Pemkab Bireuen Sudah Carikan Solusi untuk Pengungsi yang Membangun Tenda di Kantor Bupati

- Editor

Selasa, 17 Maret 2026 - 04:05

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Pertemuan Bupati Bireuen dengan Pengungsi yang mendirikan tenda di Kantor Bupati, Jum’at, 13 Maret 2026

 

Bireuen/Tribuneindonesia.com

Pemkab Bireuen telah mencoba mencarikan solusi terbaik untuk sementara waktu terhadap para pengungsi yang membangun tenda di kompleks Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen.

Sejak hari pertama beberapa KK penyintas bencana membangun tenda di sana, Bupati Bireuen pada tanggal 13 Maret 2026, langsung menjumpai mereka.

Ketika Bupati datang, perwakilan para penyintas menyampaikan isi hati dan aspirasinya. Pada dialog dari hati ke hati di mushala Kantor Pusat Pemkab Bireuen, mereka mempertanyakan kepastian pembangunan hunian tetap dan meminta Bupati memberikan solusi sementara, karena mereka sudah lelah hidup di bawah tenda.

Meskipun sebagian pengungsi itu telah menerima Dana Tunggu Hunian (DTH), Bupati tetap menyamaratakan. Semuanya akan dicarikan hunian sementara yang nyaman. Perihal kepastian kapan Pemerintah akan membangun huntap, Bupati tidak dapat memberikan kepastian. Karena pembangunan itu berada di bawah kewenangan BNPB dan kementerian lainnya.

Jelang sahur, mereka sepakat menerima tawaran Bupati, menempati hunian layak sebagai tempat tinggal sementara.

Setelah kesepakatan tersebut tercapai, Bupati dan para pengungsi pun santap sahur bersama.

Setelah santap sahur, Bupati pulang. Ia memerintahkan Pj Sekda Bireuen Hanafiah, mencarikan hunian yang layak untuk pengungsi tersebut. Hunian itu harus tersedia kamar per KK, tersedia kamar mandi, tersedia dapur dan peralatannya. Juga tersedianya logistik pangan dan kebutuhan dasar lainnya.

Akan tetapi pada pagi harinya, melalui sebuah video, seorang perwakilan penyintas bencana, menyampaikan menolak solusi yang diberikan oleh Bupati. Atas nama solidaritas, mereka tetap akan bertahan di tenda hingga Bupati memberikan kepastian kapan huntap dibangun.

Ketika dijemput oleh Pj Sekda Bireuen pada sore hari, sikap mereka tidak berubah. Mereka menolak dipindahkan ke tempat lebih layak.

Adapun pada Senin, 16 Maret 2026, para Pengungsi yang berjumlah puluhan jiwa, bersama dengan sejumlah elemen sipil menggelar unjuk rasa di depan kantor bupati.

Pada hari yang sama, Bupati Bireuen sedang berada di Banda Aceh dalam urusan dinas yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.

Para demonstran menyampaikan sejumlah tuntutan, termasuk kepastian kapan akan dibangunnya huntap dan status mereka sebagai korban bencana alam.

Dalam orasinya, pengunjuk rasa menyampaikan bahwa Bupati tidak memperdulikan mereka. Mereka mengatakan Bupati tidak pernah menjenguk pengungsi di tenda tersebut.

Baca Juga:  ​Damai di Kota Cakalang, Kedewasaan Toleransi Warga Bitung Hiasi Perayaan Natal 2025

Saat melayani aspirasi para pengunjuk rasa, Pemkab Bireuen melalui Asisten II Setdakab Bireuen Mawardi, S.STP.,M.Si, memberikan keterangan bahwa Pemerintah tetap memberikan perhatian kepada para pengungsi.
Perihal ketidakhadiran Bupati pada hari tersebut, karena sang kepala daerah sedang berada di Banda Aceh, melaksanakan tugasnya yang tidak bisa diwakili oleh pejabat lain.

Tuntutan pendemo yang meminta kepastian kapan huntap dibangun, Mawardi menjawab bila pemkab juga tidak bisa menjawab kapan. Karena seluruh kewenangan itu berada di tingkat Pusat.

Saat itu Mawardi mengajak korban bencana masuk ke dalam kantor. Mereka diminta membawa kartu keluarga dan KTP, supaya bisa diperiksa status mereka di dalam data jitupasna. Bila nanti ada pengungsi yang belum masuk dalam data, maka akan diusulkan kembali. Bila ada yang sudah masuk dalam data serta sudah mendapatkan DTH, juga akan terlihat di sana.

