Menanti Kereta, Menyapa Senja di Tengah Sawah

- Editor

Selasa, 22 Juli 2025 - 11:37

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Langkat | TribuneIndonesia.com

Di tengah gempuran budaya digital dan gaya hidup modern, masyarakat Kwala Begumit, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tetap memelihara tradisi sederhana yang kaya nilai kebersamaan. Setiap sore, terutama di akhir pekan atau hari libur, warga lokal maupun pendatang menyempatkan waktu duduk di tepi sawah untuk menikmati senja dan menanti kereta api melintas.

Pemandangan ini menjadi rutinitas khas warga setempat. Di jalur pematang sawah yang berbatasan langsung dengan rel kereta api, keluarga-keluarga datang membawa tikar, makanan ringan, dan minuman hangat. Mereka berkumpul sambil menikmati semilir angin sore dan panorama langit jingga yang membingkai siluet perbukitan di kejauhan.

Jon, salah seorang warga setempat, mengaku kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Kwala Begumit. “Sudah jadi kebiasaan kami di sini. Menjelang magrib, duduk-duduk di pinggir sawah sambil menunggu kereta lewat. Sekalian bawa anak, istri, atau tetangga. Suasananya damai,” ujar Jon saat ditemui, Selasa (22/7).

Ia menyebutkan waktu paling ideal untuk menikmati suasana tersebut adalah pukul 17.00 hingga 18.30 WIB. Saat itu, udara terasa lebih sejuk, cahaya matahari tidak terlalu menyengat, dan suasana sekitar jauh dari kebisingan kota.

“Kalau sudah jam segitu, anginnya adem, langit juga cantik. Pas sekali buat bersantai. Sering juga kami bawa kopi sendiri dari rumah,” tambahnya.

Daya tarik utama yang dinantikan warga adalah momen ketika kereta api melintas dari arah Kota Binjai menuju Stasiun Kwala Bingai. Suara gemuruhnya dari kejauhan membangun antisipasi tersendiri bagi pengunjung.

“Bagi anak-anak, itu momen yang seru. Sementara bagi kami orang tua, itu seperti jeda yang menyegarkan setelah sepekan bekerja,” ungkap Jon.

Selain sebagai ruang rekreasi keluarga, jalur sawah di Kwala Begumit juga dimanfaatkan sebagai area olahraga. Anton, warga lainnya, mengaku rutin berolahraga di lokasi tersebut setiap akhir pekan.

Baca Juga:  Dari Kebun Sawit Menuju Lumbung Pangan: Harapan Baru dari Padi Gogo

“Saya biasanya jogging pagi dan sore hari di sini. Udara segar, pemandangan terbuka, dan yang paling penting tidak terlalu ramai. Apalagi lokasinya dekat dari SMA Negeri 1 Binjai, jadi cukup strategis,” ujarnya.

Menurut Anton, suasana Kwala Begumit mampu memberikan efek menenangkan. “Di tengah rutinitas kerja, tempat ini semacam ruang jeda untuk bernapas. Cukup duduk, lihat sawah dan kereta lewat, rasanya hati lebih lega,” katanya.

Hal yang membedakan Kwala Begumit dari destinasi senja lainnya adalah interaksi sosial yang tumbuh secara organik. Di lokasi ini, pengunjung tidak larut dalam gawai, tidak sibuk mengunggah momen ke media sosial. Sebaliknya, mereka hadir secara utuh: berbagi tawa, cerita, bahkan keheningan.

Ketika kereta melintas, deru mesinnya menjadi penanda akhir dari sore yang damai. Sebagian warga mengabadikan momen tersebut melalui foto, namun lebih sebagai kenangan personal daripada konten daring.

“Suara kereta itu seperti penutup hari. Setelah itu, kami biasanya beres-beres lalu pulang. Tapi setiap pulang dari sini, hati terasa penuh,” ujar Anton sambil tersenyum, usai berfoto bersama istri dan anak-anaknya berlatar rel dan langit senja.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, Kwala Begumit menghadirkan pelajaran berharga: bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di tengah kesederhanaan. Sawah, langit senja, semilir angin, dan suara kereta yang lewat menjadi harmoni alami yang tak ternilai.

Tradisi warga Kwala Begumit bukan semata tentang menanti kereta, tetapi tentang meluangkan waktu untuk hadir bersama orang-orang tercinta, menyatu dengan alam, dan menghargai detik-detik kebersamaan. Sebuah kebiasaan yang bukan hanya layak dipertahankan, tetapi juga dicontoh. (#)

Berita Terkait

Ketika Jabatan Lebih Ditentukan Jaringan Daripada Kemampuan, Quo Vadis Kepemimpinan Indonesia?
Selamat Hari Kemerdekaan ke-81 Bangsa Indonesia
Mengapa Bangsa Ini Tidak Maju?
Pemimpin yang Membangun, Pemimpin yang Menghancurkan
Kemerdekaan yang Tak Selesai di Atas Kertas
Jangan Jadi Pemimpin Ambisius — Peradaban Bangsa Dibangun oleh Guru
Maju ke Listrik, Tetapi Jangan Hilangkan Minyak Sebelum Siap
Janji Manis Tanpa Bukti — Kesejahteraan Guru yang Selalu Ditunda
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 14:47

Jangan Jadikan Anak sebagai Objek Polemik, DPRK Otsus Minta Persoalan OAP Diserahkan kepada Pokja MRP PBD

Selasa, 8 September 2026 - 14:32

Disetujui Lima Fraksi DPRD, Perumda Air Minum Duasudara Bitung Tancap Gas Benahi Infrastruktur

Selasa, 8 September 2026 - 14:08

Pekerjaan Drainase Simpang Tembakau Deli Mulai Berbenah, Pekerjaan CV Yudha Pratama Dinilai Semakin Rapi

Selasa, 8 September 2026 - 13:23

Ketua DPRK: Jangan Biarkan Masyarakat dalam Ketidakpastian

Selasa, 8 September 2026 - 12:34

Seleksi IPDN Raja Ampat Disorot DPRK Otsus: Jangan Ada Standar Ganda OAP

Selasa, 8 September 2026 - 12:05

Status OAP Peserta Afirmasi IPDN Raja Ampat Dipertanyakan, DPRK Otsus: Jangan Jadikan Anak sebagai Objek Persoalan

Selasa, 8 September 2026 - 11:11

Lampu Merah Simpang Empat Kebet Padam, Padam Atau Ancaman Keselamatan Pengguna Jalan

Selasa, 8 September 2026 - 11:05

BPBD Kota Bitung Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Bencana di Pinasungkulan

Berita Terbaru

Headline news

Ketua DPRK: Jangan Biarkan Masyarakat dalam Ketidakpastian

Selasa, 8 Sep 2026 - 13:23

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x