Toweren: Desa yang Tak Pernah Menyerah pada Zaman

- Editor

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Kampung (Desa) Toweren setelah diterjang banjir bandang

Caption : Kampung (Desa) Toweren setelah diterjang banjir bandang

Oleh: Chaidir Ibrahim Toweren

TribuneIndonesia.com

Di sisi selatan Danau Laut Tawar, sekitar delapan kilometer dari pusat Kota Takengon, berdiri sebuah kawasan yang namanya bukan sekadar penanda geografis. Toweren adalah ingatan. Toweren adalah luka. Toweren adalah ketahanan. Ia bukan hanya kampung, tetapi perjalanan panjang sebuah peradaban kecil yang berkali-kali dihapus oleh sejarah, lalu bangkit kembali dengan cara yang sunyi namun teguh.

Kini, Toweren kembali diuji. Banjir bandang menghantam Kemukiman Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Air bah turun dari pegunungan, membawa lumpur, kayu, dan sisa-sisa hutan yang tergerus. Rumah-rumah terendam, sawah rusak, akses terputus. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar berita bencana. Namun bagi Toweren, ini adalah bab terbaru dari kisah panjang desa yang pernah punah dua kali dan selalu memilih untuk hidup kembali.

Dari Tawaren Menjadi Toweren

Nama Toweren berakar dari legenda yang hidup turun-temurun di tengah masyarakat Gayo. Konon, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, seekor Gajah Putih yang akan dipersembahkan ke Istana Aceh dibawa dari Serule menuju Kute Reje (Banda Aceh). Rombongan pengantar melewati jalan setapak di sisi selatan Danau Laut Tawar.

Ketika sampai di sebuah kawasan pesisir danau yang kini dikenal sebagai Toweren, rombongan berhenti sejenak untuk beristirahat. Namun ketika perjalanan hendak dilanjutkan, sang Gajah Putih enggan bangkit. Ia menunduk, merajuk, dan tak satu pun upaya pawang berhasil membujuknya berdiri.

Akhirnya, seorang tetua memberi saran agar sang gajah “ditawari” ditepungtawari, sebuah ritual adat yang disertai Tari Guel. Ajaibnya, setelah prosesi itu dilakukan, perlahan sang Gajah Putih bangkit dan perjalanan pun dilanjutkan.

Sejak peristiwa itu, kawasan tersebut disebut Tawaren. Namun karena pelafalan lokal yang berubah dari waktu ke waktu, nama itu kemudian melekat sebagai Toweren, sebuah sebutan yang bertahan hingga kini.

Kampung Tua Sebelum Republik Ada
Toweren telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia tumbuh sebagai komunitas adat dengan struktur pemerintahan tradisional yang kuat. Masyarakatnya berasal dari berbagai belah atau kelompok kekerabatan: belah Waq, belah Lot, belah Bukit, belah Suku, dan belah Gunung. Keberagaman ini tidak melemahkan, justru membentuk harmoni sosial yang khas.

Secara administratif adat, Toweren dipimpin oleh dua Reje (raja): Reje Gunung dan Reje Baluntara. Meski tampak dualistik, pembagian peran keduanya sangat jelas. Reje Baluntara mendapat mandat khusus dari Reje Linge untuk mengurus wilayah kehutanan dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya sebuah amanah ekologis jauh sebelum istilah konservasi dikenal secara modern.

Kedua Reje dibantu oleh perangkat adat: Pengulu Suku, Pengulu Owaq, Pengulu Imem (Tgk. Katib atau ulama), Pengulu Lot, serta Petue Gunung. Sistem ini bukan hanya mengatur pemerintahan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan adat istiadat.
Hingga awal masa pascakolonial, tata kelola adat ini tetap bertahan. Namun seiring masuknya ideologi nasional dan kebijakan pemerintahan modern, struktur adat perlahan tergerus. Istilah Reje sempat hilang akibat penerapan Undang-Undang Desa. Baru kemudian hidup kembali setelah negara memberi ruang perlindungan terhadap budaya lokal.