Kala ajakan itu disampaikan, beberapa korban bersedia. Tapi cepat-cepat dicegah oleh beberapa pendemo lainnya.

Karena tidak adanya kata sepakat, seusai membacakan petisi, pendemo membubarkan diri. Penyintas bencana kembali ke tenda dan mengatakan tidak akan pulang sebelum Bupati memberikan kepastian.

Dari kronologis di atas dapat disimpulkan, bahwa pernyataan pendemo bahwa Bupati tidak pernah menjenguk pengungsi, merupakan pernyataan yang keliru.

Kemudian, Pemerintah Bireuen telah mencoba memberikan solusi hunian sementara kepada penyintas, tapi ditolak. Saat diajak memeriksa data, mereka juga menolak.

Deadlock yang timbul bukan karena Pemkab Bireuen tidak kooperatif, tapi karena pengungsi dan pendemo menolak diberikan solusi.

Bila keadaan seperti ini terus berlanjut, tentu kasihan para pengungsi. Apalagi beberapa hari ke depan Idulfitri 1447 Hijriah akan tiba. Tidak ada kenikmatan lebih indah selain berkumpul di kampung sendiri, merayakan Lebaran, meski dalam keadaan yang serba terbatas.

Kiranya marilah kita semua bersatu padu, secara bersama-sama bersedia saling mencarikan jalan terbaik. Jangan terlibat dalam debat tak berujung, bila yang ingin dicapai adalah terbelanya para korban bencana alam.

Percayalah, Pemkab Bireuen dan kita semua memiliki cinta yang sama besar, kepedulian yang sama besar untuk para pengungsi. Marilah kita bekerja sama saja demi mereka. Jangan biarkan pengungsi bertahan lebih lama di bawah tenda di kantor bupati, karena Pemerintah dari lini terbawah hingga teratas, sedang bekerja untuk mempercepat proses penanganan pascabencana.

Juru Bicara Pemkab Bireuen
Muhajir Juli

Berita Terkait

Demi Keselamatan Raja Ampat, Kepala BPBD Ingatkan Warga Hentikan Pembakaran Lahan
BREAKING NEWS: Lonobi Membara, Tim Gabungan Berjibaku di Tebing Terjal
Rp1,27 Triliun di APBD Perubahan 2026, Wabup Raja Ampat Ajak Semua Pihak Kawal Pembangunan
Ketika Sensasi Menggeser Etika: Geuchik Aron Geulumpang VII Disudutkan Berita Pungli Diduga Tanpa Konfirmasi
Saweu Keude Kopi, Kapolsek Idi Tunong Ajak Warga Waspadai Hoaks dan Narkoba
Minimalisir Dampak Banjir, BWS Diminta Bangun Tanggul Pengaman Lawe Bula
APBD Perubahan Raja Ampat Tembus Rp1,27 Triliun, Belanja Naik Rp134 Miliar
Polres Langsa Ungkap 46,6 Kg Sabu Jaringan Malaysia, Nilainya Capai Rp13,2 Miliar
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:33

Demi Keselamatan Raja Ampat, Kepala BPBD Ingatkan Warga Hentikan Pembakaran Lahan

Senin, 28 September 2026 - 15:29

BREAKING NEWS: Lonobi Membara, Tim Gabungan Berjibaku di Tebing Terjal

Senin, 28 September 2026 - 14:25

Imigrasi Ngurah Rai Deportasi 18 WNA dalam Sepekan, Diantaranya Terlibat Prostitusi

Senin, 28 September 2026 - 12:21

Tiga Aplikasi, Ujian Baru Perizinan

Senin, 28 September 2026 - 10:49

TTI Desak LKPP Instruksikan Pengguna Anggaran Lengkapi Data Paket di SiRUP

Senin, 28 September 2026 - 09:24

Ketika Sensasi Menggeser Etika: Geuchik Aron Geulumpang VII Disudutkan Berita Pungli Diduga Tanpa Konfirmasi

Senin, 28 September 2026 - 09:02

Bentuk Tim Asesmen Terpadu, BNN Denpasar Tekankan Penindakan Tegas dan Rehabilitasi Humanis

Senin, 28 September 2026 - 08:57

Saweu Keude Kopi, Kapolsek Idi Tunong Ajak Warga Waspadai Hoaks dan Narkoba

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Tiga Aplikasi, Ujian Baru Perizinan

Senin, 28 Sep 2026 - 12:21