Bitung | Tribuneindonesia.com – Guna meningkatkan mutu lulusan yang siap kerja dan selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kota Bitung terus mematangkan program unggulannya, Rabu (15/07/26).
Selain menggratiskan biaya Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan Uji Kompetensi Keahlian (UKK), sekolah ini juga memperpanjang durasi magang bagi tenaga pendidik (guru).
Plt. Kepala SMK Negeri 1 Bitung, Drs. Christo A. Lewan menjelaskan bahwa sekolah yang dipimpinnya saat ini memiliki tujuh jurusan atau program keahlian yang aktif, antara lain Manajemen Perkantoran, Bisnis Ritel, Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Usaha Layanan Wisata (ULW), Akomodasi Perhotelan, Kuliner, serta Teknik Kendaraan Ringan (TKR).
”Untuk program PKL dan UKK bagi siswa kelas 12 yang baru lulus kemarin, kami pastikan semuanya gratis tanpa pungutan biaya dari orang tua, di luar kebutuhan seragam yang mereka siapkan secara mandiri. Kami berupaya memaksimalkan anggaran yang ada agar tidak membebani wali murid,”
ujar Kepsek saat memberikan keterangan pada awak media, Selasa (14/07).
Dalam penerapan kurikulum praktis, pihak sekolah mengambil kebijakan mempercepat pemberangkatan siswa TKR ke tempat magang agar memiliki waktu yang lebih luang untuk menyerap ilmu langsung di lapangan.
”Semakin lama anak-anak berada di dunia usaha dan dunia industri, maka akan semakin baik bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan langsung di lapangan kerja,”
jelasnya.
Tidak hanya fokus pada siswa, sekolah juga menjalankan program magang bagi guru produktif untuk memperbarui (update) keahlian yang relevan dengan perkembangan industri terkini.
”Seringkali guru hanya menguasai teori, sehingga perlu terjun langsung ke industri agar apa yang didapatkan di sana bisa diterapkan kembali kepada siswa di sekolah. Tahun lalu ada 7 guru yang magang selama satu bulan. Namun, dari hasil evaluasi pihak industri, durasi satu bulan dirasa masih kurang. Oleh karena itu, tahun ini kami canangkan program magang guru selama dua bulan,”
tambahnya.
Sejauh ini, sekolah telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak ketiga, termasuk program kelas industri bersama Alfamart, sejumlah diler otomotif untuk jurusan TKR, serta berbagai hotel berbintang dan Tour & Travel untuk jurusan Akomodasi Perhotelan, Kuliner, dan Usaha Layanan Wisata (ULW).
Menjawab pertanyaan mengenai keterbatasan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dalam menunjang operasional sekolah, Kepsek Christo menegaskan bahwa sekolah membuka ruang bagi sumbangan sukarela dari orang tua siswa melalui Komite Sekolah selaku mitra resmi.
Langkah ini berpijak pada regulasi yang sah, yakni Peraturan Gubernur (Pergub) Sulawesi Utara Nomor 20 Tahun 2021 tentang partisipasi masyarakat dalam pendanaan pendidikan.
”Ada kebutuhan operasional sekolah yang memang tidak bisa didanai atau tidak terprogram di dalam juknis dana BOS. Di antaranya adalah kegiatan ekstrakurikuler, partisipasi lomba, perbaikan sarana prasarana skala kecil seperti pengecatan atau kebocoran gedung, promosi sekolah, hingga pembayaran honor guru non-PNS yang belum memiliki NUPTK,”
urai Kepsek.
Ia menekankan, penggalangan dana dari orang tua ini bersifat partisipasi sukarela murni tanpa adanya paksaan maupun batasan nominal.
”Kami sangat mengharapkan partisipasi ini, namun sifatnya sukarela. Tidak ada batas minimal maupun maksimal. Sistem pembayarannya pun dibebaskan kepada orang tua; bisa per minggu, per bulan, per semester, bahkan per tahun sesuai kerelaan masing-masing. Bagi keluarga yang memang tidak mampu, silakan ajukan keringanan atau pembebasan biaya, kami gratiskan,” tegasnya.
Pihak sekolah menjamin seluruh dana partisipasi yang terkumpul akan dikelola secara transparan dan diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan yang paling mendesak, utamanya pembayaran honorarium guru demi menjaga kualitas kegiatan belajar mengajar (KBM). (kiti)















