Ketika Tanah Leluhur Diambil — Tanda Peradaban yang Akan Hancur

- Editor

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:48

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta/Tribuneindonesia.com

Di seluruh dunia, sejarah berulang dengan pola yang sama: rakyat yang hidup berabad-abad di tanah leluhurnya, tiba-tiba kehilangan semuanya — bukan karena mereka pergi, bukan karena tanah itu bukan milik mereka — tetapi karena negara dengan sewenang-wenang mengambilnya, memberikan kepada pihak lain, dan meninggalkan rakyat yang berhak menderita tanpa perlindungan. Rabu 19 Agustus 2026

🇧🇼 Botswana — Suku San di Gurun Kalahari

Mereka tinggal di sana ribuan tahun sebelum negara Botswana berdiri. Namun pemerintah mengusir mereka — bukan untuk melindungi alam, melainkan setelah mereka pergi, tambang berlian justru dibuka di tanah leluhur mereka. Dilarang masuk, dilarang berburu, dibiarkan miskin di tanah yang kaya raya.

🇹🇿 Tanzania — Suku Maasai di Ngorongoro

Puluhan ribu orang Maasai yang telah menggembalakan ternak di sana turun-temurun, diusir paksa atas nama “konservasi alam”. Padahal selama berabad-abad merekalah yang menjaga alam itu sendiri. Tanah itu kemudian ditutup dan dikuasai negara untuk kepentingan lain.

🇧🇷 Brasil — Suku Yanomami dan Hutan Amazon

Tanah leluhur mereka dirambah oleh puluhan ribu penambang ilegal yang meracuni sungai dan menebang hutan, sementara pemerintah lambat bertindak. Anak-anak suku menderita kelaparan dan penyakit di tanah yang kaya sumber daya alamnya.

🇲🇲 Myanmar — Semua Tanah Milik Negara

Di sana, hukum menyatakan seluruh tanah milik negara — tidak ada pengakuan hak adat. Masyarakat adat di perbatasan yang hidup berabad-abad di sana tiba-tiba dianggap “pendatang”, lalu tanahnya diberikan kepada perusahaan dan militer. Rumah dibakar, rakyat diusir.

🇺🇸 Amerika Serikat — Tanah Bangsa Asli yang Dirampas

Hampir seluruh wilayah yang kini menjadi kota-kota besar Amerika Serikat dulunya adalah tanah bangsa-bangsa asli yang hidup di sana ribuan tahun. Namun melalui perjanjian yang tidak adil, kekuatan senjata, dan pengusiran paksa — tanah itu diambil, dan rakyat asli dipindahkan ke kawasan reservasi yang sempit.

Baca Juga:  Perang Narkoba Menggila! Polda Sumut Gulung 1.263 Tersangka, Sita Ratusan Kilogram Sabu dan Ribuan Pil Maut

🇮🇩 Indonesia — Juga Terjadi di Rumah Kita Sendiri

Di negeri ini pun — tanah adat yang dijaga ratusan tahun oleh masyarakat adat, tiba-tiba dinyatakan sebagai “kawasan hutan negara”, lalu diberikan kepada perusahaan sawit, tambang, atau proyek pembangunan. Warga digusur, rumah diratakan, dan ketika mereka protes — justru mereka yang ditangkap. Padahal tanah itu milik mereka sebelum negara ini berdiri.

⚠️ Inilah Tanda Peradaban yang Akan Hancur

Semua ini bukan sekadar cerita dari negeri lain. Ini adalah peringatan keras bagi setiap bangsa dan setiap pemimpin:

Ketika penguasa berani mengambil tanah yang telah diwariskan turun-temurun berabad-abad — tanpa ganti rugi, tanpa persetujuan, tanpa rasa bersalah — itu bukan kemajuan. Itu adalah tanda bahwa peradaban itu sedang runtuh dari dalam.

Tanah itu bukan milik negara. Negara lahir kemudian — tanah itu sudah ada jauh sebelum bendera dikibarkan, jauh sebelum undang-undang ditulis, jauh sebelum pemimpin pertama duduk di kursi kekuasaan. Tanah itu milik mereka yang lahir di atasnya, yang menjaganya, yang menguburkan nenek moyangnya di sana — dari generasi ke generasi.

Jika negara tidak melindungi rakyatnya di tanah leluhurnya sendiri — maka negara itu gagal menjalankan tugas yang paling dasar. Dan sejarah mencatat: bangsa yang merampas tanah rakyatnya sendiri — tidak akan bertahan lama. Sebab apa yang diambil dengan kekuasaan, suatu hari akan diambil kembali oleh kebenaran.

Inilah peringatan bagi kita semua: Jangan sampai tanah leluhur diambil, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya hanya sebagai cerita ratapan. Karena ketika tanah hilang — budaya hilang, identitas hilang, dan peradaban itu pun lenyap, hanya menjadi catatan sejarah yang ditulis dengan air mata.

Berita Terkait

Belajarlah kepada India — Bukan Meniru, Tapi Membangun Peradaban Sendiri
Kerajaan Babilon: Kekuasaan yang Lupa Pencipta
Bangsa Kaya yang Terjatuh karena Melupakan Rakyat
Kesombongan yang Menjatuhkan
Jangan Biarkan Bangsa Ini Berakhir dengan Ratapan Sejarah
Krisis Kepercayaan — Saatnya Kembali Membangun Kesejahteraan
Kemerdekaan Sejati — Hak Setiap Daerah, Kewajiban Setiap Pemimpin
Senjata Tidak Bisa Mengalahkan Cinta Rakyat pada Tanah Air
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 16:17

Ketua DPRK Ade Fadly Pranata Bintang Pimpin Rapat Banggar, Pertanggungjawaban APBK 2025 Dibahas Secara Kritis dan Menyeluruh

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:45

Konfrontir yang Mendadak Batal ! kejari Deli Serdang Tak tau malu

Rabu, 19 Agustus 2026 - 00:47

Rudenim Denpasar Detensi Dua WNA Asal Jerman dan Norwegia yang Overstay

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:03

Dugaan Praktik Penadahan dan Pinjaman Ilegal di Aceh Tengah Disorot, GMNI Dorong Penegakan Hukum

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:55

Karutan I Medan: Kami Tidak Alergi Pemberitaan demi Perbaikan, Tapi Jangan Fitnah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:43

Ribuan Balok Kayu Diamankan di Asahan, GRPK Menagih Jejak Penanganan Kasus Illegal Logging

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:35

Pabrik Miras di Bogor Didemo ormas Islam Buntut Skandal Penistaan di Event The Sounds Project, Sepakat Berhenti Beroperasi 7 Hari

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:23

Perpustakaan Kampung Kung Raih Juara 1 Tingkat Aceh, Siap Wakili Provinsi di Ajang Nasional

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Digitalisasi Adminduk, Calo Masih Mengintai

Rabu, 19 Agu 2026 - 15:43