Dua Kali Dibumihanguskan

Sejarah Toweren tidak hanya diisi oleh legenda dan adat, tetapi juga oleh tragedi yang meninggalkan luka kolektif.
Musibah besar pertama terjadi pada tahun 1957. Seluruh rumah warga Toweren yang dituduh terkait dengan anggota Darul Islam (DI) dirusak. Bahan bangunan diarak keluar kampung, lalu dibakar. Peristiwa ini bukan sekadar penghancuran fisik, tetapi juga penghancuran rasa aman.

Dua tahun berselang, tahun 1959, tragedi yang lebih besar terjadi. Seluruh rumah masyarakat Toweren dibakar oleh pasukan Kodam Diponegoro dengan bantuan MWD (Masyarakat Wajib Militer). Kampung itu benar-benar dilenyapkan. Benda-benda bersejarah, naskah adat, dan jejak material masa lalu lenyap dalam api.

Baca Juga:  Ketika Kepemimpinan Diuji di Tengah Lumpur

Toweren pun seolah punah.

Eksodus dan Ingatan yang Dibawa Pergi
Pasca 1959, masyarakat Toweren melakukan eksodus secara swadaya dan berkelompok. Mereka menyebar ke berbagai wilayah dataran tinggi Gayo: Janarata, Bukit Wih Ilang, Waq Ponok Sayur, Suku Wih Ilang, Gele Wih Ilang, Bener Kelipah, Darussalam, Lewa Jadi, hingga Pulo Tige yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Bener Meriah.

Namun mereka tidak pergi sebagai orang yang tercerabut. Nama-nama kampung baru diberi penanda asal-usul. Bukit Wih Ilang, misalnya, adalah cara masyarakat menegaskan bahwa mereka berasal dari Bukit Toweren. Nama menjadi jembatan ingatan, penolak lupa, dan penanda identitas.

Sebelum dua peristiwa besar itu pun, perpindahan penduduk Toweren sudah kerap terjadi akibat keterbatasan lahan pertanian dan perkebunan. Beberapa keluarga pindah ke Kampung Rawe dan Kampung Gunung Suku yang berbatasan langsung dengan Toweren.

Namun meski tersebar, hubungan kekerabatan tidak pernah putus. Hingga kini, sekitar 45 persen lahan persawahan Toweren merupakan milik atau warisan masyarakat Toweren yang tinggal di luar Kabupaten Aceh Tengah. Ikatan tanah menjadi bukti bahwa Toweren tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Bangkit dari Abu

Penataan kembali Kampung Toweren dilakukan pasca 1959. Dari puing-puing sejarah, lahir dua nama: Toweren Uken dan Toweren Toa. Inilah cikal bakal Toweren dalam rezim pemerintahan Republik Indonesia.

Seiring waktu, wilayah Toweren berkembang menjadi empat kampung administratif: Toweren Uken, Toweren Toa, Toweren Antara, dan Waq Toweren. Saat ini, kawasan ini dihuni oleh 594 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 2.970 jiwa.

Toweren kembali hidup. Sawah kembali ditanami. Anak-anak kembali bersekolah. Adat kembali dijaga. Meski tak semua luka sembuh, masyarakat memilih berdamai dengan masa lalu.
Banjir Bandang dan Sejarah yang Berulang

Namun sejarah seolah tak pernah benar-benar menjauh dari Toweren.

Banjir bandang yang baru-baru ini melanda kawasan tersebut kembali menguji ketahanan desa tua ini. Air bah datang cepat, membawa material dari hulu. Rumah-rumah rusak, sawah tergerus, dan trauma lama kembali mengetuk ingatan kolektif.

