TribuneIndonesia.com I Deli Serdang-Panen cabai ke-17 di Desa Payabakung, Kecamatan Hamparan Perak pada,Rabu 5 Agustus 2026, menghadirkan dua wajah berbeda. hamparan tanaman menghasilkan panen berulang, tetapi persoalan distribusi pupuk bersubsidi masih menjadi pekerjaan yang belum tuntas. Persoalan itu muncul justru saat hasil panen memperlihatkan potensi produksi pertanian wilayah tersebut.
dr. H. Asri Ludin Tambunan hadir bersama Lom Lom Suwondo memetik cabai di lahan sekitar lima rante. Perhatian tidak berhenti pada hasil panen. Sorotan diarahkan kepada jalur distribusi pupuk bersubsidi, terutama praktik penjualan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Peringatan disampaikan kepada seluruh kios penyalur agar mematuhi ketentuan harga. Pelanggaran terhadap HET dinilai berpotensi mengurangi akses petani terhadap pupuk bersubsidi sekaligus membebani biaya produksi. Persoalan harga pupuk selama ini berulang muncul pada berbagai sentra pertanian dan menjadi sumber keluhan petani.
Fokus lain tertuju pada Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Penyuluh Pertanian Lapangan diminta lebih aktif memastikan petani tercatat pada daftar tersebut. RDKK dipandang menjadi pintu utama agar pupuk bersubsidi tersalurkan sesuai ketentuan. Tanpa pencatatan, peluang memperoleh pupuk bersubsidi makin kecil.
Pendampingan lapangan juga diperluas melalui penambahan Penyuluh Pertanian Lapangan swadaya. Langkah itu diarahkan agar pengawasan distribusi pupuk serta pembinaan petani berlangsung lebih efektif, terutama pada wilayah sentra produksi.
Kepala Desa Payabakung, Pariono, menyebut areal persawahan mencapai sekitar 595 hektare. Menurutnya, hasil pertanian mulai menunjukkan perkembangan positif. Pengawasan distribusi pupuk turut melibatkan perangkat desa bersama Babinsa agar penyaluran mengikuti aturan.(Ilham Gondrong)


















