. Mulut manis di depan rakyat, tetapi tuli terhadap jeritan masyarakat. Mereka datang saat kampanye membawa senyum dan janji surga, lalu menghilang setelah duduk di kursi empuk kekuasaan.
Rakyat disuruh sabar. Rakyat disuruh mengerti keadaan. Rakyat diminta percaya proses.
Tetapi pejabat tidak pernah sabar soal proyek. Tidak pernah sabar soal pencitraan. Tidak pernah sabar soal memperkaya kelompoknya.
Jalan rusak dibiarkan sampai memakan korban. Bansos dijadikan alat politik. Anggaran rakyat habis untuk seremoni dan tepuk tangan.
Lalu ketika ada yang mengkritik, mereka sibuk berkata: “Jangan provokasi masyarakat.” “Jangan memperkeruh suasana.”
Padahal yang memperkeruh negeri ini bukan kritik, tetapi kebohongan yang dipelihara bertahun-tahun.
Kritik hari ini dianggap musuh karena terlalu banyak penguasa ingin dipuji seperti raja. Mereka lupa, jabatan itu bukan warisan nenek moyang. Itu titipan rakyat. Dan rakyat berhak marah ketika titipan itu dipakai untuk kesombongan.
Yang paling berbahaya bukan pemerintah yang salah. Tetapi masyarakat yang takut melawan kesalahan.
Karena penguasa zalim tidak lahir sendirian. Mereka tumbuh dari rakyat yang diam, birokrat yang pengecut, dan intelektual yang menjual otaknya demi jabatan.
Hari ini banyak orang memilih menjadi anjing mati: aman, diam, tidak ribut, asal dapat sisa tulang kekuasaan.
Padahal negeri ini justru membutuhkan lebih banyak “anjing gila” orang-orang yang berani menggonggong ketika melihat ketidakadilan, berani melawan saat rakyat diinjak, dan berani membuat penguasa tidak tidur nyenyak karena kritik.
Sebab sejarah membuktikan Kekuasaan paling takut bukan pada senjata. Tetapi pada rakyat yang sudah tidak takut lagi. Maka istilah lebih baik menjadi anjing gila dari pada anjing mati kayak kita hidup kan lagi.
Penulis: Chaidir Toweren















