Kartini dalam Lintasan Nasionalisme Indonesia

- Editor

Senin, 21 April 2025 - 12:45

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Budi Kastowo, SE

Tribuneindonesia.com

21 April 2025 ialah peringatan 146 tahun kelahiran RA. Kartini. Pahlawan emansipasi antara pria dan wanita. Menolak diskriminasi sekaligus menuntut perlakuan yang sama antara pria dan wanita. Barangkali sebuah ironi ketika menuntut pria yang masih terjajah dengan imperialisme, kapitalisme, kolonialisme. Emansipasi pada saat itu hanya akan menghasilkan persamaan kedudukan sebagai bangsa terjajah. Pria dan wanita memiliki kedudukan sama sebagai satu bangsa terjajah.

Politik etik yang digagas Van Deventer dilatar belakangi sebuah kesadaran bahwa bangsa Belanda memiliki hutang budi kepada bangsa Nusantara. Maka dari itu dirasakan perlu untuk membalas budi. Balas budi diwujudkan dalam program edukasi, irigasi, transmigrasi.

Disaat yang sama munculah perempuan muda cerdas dari keluarga bangsawan di Jepara Jawa Tengah namanya RA.Kartini.

RA Kartini suka berkorespondensi dengan sahabat penanya. Antara lain Stella Zehandelar, Ny Van Kol, Ny Abendanon.. Dalam tulisannya mengungkapkan segala pikiranya tentang kemajuan, kemerdekaan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

Politik Etik.

Ketika satu sayap politik memenangkan suara dalam satu konstelasi politik maka akan mengangkat ide menjadi program kerjanya. Artinya ini adalah dinamika politik yang bisa bergeser setiap periode. Bahkan dalam pelaksanaan program politik tidak semua komponen mendukung.

Bung Karno dalam Indonesia Menggugat menuliskan edukasi, irigasi, transmigrasi seakan – akan memakmurkan bangsa pribumi, namun nyatanya yang banyak mengambil manfaat tetap kaum kapitalis.
Ditangan kaum kapitalis segala program ditujukan melestarikan penjajahan. Adalah naif ketika membiarkan pribumi untuk menggiatkan *Literasi Kebangsaan*.

RA Kartini sebagai pegiat literasi cocok untuk mendukung program kerja politik etik. Tapi sangat terlarang untuk bicara kebangsaan menuju kemerdekaan. Barangkali ini juga salah satu spekulasi bahwa RA. Kartini berumur pendek.

Baca Juga:  Indonesia di Persimpangan Krisis: Ketika Rakyat Menanggung Beban, Elit Sibuk dengan Pencitraan

Pahlawan Nasional.

Presiden RI Ir. Sukarno pada Mei 1964 memberikan gelar Pahlawan. Pahlawan ialah orang yang memiliki jasa perjuangan lebih untuk nasionalisme dan patriotisme.

Tahun 1964 adalah tahun krusial dimana Ir. Sukarno sedang Vivere Verikoloso. Ingin memperjuangkan kemerdekaan bagi seluruh umat manusia didunia otomatis mengelimirir kapitalisme diseluruh dunia.

Paradoks Kartini barangkali dijawab Ir. Sukarno bahwa perjuangan dalam bentuk literasi tidak kalah gunanya dengan pertempuran fisik yang di jalani oleh, antara lain: Cut Nya Dien, Cristina Marta Tiahahu, Nyi Ageng Serang, Ratu Kalinyamat.

Pena bisa menjadi senjata tidak kalah tajam dibanding dengan senjata atau bedil.

Nasionalisme ialah roh pembentukan kedaulatan lebih manusiawi ditegakkan dengan pena literasi.

INPIRASI

Perempuan harus mengerti perempuan dan laki – laki.
Laki – laki harus mengerti laki – laki dan perempuan. Laki – laki harus bergotong royong dengan laki – laki juga dengan perempuan. Laki – laki dan perempuan yang hakekatnya sama namun wujudnya berbeda. Bhinneka Tunggal Ika artinya berbeda namun hakekatnya sama. Yang sama ialah bahan penyusunnya dari sari pati alam semesta yakni tanah, air, angin dan api. Yang sama ialah ruh hidup manusia yang berasal dari satu Tuhan Yang sama.

Manusia terlahir dari gotong royongnya laki laki dan perempuan. Ini adalah firman Tuhan yang nyata. Jangan sampai feminisme atau emansipasi memperuncing perbedaan dalam proses dinamik membangun persatuan kesatuan kebangsaan. ( */Red )

Berita Terkait

Maling Teriak Maling: Cermin Retaknya Integritas di Lingkar Kekuasaan
Waspada El Niño ! Ancaman Panas Ekstrem Mengintai, Masyarakat Diminta Siaga Sejak Dini
Perempuan Tidak Boleh Lagi Diam: Wajib Berpendidikan, Mandiri, dan Berani Melawan Ketidakadilan
Kemitraan  atau Penjinakan? Saat Media Dipaksa Tunduk, Pemerintah Abai pada Keadilan
Pemkab Aceh Tenggara Terapkan WFH Setiap Jumat, Ini Aturan Lengkapnya
Kesalahan Terindah
Rutin Konsumsi Bawang Merah Setiap Hari, Ini Manfaat dan Risikonya bagi Kesehatan
Lalat di Minuman Antara Hadits, Sains, dan Kesehatan Modern
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 15:53

Bantuan Kemanusiaan 1 Juta Rupiah untuk Warga Seuneubok Saboh, Harapan Masyarakat Terpenuhi

Kamis, 30 April 2026 - 12:41

Langkah Strategis Dalam Memperkuat Sinergi, Kejaksaan Bireuen Tanda Tangani MoU Dengan RSUD DR.Fauziah Bireuen

Kamis, 30 April 2026 - 11:36

Pelindo Resmi Terapkan Sistem Terintegrasi di Pelabuhan Bitung demi Efisiensi Global

Kamis, 30 April 2026 - 09:18

PT Jasa Raharja melaksanakan Program Intensifikasi Keselamatan Transportasi Berbasis Domisili Korban

Kamis, 30 April 2026 - 08:57

Pastikan Kamtibmas Kondusif, Kapolsek Matuari Pimpin Pengamanan Kompetisi Olahraga di Kota Bitung

Kamis, 30 April 2026 - 06:30

Diduga Gunakan Material Galian C Ilegal, Proyek PT HK Disorot Tajam: Bupati Aceh Tenggara Diminta Jangan Jadi Penonton

Kamis, 30 April 2026 - 06:26

STMA Trisakti Gelar Seminar Nasional Bahas Stabilitas Pertumbuhan Industri Perasuransian

Kamis, 30 April 2026 - 04:39

Kawal Progres Infrastruktur, Babinsa Dampingi Pengecoran Jembatan Perintis Garuda

Berita Terbaru

Feature dan Opini

Maling Teriak Maling: Cermin Retaknya Integritas di Lingkar Kekuasaan

Kamis, 30 Apr 2026 - 15:43

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x