Langsa | TribuneIndonesia.com – Polemik pemberhentian empat perangkat Gampong Suka Jadi Kebun Ireng, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, terus menjadi sorotan publik. Dugaan adanya unsur balas dendam politik pasca Pemilihan Geuchik (Pilchiksung) mencuat setelah beredar pernyataan dalam pidato Geuchik Suka Jadi Kebun Ireng yang menyebut akan mengganti perangkat gampong yang tidak mendukung dirinya saat kontestasi pemilihan geuchik ( Rekaman pidato ada pada redaksi).
Dalam pidatonya, geuchik terpilih diduga menyampaikan bahwa dirinya tidak akan melupakan orang-orang yang telah membantu memenangkan dirinya dalam pemilihan. Ia juga disebut menyatakan akan mengganti perangkat gampong yang tidak mendukungnya, karena sebelumnya telah mengingatkan mereka jauh-jauh hari.
Pernyataan tersebut kini menjadi sorotan, karena diduga menjadi alasan utama di balik pemberhentian empat perangkat Gampong Suka Jadi Kebun Ireng yang sebelumnya bertugas melayani masyarakat.
Sejumlah warga menilai langkah tersebut bertentangan dengan semangat rekonsiliasi setelah pemilihan geuchik. Sebab, jabatan perangkat gampong bukanlah alat politik untuk membalas dukungan maupun perbedaan pilihan dalam pesta demokrasi tingkat desa.
Padahal, Wali Kota Langsa Jeffry Sentana S Putra, SE, dalam amanatnya saat melantik seluruh geuchik hasil Pemilihan Geuchik Serentak Kota Langsa, telah mengingatkan agar para geuchik tidak mengganti perangkat gampong hanya karena berbeda pilihan politik.
Wali Kota menegaskan bahwa geuchik terpilih harus mampu merangkul seluruh masyarakat tanpa membedakan siapa yang mendukung maupun tidak mendukung saat pemilihan berlangsung.
“Setelah pemilihan tidak ada lagi geuchik si A, si B ataupun si C. Semua harus bersatu untuk membangun gampong,” demikian pesan Wali Kota Langsa dalam amanat pelantikan tersebut.
Namun, dugaan pergantian perangkat gampong di Suka Jadi Kebun Ireng justru memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Apakah pemberhentian tersebut benar-benar berdasarkan kebutuhan administrasi dan kinerja, atau ada kaitannya dengan dinamika politik saat pemilihan geuchik berlangsung?
Sebelumnya, saat dikonfirmasi awak media, Geuchik Suka Jadi Kebun Ireng disebut berkelit bahwa pergantian perangkat gampong tersebut merupakan permintaan masyarakat. Nanti kalau ada yang konfirmasi lagi dirinya menjawab mengundur diri. Pernyataan itu menuai tanda tanya karena dinilai tidak sejalan dengan informasi yang berkembang di lapangan.
Bahkan, informasi yang diperoleh menyebutkan hingga saat ini belum ada pemanggilan resmi terhadap empat perangkat yang diberhentikan sebagaimana sebelumnya disampaikan oleh geuchik.
Salah seorang penggerak Forum Aksi Masyarakat Sipil Kota Langsa (SOMASI) menilai, jika benar pemberhentian perangkat dilakukan karena alasan perbedaan pilihan politik, maka hal tersebut dapat mencederai nilai demokrasi dan semangat pembangunan gampong.
“Pemilihan geuchik sudah selesai. Saatnya membangun, bukan membuka kembali luka politik. Perangkat gampong harus dinilai berdasarkan aturan, kinerja, dan kebutuhan pemerintahan, bukan karena pilihan politik,” ujar salah seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan.
Masyarakat kini berharap Pemerintah Kota Langsa melalui instansi terkait dapat melakukan klarifikasi dan memastikan setiap pemberhentian perangkat gampong berjalan sesuai aturan yang berlaku.
Sebab, amanat kepemimpinan seorang geuchik bukan hanya untuk pendukungnya, tetapi untuk seluruh masyarakat gampong tanpa terkecuali. (Tim)


