Bagi warga Toweren, bencana ini bukan hanya soal hujan dan sungai. Ia juga berkaitan dengan perubahan bentang alam, degradasi hutan, dan rapuhnya keseimbangan ekologis yang dahulu dijaga ketat oleh sistem adat.
Di tengah banjir, terdengar kembali pertanyaan lama: sampai kapan Toweren harus menjadi korban dari perubahan yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan?

Desa yang Menolak Punah

Namun jika sejarah mengajarkan satu hal, maka Toweren adalah contoh nyata tentang daya lenting manusia.
Dua kali dibumihanguskan, berkali-kali ditinggalkan, dan kini kembali dilanda bencana, Toweren tetap berdiri. Tidak dengan gemerlap, tetapi dengan keteguhan yang nyaris tak terdengar.

Toweren bukan desa yang meminta dikasihani. Ia adalah desa yang menuntut diingat, dipahami, dan dijaga. Sebab di balik rumah-rumah kayu dan sawah di tepi Danau Laut Tawar, tersimpan kisah panjang tentang bagaimana sebuah komunitas kecil bertahan melampaui kerajaan, kolonialisme, konflik, dan bencana alam.

Banjir bandang mungkin merusak kembali apa yang telah dibangun dengan susah payah. Namun seperti sebelumnya, Toweren kemungkinan besar akan bangkit lagi dari lumpur, dari air, dari ingatan.

Karena Toweren bukan sekadar tempat. Ia adalah sejarah yang memilih untuk tetap hidup.

Penulis adalah putra dari seorang ayah asli Toweren. Seorang pemuda desa yang meniti karir di militer yang akhirnya pensiun menjadi seorang pegawai negeri sipil. 

Berita Terkait

Maling Teriak Maling: Cermin Retaknya Integritas di Lingkar Kekuasaan
Waspada El Niño ! Ancaman Panas Ekstrem Mengintai, Masyarakat Diminta Siaga Sejak Dini
Perempuan Tidak Boleh Lagi Diam: Wajib Berpendidikan, Mandiri, dan Berani Melawan Ketidakadilan
Kemitraan  atau Penjinakan? Saat Media Dipaksa Tunduk, Pemerintah Abai pada Keadilan
Pemkab Aceh Tenggara Terapkan WFH Setiap Jumat, Ini Aturan Lengkapnya
Kesalahan Terindah
Rutin Konsumsi Bawang Merah Setiap Hari, Ini Manfaat dan Risikonya bagi Kesehatan
Lalat di Minuman Antara Hadits, Sains, dan Kesehatan Modern
Berita ini 127 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 12:52

UMKM Central Deli Serdang Resmi Dibangun Langkah Nyata Menata Ekonomi Rakyat dari Jantung Lubuk Pakam

Kamis, 30 April 2026 - 08:12

PWKI Deli Serdang Hadirkan Edukasi Strategis di Desa Sumberjo

Rabu, 29 April 2026 - 15:52

Wabup Deli Serdang Hadiri Penutupan Satgas Pemulihan Bencana Aceh, Tegaskan Komitmen Bangkit Bersama

Selasa, 28 April 2026 - 23:58

Dari Rumah Reyot ke Harapan Baru Sentuhan hati Bupati Deli Serdang di Hamparan Perak

Selasa, 28 April 2026 - 16:06

Deli Serdang Perkuat Perang Melawan Narkoba, Sinergi dengan BNN Didorong hingga Desa

Selasa, 28 April 2026 - 15:49

Dari Tanah Sengketa hingga Irigasi Kritis, Bupati Deli Serdang “Ketuk Pintu” Pusat di Reses NasDem

Selasa, 28 April 2026 - 00:08

Lahan Eks HGU Lonsum 75 Hektare Resmi Diserahkan, Pemkab Deli Serdang Prioritaskan Kepentingan Rakyat

Senin, 27 April 2026 - 09:09

Bupati Asri Ludin Tegaskan Arah Baru Otonomi Daerah  Kerja Nyata, Bukan Sekedar Seremonial

Berita Terbaru