Ketika Jabatan Lebih Ditentukan Jaringan Daripada Kemampuan, Quo Vadis Kepemimpinan Indonesia?

- Editor

Selasa, 8 September 2026 - 00:59

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Chaidir Toweren 

Tribuneindonesia.com – – Seorang untuk mendapatkan jabatan. Jika jabatan publik hanya diberikan berdasarkan kedekatan, maka sistem akan kehilangan nilai profesionalisme dan meritokrasi.

Jabatan bukan sekadar penghargaan atas hubungan baik dengan seseorang atau kelompok tertentu. Jabatan adalah amanah besar yang menyangkut kepentingan banyak orang. Seorang pejabat mengelola kebijakan, anggaran negara, serta keputusan yang dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Karena itu, kemampuan atau skill tetap menjadi fondasi utama. Seorang pejabat harus memiliki pemahaman terhadap bidang yang dipimpinnya, kemampuan manajemen, integritas, keberanian mengambil keputusan, serta komitmen terhadap kepentingan publik.

Bayangkan jika seseorang menduduki jabatan penting tetapi tidak memiliki kompetensi yang cukup. Dampaknya bukan hanya pada kinerja individu, tetapi juga dapat merugikan institusi dan masyarakat. Program yang tidak tepat sasaran, pelayanan publik yang buruk, serta kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat bisa menjadi akibat dari lemahnya kapasitas seorang pemimpin.

Dalam konteks ini, networking dan skill sebenarnya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan. Networking adalah kendaraan yang membantu seseorang membangun komunikasi dan memperluas pengaruh, sementara skill adalah mesin yang menentukan apakah kendaraan tersebut mampu membawa perubahan.

Seorang pejabat ideal bukan hanya orang yang mengenal banyak orang, tetapi juga orang yang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah. Ia bukan hanya pandai berbicara, tetapi mampu membuktikan melalui kerja nyata.

Sayangnya, dalam praktiknya, masyarakat sering melihat bahwa popularitas dan kedekatan terkadang lebih cepat membuka pintu kekuasaan dibandingkan prestasi dan kemampuan. Fenomena seperti ini dapat menimbulkan rasa tidak adil bagi mereka yang telah bekerja keras meningkatkan kapasitas tetapi tidak memiliki jaringan politik atau sosial yang kuat.

Baca Juga:  Sepotong Roti di Persimpangan Takdir Ketika Jalan Pintas Menuntun ke Lembah Hitam

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka budaya profesionalisme dalam pemerintahan akan semakin melemah. Orang-orang terbaik yang memiliki kemampuan bisa kehilangan motivasi karena merasa peluang tidak selalu ditentukan oleh prestasi.

Indonesia membutuhkan perubahan cara pandang dalam memilih dan menempatkan pejabat. Sudah saatnya ukuran utama bukan hanya siapa yang dekat dengan siapa, tetapi siapa yang paling mampu bekerja dan memberikan manfaat.

Seorang pejabat harus dinilai dari rekam jejak, kemampuan, integritas, dan hasil kerjanya. Hubungan politik boleh menjadi bagian dari perjalanan seseorang, tetapi jangan sampai mengalahkan prinsip kompetensi.

Rakyat tidak membutuhkan pejabat yang hanya pandai membangun citra atau memiliki banyak koneksi. Rakyat membutuhkan pemimpin yang hadir ketika ada masalah, mampu membuat keputusan yang tepat, dan memiliki keberanian memperjuangkan kepentingan umum.

Pada akhirnya, ungkapan bahwa “menjadi pejabat yang penting networking bukan skill” harus menjadi bahan refleksi bersama. Networking memang penting, tetapi tanpa kemampuan hanya akan melahirkan kekuasaan tanpa kualitas.

Bangsa yang maju bukan dibangun oleh orang-orang yang hanya memiliki akses menuju kekuasaan, tetapi oleh mereka yang memiliki kapasitas untuk menggunakan kekuasaan tersebut dengan benar.

Jabatan bukan tentang siapa yang paling dekat dengan pusat kekuasaan, melainkan siapa yang paling siap menjalankan tanggung jawab. Karena ukuran seorang pejabat bukan berapa banyak orang yang mengenalnya, tetapi berapa banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari kepemimpinannya.

Berita Terkait

Nelayan Meosmanggra Temukan Dugaan Bom Ikan di Waigeo Barat, Ketua HMNI Desak Aparat Bertindak
Surat Pembatalan Tugas dr. Laura Belum Dijawab Bupati, Dokter Tetap Layani Pasien Anak
Dari Sampah Menjadi Karya Seni: Miftahussakdan Dorong Kreativitas dan Kesadaran Lingkungan Melalui SavExpo
Surat Pembatalan Penugasan dr. Laura Belum Jelas, Pemkab Raja Ampat Belum Beri Kepastian
Xplore Indonesia Luncurkan Antologi Pemikiran Tokoh Nasional, Gaungkan Semangat Kebangsaan di Hari Sumpah Pemuda
Polemik Penugasan dr. Laura Christanty: Antara Dasar Hukum dan Keberlanjutan Layanan RSUD Waisai
GEGER! Kasus Pemindahan dr. Laura Cristanty,S.p.A.,Jadi Sorotan Nasional, Ribuan Pengguna Instagram Bereaksi
GEGER! DPRK Raja Ampat Kompak Tolak Pemindahan dr. Laura, Bupati Diminta Batalkan Surat Tugas
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 18:24

KAL Patola VIII-27 Dikerahkan dalam Operasi SAR Kapal MT Mika Zain Terbakar di Perairan Bitung

Minggu, 1 November 2026 - 12:15

Destinasi Wisata Kota Batu Kecamatan Simtim Kabupaten Simeulue Dipadati Wisatawan Lokal Saat Hari Reha

Minggu, 1 November 2026 - 10:24

PAJAK KAMI DITAGIH SAMPAI KE LIANG LAHAT, TAPI HAK KORBAN BANJIR DIABAIKAN?” PEPABRI, PENA PUJAKESUMA DAN TAMPERAK SOROT BANTUAN REHAB RUMAH ACEH TAMIANG

Minggu, 1 November 2026 - 06:56

Terpusat di Jakarta Secara Hibrida: Menkum RI Pimpin Penyerahan SK Kewarganegaraan Nasional yang Hubungkan Daerah dan Luar Negeri

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 03:59

Selesaikan Persoalan Tanpa Dokumen, Ratusan Warga Keturunan Filipina di Bitung Jalani Verifikasi Faktual Terakhir

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:57

Antisipasi Kemacetan Nataru 2027, IWO Bali Minta Komisi III DPRD Bali Perjuangkan Perbaikan Jalur Gilimanuk

Jumat, 30 Oktober 2026 - 22:40

Rumah Hampir Rampung, PBG di Percut Sei Tuan Dipertanyakan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:49

Tragedi Kebakaran Melanda Rumah Makan Rusni di Jantung Kota Bitung

Berita Terbaru