Sekolah Rakyat Berdiri di Tanah Sengketa, Pemko Medan Diduga Abaikan Proses Hukum

- Editor

Sabtu, 31 Januari 2026 - 00:10

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Medan I TribuneIndonesia.ComPembangunan proyek Sekolah Rakyat di Kota Medan menuai sorotan tajam. Program yang digadang-gadang sebagai simbol kepedulian terhadap pendidikan masyarakat kecil itu justru diduga berdiri di atas lahan yang masih berstatus sengketa hukum milik ahli waris Teridah br Barus.

Lahan tersebut diklaim memiliki dasar kepemilikan sah berdasarkan Surat Keterangan Tanah Nomor 1632/A/I/15. Namun hingga kini, pihak ahli waris mengaku tidak pernah menerima ganti rugi maupun penyelesaian secara musyawarah dari Pemerintah Kota Medan.

Alih-alih mengedepankan dialog, pembangunan proyek disebut tetap berjalan. Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam dari pihak keluarga ahli waris karena hak kepemilikan yang mereka yakini sah secara administratif dinilai diabaikan.

Persoalan kian memanas setelah diketahui bahwa objek tanah tersebut sedang dalam proses hukum di Pengadilan Negeri Medan dengan Nomor Perkara 32/Pdt.G/PN Medan. Sidang perdana telah digelar pada 27 Januari 2026. Artinya, status lahan masih dalam tahap pembuktian hukum dan belum memiliki kekuatan hukum tetap.

Meski demikian, proyek pembangunan Sekolah Rakyat diduga terus dilanjutkan tanpa menunggu putusan pengadilan. Langkah ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai komitmen pemerintah daerah terhadap prinsip kehati-hatian dan penghormatan pada supremasi hukum.

Sejumlah kalangan menilai sikap Pemerintah Kota Medan berpotensi mencederai rasa keadilan masyarakat. Program pendidikan yang seharusnya menjadi wajah kepedulian negara terhadap rakyat kecil justru dinilai berisiko menambah konflik agraria apabila dibangun dengan mengabaikan hak warga.

Baca Juga:  Mengungkap Misteri Kematian Petani di Bener Meriah: Polisi Lakukan Penyelidikan

Negara seharusnya hadir sebagai pelindung rakyat, bukan menjadi pihak yang justru memperberat beban masyarakat kecil,” ungkap pihak ahli waris dalam keterangannya.

Mereka menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh dilakukan dengan menyingkirkan hak masyarakat yang dilindungi undang-undang.

Ahli waris juga menyatakan masih membuka ruang dialog dan berharap pemerintah bersedia menyelesaikan persoalan secara adil, transparan, dan bermartabat.

Isu ini pun berkembang menjadi sorotan publik karena menyangkut wajah tata kelola pemerintahan daerah. Di satu sisi, pembangunan fasilitas pendidikan adalah kebutuhan mendesak.

Namun di sisi lain, prosesnya tidak boleh mengabaikan legalitas lahan dan hak kepemilikan warga.

Pengamat kebijakan publik menilai, jika benar proyek dilanjutkan di atas lahan berperkara, hal itu dapat menjadi preseden buruk dalam tata kelola pembangunan. Pemerintah daerah seharusnya memastikan seluruh aspek hukum tuntas sebelum proyek berjalan, agar tidak menimbulkan konflik sosial yang lebih luas di kemudian hari.

Masyarakat berharap pemerintah pusat turut memberi perhatian terhadap persoalan ini. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto diharapkan dapat memastikan pembangunan nasional tidak berjalan di atas konflik agraria yang belum terselesaikan.

Pendidikan memang fondasi masa depan bangsa. Namun keadilan hukum adalah fondasi negara. Tanpa kepastian hukum dan penghormatan terhadap hak rakyat, pembangunan berisiko kehilangan legitimasi moralnya di mata masyarakat.

TribuneIndonesia

 

Berita Terkait

Mahkamah agung RI mengugat PKN ke PTUN Jakarta , sebuah Fradigma Utamakan kekuasaan
Gerak Cepat Polres Agara! Seorang Pria Penyalahguna Sabu di Babussalam Berhasil Diamankan
Diduga Ancam Pasien dengan Golok, Dokter di Bogor Dilaporkan ke Polisi
Kontributor tvOne Diduga Dianiaya Oknum ASN di Paluta Usai Lakukan Konfirmasi
Polres Aceh Tengah Periksa Dugaan Pungli Bantuan Kemensos
Tekan Overkapasitas Rutan Kelas I Medan Pindahkan 85 Napi Tipikor Selama 2025–2026
Dugaan Korupsi Proyek AMI PLN Rp5 Triliun, Relawan Desak KPK dan Kejagung Lakukan Penyelidikan
Rudenim Denpasar Deportasi WN Amerika Serikat Pembunuh Dalam Koper
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 18 Maret 2026 - 03:39

Di Tengah Luka Banjir: Insentif Dayah Jadi Penguat Asa Jelang Idhul Fitri

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:53

Pak Safrizal Silakan Tanya Langsung ke Pengungsi, Jangan Cuma Dengar Info di Pendopo Bupati

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:53

TNI AL Evakuasi 4 Nelayan yang Tenggelam di Perairan Bitung Akibat Cuaca Buruk

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:35

​Queen Mary 2 Sandar di Bitung: Diplomasi Pariwisata dan Kehangatan “Harmony In Diversity”

Selasa, 17 Maret 2026 - 12:45

Gerindra Blitar Gelar Jumpa Pers – Ratna Dewi: Media Sebagai Jembatan Antar Wakil Rakyat dan Masyarakat

Selasa, 17 Maret 2026 - 07:13

Polres Bireuen Tangkap Pelaku Pelecehan Seksual Anak Dibawah Umur simpang mamplam

Selasa, 17 Maret 2026 - 07:09

Jasa Raharja kembali menyelenggarakan program mudik gratis Idulfitri 2026

Selasa, 17 Maret 2026 - 04:05

Pemkab Bireuen Sudah Carikan Solusi untuk Pengungsi yang Membangun Tenda di Kantor Bupati

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Ramadan Menyatukan, Deli Serdang Menguat

Rabu, 18 Mar 2026 - 01:30

Perusahaan, Perkebunan dan Peternakan

Hutama Karya Maksimalkan Pelayanan Tol Regional Sumbagut Jelang Lebaran 2026

Selasa, 17 Mar 2026 - 21:02