“Wak Labu ! Raja Licik yang Paling Pintar… Mengelabui Rakyat Sendiri”

- Editor

Rabu, 25 Maret 2026 - 14:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh:ilham Gondrong

TribuneIndonesia.comDi sebuah kampung yang tak pernah masuk peta, hiduplah seorang pemimpin yang sangat terkenal. Bukan karena bijaksana, bukan karena adil, tapi karena satu hal yang luar biasa kelicikannya.

Tak ada yang tahu pasti kenapa dipanggil Wak Labu. Ada yang bilang karena kepalanya bulat seperti labu. Ada juga yang bilang karena isi kepalanya… ya, kosong seperti labu yang sudah dikorek bijinya. Tapi yang jelas, setiap kali namanya disebut, warga kampung pasti menarik napas panjang antara ingin tertawa… atau ingin marah.

Wak Labu adalah tipe pemimpin yang kalau bicara selalu manis. Manis sekali. Saking manisnya, kalau kata-katanya dikumpulkan, mungkin bisa jadi kolak satu kuali. Tapi sayangnya, setelah dimakan, bikin perut melilit.

“Rakyatku adalah keluarga,” begitu katanya setiap kali berpidato.

Tapi anehnya, keluarga yang dimaksud itu selalu dia sendiri.

Suatu hari, kampung dilanda masalah besar. Jalan utama rusak parah. Lubangnya bukan lagi seperti kubangan, tapi sudah seperti kolam ikan. Setiap hujan turun, anak-anak bisa berenang di sana. Bahkan ada warga yang hampir memelihara lele di lubang itu.Warga pun datang mengadu.

“Wak, jalan kita sudah tak layak dilalui. Tolong diperbaiki,” kata seorang bapak dengan wajah lelah.

Wak Labu tersenyum lebar. Senyum yang terlalu lebar untuk dipercaya.

“Oh, tentu! Saya sudah punya rencana besar. Jalan ini akan kita jadikan jalan terbaik di seluruh daerah!” katanya penuh semangat.

Warga pun bersorak. Harapan kembali menyala.

Tapi hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Yang datang bukan pekerja, tapi spanduk besar bertuliskan:

“Proyek Perbaikan Jalan Segera Dimulai. Mohon Bersabar.”

Spanduknya banyak. Bahkan lebih banyak daripada jumlah batu yang digunakan untuk memperbaiki jalan.

Akhirnya, warga mulai bertanya-tanya.

“Wak, kapan dimulainya?” tanya seorang ibu.

Wak Labu menjawab santai, “Sedang dalam proses.”

“Proses apa, Wak?”

“Proses… menuju proses.”

Warga pun saling pandang. Bingung. Kesal. Tapi tak bisa berbuat banyak.

Lucunya, di tengah kondisi jalan yang rusak, rumah Wak Labu justru semakin megah. Halamannya luas, pagar tinggi, bahkan jalan menuju rumahnya mulus seperti jalan tol.

“Ini hasil kerja keras,” kata Wak Labu dengan bangga.

Padahal semua orang tahu, kerja keras siapa yang dimaksud.

Bukan hanya soal jalan. Bantuan untuk warga miskin pun sering jadi bahan cerita. Setiap kali ada bantuan datang, Wak Labu selalu tampil paling depan. Dia yang membagikan, dia yang difoto, dia yang tersenyum paling lebar.

Baca Juga:  Polri di bawah Presiden menguatkan hati, pikiran, dan kerja

Tapi jumlah bantuan yang sampai ke warga… entah kenapa selalu terasa “menyusut” di jalan.

“Kenapa berasnya tinggal sedikit, Wak?” tanya seorang nenek.

Wak Labu menjawab cepat, “Itu karena kualitasnya tinggi. Jadi sedikit tapi bergizi.”

Warga hampir saja percaya… kalau saja perut mereka tidak tetap lapar.

Yang paling membuat geram adalah kebiasaannya menyalahkan orang lain.

Kalau hujan deras, dia bilang itu salah cuaca.

Kalau jalan rusak, dia bilang itu warisan pemimpin lama.

Kalau bantuan hilang, dia bilang itu kesalahan distribusi.

Seolah-olah dalam kamus Wak Labu, tidak ada kata “salah saya”.

Suatu hari, seorang pemuda nekat bertanya di depan umum.

