Mengapa Bangsa Ini Tidak Maju?

- Editor

Senin, 17 Agustus 2026 - 01:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BEKASI/Tribuneindonesia.com

Mengapa bangsa ini terus berjalan di tempat? Karena program dibuat bertumpuk-tumpuk, tetapi tidak berpijak pada akal sehat. Banyak rencana, banyak janji, banyak pidato — tetapi yang paling mendasar justru dilupakan. Guru tidak disejahterakan, pendidik tidak dihormati, dan gaji yang layak selalu ditunda dengan alasan yang tidak pernah habis. Senin 17 Agustus 2026

Sebaliknya, kekuatan selalu condong ke senjata. Bukan bahwa pertahanan tidak penting — ia memang perlu ada. Tetapi itu adalah hal yang terakhir, bukan yang pertama. Yang utama adalah rakyat makmur, keadilan tegak, dan pengajar dihargai. Kalau fondasi itu rapuh, seberapa kuat pun senjata yang dimiliki — bangsa ini tetap berdiri di atas tanah yang goyah.

Kekerasan yang diulang terus-menerus tidak akan menyatukan negeri. Kekerasan demi kekerasan justru menciptakan pemisahan yang semakin dalam, yang tidak akan bisa disalahkan kepada siapa pun kecuali kepada mereka yang memilih jalan menekan daripada mendengar.

Tidak ada satu pun lembaga — eksekutif, legislatif, maupun yudikatif — yang berhak menghukum rakyat yang membela kebenaran. Tidak ada yang berhak menutup telinga ketika rakyat berbicara. Ketika telinga penguasa tertutup, ketika hukum tidak terdengar, ketika sumber daya alam diambil dari daerah-daerah dan hasilnya tidak pernah kembali ke rakyat yang tanahnya diambil — maka itu bukan pemerintahan. Itu perampasan yang disembunyikan di balik aturan.

Almarhum Abdurrahman Wahid, Gus Dur, pernah memperingatkan dengan lantang: “Negara ini tidak akan maju selama kita lebih percaya pada senjata daripada pada pendidikan. Bangsa yang melupakan gurunya, sedang melupakan masa depannya sendiri.”

Baca Juga:  Jadup Bukan Sulap: Jangan Politisasi Perjuangan, Beri Kesempatan Jeffry Sentana Bekerja

Beliau menegaskan: “Kekuasaan tidak boleh menutup telinga dari kebenaran. Kalau pemerintah tidak mau mendengar rakyat, maka rakyat berhak mencari jalan lain agar suaranya didengar. Tidak ada hukum yang boleh membungkam kebenaran.”

Tentang sumber daya alam, Gus Dur berkata: “Kekayaan yang ada di bumi daerah itu adalah milik rakyat yang hidup di atasnya. Kalau diambil lalu dibawa ke pusat dan tidak kembali ke rakyat di sana — itu namanya merampok, bukan mengelola.”

Dan tentang pemimpin yang terlalu banyak program tanpa akal sehat: “Banyak rencana tidak berarti baik. Yang baik adalah yang adil. Yang bertahan adalah yang benar. Segala sesuatu yang tidak berpijak pada kebenaran, sekalipun dibangun dengan kekuatan besar, pada akhirnya akan runtuh sendiri.”

Maka inilah jawabannya: bangsa ini tidak maju bukan karena kurang program, bukan karena kurang senjata, bukan karena kurang aturan. Ia tidak maju karena urutannya terbalik — yang seharusnya diutamakan justru diakhirkan, yang seharusnya melayani justru dilayani, dan kebenaran justru ditutup telinga oleh mereka yang paling berkewajiban mendengarnya.

Kembalikan kesejahteraan kepada guru. Kembalikan kekayaan alam ke rakyat di tanahnya. Dan bukalah telinga — sebelum rakyat berhenti berbicara.

Berita Terkait

Pemimpin yang Membangun, Pemimpin yang Menghancurkan
Kemerdekaan yang Tak Selesai di Atas Kertas
Jangan Jadi Pemimpin Ambisius — Peradaban Bangsa Dibangun oleh Guru
Maju ke Listrik, Tetapi Jangan Hilangkan Minyak Sebelum Siap
Janji Manis Tanpa Bukti — Kesejahteraan Guru yang Selalu Ditunda
Transisi Energi: Yang Listrik Silakan, Yang Minyak Tetap Berjalan
Jangan Paksa Rakyat Pilihan Kendaraan, Bangunlah Kemandirian dan Pilihan yang Adil
Bangunlah Transportasi Umum yang Memadai, Bukan Memaksa Rakyat Mengganti Kendaraan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 01:09

DARI PEKARANGAN KE LUMBUNG: TAMBULAPOT ANGGUR JUPITER BUKTI KOLABORASI KETAHAN PANGAN SIMEULUE

Minggu, 16 Agustus 2026 - 00:58

Di Usia 81 Tahun Kemerdekaan Ko, Kito Ingek Balik Perjuangan Nenek Moyang kito. Dulu Urang Tuo Kito Berjuang Dengan Darah Dan AIE Mato, Demi Kemerdekaan ko

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:27

ASITA Bali Respon Positif Pengawasan dan Penindakan WNA Bermasalah Oleh Imigrasi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:25

Perkuat Sinergitas Forkopimda, Pemkot Bitung Sukses Gelar Upacara Taptu Jelang Hari Kemerdekaan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 10:59

Pengukuhan Paskibraka Bitung 2026: Hengky Honandar Titip Pesan Wujudkan Harmonisasi Daerah

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:55

Proyek P3-TGAI Desa Kuning I Disorot, Plang Tak Terlihat dan TPM Diduga Membiarkan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:09

P3-TGAI Desa Kuning I Disorot Tajam, TPM Diduga Tutup Mata: “Kalau Melihat, Kenapa Diam?”

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:29

Pencuri Kabel Tower XL Smart di Aceh Tamiang Dibekuk, Satu Pelaku Diamankan

Berita Terbaru

Feature dan Opini

Mengapa Bangsa Ini Tidak Maju?

Senin, 17 Agu 2026 - 01:35

Feature dan Opini

Pemimpin yang Membangun, Pemimpin yang Menghancurkan

Senin, 17 Agu 2026 - 01:20