
JAKARTA — Relawan Listrik Untuk Negeri (Re-LUN) merilis laporan yang mengkritisi kinerja sistem kelistrikan Jawa–Bali selama periode kepemimpinan Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo. Dalam laporan tersebut, organisasi itu mengklaim bahwa sejumlah indikator keandalan listrik menunjukkan penurunan dibandingkan periode kepemimpinan direktur utama PLN sebelumnya.
Koordinator Nasional Re-LUN, Teuku Yudhistira, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (18/6), menyatakan bahwa kesimpulan tersebut disusun berdasarkan analisis data yang disebut berasal dari laporan tahunan PLN, data yang dipublikasikan berbagai lembaga, serta kajian independen.
“Semua ini hasil laporan Tim Investigasi Data dan Laporan Khusus Re-LUN,” kata Yudhistira.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat tanggapan resmi dari PLN maupun Darmawan Prasodjo terkait isi laporan tersebut. Oleh karena itu, sejumlah klaim yang disampaikan dalam laporan Re-LUN belum dapat diverifikasi secara independen.
Sumber : Laporan Tahunan PLN, Komisi VII DPR, ADB, Audit Independen
Indikator Keandalan Kelistrikan
Dalam laporannya, Re-LUN menggunakan dua indikator yang lazim dipakai dalam industri ketenagalistrikan untuk mengukur kualitas layanan.
Indikator pertama adalah System Average Interruption Duration Index (SAIDI), yakni rata-rata total durasi gangguan atau pemadaman yang dialami pelanggan dalam satu tahun. Semakin rendah nilai SAIDI, semakin baik tingkat keandalan pasokan listrik.
Indikator kedua adalah System Average Interruption Frequency Index (SAIFI), yaitu rata-rata frekuensi gangguan yang dialami pelanggan dalam satu tahun. Nilai yang lebih rendah menunjukkan gangguan yang lebih jarang terjadi.
Menurut Re-LUN, kedua indikator tersebut digunakan sebagai dasar untuk membandingkan kinerja sejumlah direktur utama PLN sejak 2006 hingga pertengahan 2026, khususnya pada sistem kelistrikan Jawa–Bali.
Periode 2006–2011 Dinilai Paling Stabil
Laporan tersebut menyebut bahwa masa kepemimpinan Eddie Widiono (2006–2008), Fahmi Mochtar (2008–2009), dan Dahlan Iskan (2009–2011) merupakan periode dengan tingkat keandalan sistem yang relatif tinggi.
Re-LUN mencatat nilai SAIDI pada periode tersebut berada di kisaran 120–240 menit per tahun, sementara SAIFI berkisar antara 1,2 hingga 1,8 kali gangguan per pelanggan per tahun.
Menurut laporan itu, selama periode tersebut tidak tercatat pemadaman berskala besar yang menyebabkan gangguan luas pada sistem Jawa–Bali.
Penurunan Bertahap pada 2011–2019
Pada masa kepemimpinan Nur Pamudji (2011–2014), Re-LUN mencatat adanya peningkatan durasi dan frekuensi gangguan. Nilai SAIDI disebut naik menjadi 300–450 menit per tahun, sedangkan SAIFI berada pada rentang 2,2–3,0 kali gangguan.
Laporan itu mengaitkan kondisi tersebut dengan bertambahnya usia aset jaringan serta keterlambatan modernisasi infrastruktur.
Sementara itu, pada masa kepemimpinan Sofyan Basir (2014–2019), Re-LUN menyebut terjadi peningkatan lebih tajam pada angka gangguan. Periode ini juga ditandai dengan pemadaman massal Jawa–Bali pada 4 Agustus 2019 yang berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat dan perekonomian.
Menurut laporan tersebut, nilai SAIDI saat itu berada pada kisaran 720–1.136 menit per tahun, sedangkan SAIFI mencapai 5,8–11,5 kali gangguan per pelanggan.
Klaim Perbaikan pada 2019–2021
Re-LUN menilai terjadi perbaikan keandalan sistem ketika PLN dipimpin Zulkifli Zaini pada 2019–2021.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa nilai SAIDI turun menjadi sekitar 400–500 menit per tahun dan tidak terjadi lagi gangguan berskala besar seperti yang terjadi pada 2019.
Kritik terhadap Kinerja Era Darmawan Prasodjo
Bagian utama laporan Re-LUN menyoroti periode kepemimpinan Darmawan Prasodjo yang dimulai pada akhir 2021.
Re-LUN mengklaim bahwa nilai SAIDI pada 2025 mencapai sekitar 1.450 menit atau setara 24,2 jam per pelanggan per tahun. Organisasi itu menyebut angka tersebut sebagai yang tertinggi dalam rentang data yang mereka analisis sejak 2006.
Selain itu, Re-LUN juga mempertanyakan perbedaan angka yang mereka sebut sebagai hasil audit independen dengan data yang menurut mereka dilaporkan secara resmi.
Dalam laporannya, Re-LUN mengklaim terdapat perbedaan antara angka SAIDI tahun 2024 yang dipublikasikan PLN dengan hasil perhitungan yang mereka lakukan. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan belum memperoleh tanggapan dari pihak PLN.
Soroti Gangguan Kelistrikan di Bali
Laporan Re-LUN juga menyoroti sejumlah kejadian pemadaman di Bali dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut organisasi tersebut, terdapat pemadaman besar di Bali pada April 2022 dan Mei 2025 yang berdampak terhadap jutaan pelanggan. Re-LUN menyebut frekuensi kejadian tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya.
Selain itu, laporan itu juga menyinggung gangguan yang terjadi pada Februari 2026 sebagai bagian dari rangkaian masalah keandalan sistem yang mereka nilai perlu mendapat perhatian serius.
Anggaran Pemeliharaan dan Cadangan Daya
Re-LUN turut menyoroti kebijakan pengelolaan anggaran perusahaan.
Dalam laporan tersebut, organisasi itu mengklaim terjadi penurunan anggaran pemeliharaan jaringan dan pembangkit sejak 2022, sementara sebagian dana dialihkan untuk program transformasi digital, termasuk proyek Advanced Metering Infrastructure (AMI).
Mereka juga mengklaim bahwa margin cadangan daya sistem mengalami penurunan dibandingkan standar yang selama ini dianggap aman bagi operasi sistem kelistrikan.
Namun demikian, data dan kesimpulan yang disampaikan Re-LUN mengenai kebijakan anggaran dan dampaknya terhadap keandalan sistem belum memperoleh konfirmasi resmi dari PLN.
Perlunya Klarifikasi dan Verifikasi
Pengamat menilai bahwa indikator keandalan seperti SAIDI dan SAIFI memang menjadi parameter penting dalam mengukur kualitas layanan kelistrikan. Namun, interpretasi terhadap data tersebut perlu mempertimbangkan metodologi perhitungan, cakupan gangguan yang dihitung, serta kondisi sistem secara keseluruhan.
Karena itu, sejumlah temuan dan kesimpulan dalam laporan Re-LUN masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari regulator, auditor independen, maupun pihak PLN agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh dan berimbang mengenai kondisi sistem kelistrikan nasional.
Catatan Redaksi: Berita ini memuat klaim dan temuan yang disampaikan oleh Re-LUN. Hingga berita diterbitkan, belum terdapat tanggapan resmi dari PT PLN (Persero) maupun Darmawan Prasodjo terkait isi laporan tersebut. Semua tuduhan, penilaian, dan kesimpulan dalam laporan tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.











