BEKASI/Tribuneindonesia.com
Mengapa bangsa ini terus berjalan di tempat? Karena program dibuat bertumpuk-tumpuk, tetapi tidak berpijak pada akal sehat. Banyak rencana, banyak janji, banyak pidato — tetapi yang paling mendasar justru dilupakan. Guru tidak disejahterakan, pendidik tidak dihormati, dan gaji yang layak selalu ditunda dengan alasan yang tidak pernah habis. Senin 17 Agustus 2026
Sebaliknya, kekuatan selalu condong ke senjata. Bukan bahwa pertahanan tidak penting — ia memang perlu ada. Tetapi itu adalah hal yang terakhir, bukan yang pertama. Yang utama adalah rakyat makmur, keadilan tegak, dan pengajar dihargai. Kalau fondasi itu rapuh, seberapa kuat pun senjata yang dimiliki — bangsa ini tetap berdiri di atas tanah yang goyah.
Kekerasan yang diulang terus-menerus tidak akan menyatukan negeri. Kekerasan demi kekerasan justru menciptakan pemisahan yang semakin dalam, yang tidak akan bisa disalahkan kepada siapa pun kecuali kepada mereka yang memilih jalan menekan daripada mendengar.
Tidak ada satu pun lembaga — eksekutif, legislatif, maupun yudikatif — yang berhak menghukum rakyat yang membela kebenaran. Tidak ada yang berhak menutup telinga ketika rakyat berbicara. Ketika telinga penguasa tertutup, ketika hukum tidak terdengar, ketika sumber daya alam diambil dari daerah-daerah dan hasilnya tidak pernah kembali ke rakyat yang tanahnya diambil — maka itu bukan pemerintahan. Itu perampasan yang disembunyikan di balik aturan.
Almarhum Abdurrahman Wahid, Gus Dur, pernah memperingatkan dengan lantang: “Negara ini tidak akan maju selama kita lebih percaya pada senjata daripada pada pendidikan. Bangsa yang melupakan gurunya, sedang melupakan masa depannya sendiri.”
Beliau menegaskan: “Kekuasaan tidak boleh menutup telinga dari kebenaran. Kalau pemerintah tidak mau mendengar rakyat, maka rakyat berhak mencari jalan lain agar suaranya didengar. Tidak ada hukum yang boleh membungkam kebenaran.”
Tentang sumber daya alam, Gus Dur berkata: “Kekayaan yang ada di bumi daerah itu adalah milik rakyat yang hidup di atasnya. Kalau diambil lalu dibawa ke pusat dan tidak kembali ke rakyat di sana — itu namanya merampok, bukan mengelola.”
Dan tentang pemimpin yang terlalu banyak program tanpa akal sehat: “Banyak rencana tidak berarti baik. Yang baik adalah yang adil. Yang bertahan adalah yang benar. Segala sesuatu yang tidak berpijak pada kebenaran, sekalipun dibangun dengan kekuatan besar, pada akhirnya akan runtuh sendiri.”
Maka inilah jawabannya: bangsa ini tidak maju bukan karena kurang program, bukan karena kurang senjata, bukan karena kurang aturan. Ia tidak maju karena urutannya terbalik — yang seharusnya diutamakan justru diakhirkan, yang seharusnya melayani justru dilayani, dan kebenaran justru ditutup telinga oleh mereka yang paling berkewajiban mendengarnya.
Kembalikan kesejahteraan kepada guru. Kembalikan kekayaan alam ke rakyat di tanahnya. Dan bukalah telinga — sebelum rakyat berhenti berbicara.






