“Wak, kenapa setiap masalah selalu ada alasan, tapi tidak pernah ada solusi?”

Suasana langsung hening.

Wak Labu tersenyum. Lagi-lagi senyum itu. Senyum yang seperti janji, tapi rasanya seperti tipu daya.

“Anak muda,” katanya pelan, “memimpin itu tidak semudah bicara.”

Pemuda itu mengangguk. Lalu menjawab dengan tenang, “Betul, Wak. Tapi kalau cuma bicara tanpa memimpin… itu juga bukan memimpin.”

Warga yang mendengar langsung menahan tawa. Ada yang menunduk, ada yang pura-pura batuk. Tapi semua tahu, itu adalah kalimat paling jujur yang pernah terdengar di kampung itu.

Sejak saat itu, cerita tentang Wak Labu semakin terkenal. Bukan sebagai pemimpin hebat, tapi sebagai pelajaran hidup.

Bahwa tidak semua yang bicara manis itu tulus.

Bahwa tidak semua yang tersenyum itu peduli.

Dan bahwa pemimpin yang terlalu pandai mengelabui, pada akhirnya akan kalah oleh satu hal sederhana,kesadaran rakyatnya sendiri.

Wak Labu masih memimpin hingga hari ini. Masih dengan janji-janji, masih dengan senyum yang sama. Tapi kini warga sudah berbeda.

Mereka tidak lagi mudah percaya.

Tidak lagi mudah terpukau.

Dan yang paling penting, mereka mulai berani tertawa… sekaligus geram.

Karena terkadang, cara terbaik menghadapi kelicikan bukan hanya dengan kemarahan, tapi juga dengan kesadaran bahwa mereka pantas dipimpin oleh seseorang yang benar-benar memimpin, bukan sekedar pandai bersandiwara.

Dan di setiap sudut kampung, jika ada yang mulai bertingkah seperti Wak Labu, warga hanya akan saling berbisik.

“Hati-hati… jangan sampai jadi labu berikutnya.”

TribuneIndonesia.com

 

Berita Terkait

“Waiwo Diburu, Tahura Ditantang Dibuka! Warga: Jangan Ada Aset Pemda yang ‘Kebal’ Disentuh”
Ketika Jabatan Lebih Ditentukan Jaringan Daripada Kemampuan “Quo Vadis Kepemimpinan Indonesia?” 
Siapa Berhak Menentukan OAP di Raja Ampat? Carles Imbir: Kembalikan kepada Marga dan Suku
Ketika Jabatan Lebih Ditentukan Jaringan Daripada Kemampuan, Quo Vadis Kepemimpinan Indonesia?
Selamat Hari Kemerdekaan ke-81 Bangsa Indonesia
Mengapa Bangsa Ini Tidak Maju?
Pemimpin yang Membangun, Pemimpin yang Menghancurkan
Kemerdekaan yang Tak Selesai di Atas Kertas
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 11:21

ASN Gugur di Jayawi jaya, Apel Kesadaran Soroti Integritas Aparatur

Selasa, 15 September 2026 - 11:06

Sinergi Pemkot Bitung dan TP PKK: Sekolah Lansia Laskar Bintang Hadir Wujudkan Lansia Tangguh

Selasa, 15 September 2026 - 09:42

GRPK Soroti Progres Penanganan 1.677 Batang Kayu, Gakkum Kehutanan Diminta Ungkap Aktor Utama

Selasa, 15 September 2026 - 07:58

Gembleng Mental Juara PORA 2026, Taekwondo Simeulue Tuntaskan TC 10 Hari di Dojang Kodim 0115

Selasa, 15 September 2026 - 07:08

PFM Desak Kapolda Baru Tuntaskan Dugaan Korupsi Sekretariat DPR PBD: “Itu Uang Rakyat”

Senin, 14 September 2026 - 16:04

Lebih Inklusif, Perayaan HUT Negeri Aertembaga Dorong Ekonomi UMKM dan Edukasi Sejarah

Senin, 14 September 2026 - 12:42

Masyarakat Raja Ampat Kecam Dugaan Penangkapan Penyu oleh WNA Menggunakan Senapan

Senin, 14 September 2026 - 11:09

Lima Pegawai Dihukum Berat, Disiplin ASN Disorot

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

ASN Gugur di Jayawi jaya, Apel Kesadaran Soroti Integritas Aparatur

Selasa, 15 Sep 2026 - 11:21