Kilas Balik Sejarah: Mengapa 1 Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Islam?

- Editor

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:41

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tribuneindonesia.com — Kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan resmi umat Islam yang digunakan untuk menentukan hari-hari besar keagamaan. Namun, di balik penetapan 1 Muharram sebagai awal tahun baru, terdapat rekam jejak sejarah dan urgensi administrasi pemerintahan yang panjang pada masa kekhalifahan klasik.

​Secara historis, penanggalan ini merujuk pada momentum besar migrasi atau hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dari Makkah menuju Madinah.

Peristiwa monumental tersebut terjadi pada tahun 622 Masehi, yang kelak menjadi fondasi utama penentuan tahun pertama Islam.

​Kendati peristiwa hijrah terjadi pada tahun 622 Masehi, sistem penanggalan Hijriah tidak serta-merta langsung terbentuk saat itu juga. Formulasi kalender Islam ini baru resmi dicetuskan belasan tahun kemudian, tepatnya pada tahun ke-17 setelah peristiwa hijrah tersebut.

​Inisiasi pembuatan kalender ini lahir pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, wilayah kekuasaan Islam di bawah kendali Kekhalifahan Rasyidin telah berekspansi secara masif hingga menjangkau wilayah Irak.

​Perluasan wilayah yang begitu cepat ternyata membawa tantangan baru dalam tata kelola birokrasi pemerintahan. Salah satu kendala utama yang muncul adalah tidak adanya sistem penanggalan yang seragam untuk surat-menyurat resmi negara.

​Masalah ini mencuat ke permukaan ketika Khalifah Umar menerima dokumen dinas dari salah satu gubernurnya, yakni Abu Musa Al-Asy’ari. Surat resmi yang dikirimkan dari wilayah tugas tersebut datang tanpa mencantumkan keterangan tanggal maupun nomor tahun yang jelas.

​Ketiadaan penanda waktu tersebut langsung memicu kebingungan struktural di tingkat pusat. Tanpa adanya tanggal, pihak kekhalifahan kesulitan mengidentifikasi kronologi dokumen, termasuk membedakan antara surat yang baru masuk dengan surat yang sudah lama dikirim.

​Menyadari potensi kekacauan administrasi tersebut, Khalifah Umar bin Khattab segera mengambil langkah taktis.

Ia langsung mengumpulkan para sahabat terkemuka dalam sebuah forum musyawarah untuk merumuskan standarisasi sistem penanggalan bagi umat Islam. ​

“Umat Islam kala itu sepakat bahwa standarisasi kalender mutlak diperlukan demi ketertiban administrasi negara yang kian meluas,”

tulis Ahmad Sarwat dalam buku Sejarah Pembentukan Kalender Hijriyah.

​Dalam forum tersebut, perdebatan sengit mulai terjadi ketika menentukan momentum apa yang paling layak dijadikan sebagai penanda tahun pertama.

Berbagai usulan dan opsi historis pun silih berganti dilemparkan oleh para sahabat yang hadir.

Baca Juga:  Pemkab Bireuen Gelar Bimtek Penyusunan Produk Hukum Daerah Tahun 2026

​Sebagian sahabat mengusulkan agar Tahun Gajah yang merupakan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai titik awal.

Sementara sebagian lainnya menawarkan opsi untuk memulai penanggalan dari tahun wafatnya Rasulullah, atau tahun ketika wahyu pertama turun di Gua Hira.

​Di tengah kebuntuan argumen, sebuah usulan moderat datang dari dua sahabat senior, yakni Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya mengusulkan agar peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dijadikan sebagai tonggak awal penanda tahun.

​Khalifah Umar akhirnya menyetujui usulan tersebut. Alasan mendasar penolakan terhadap opsi tahun kelahiran atau turunnya wahyu adalah karena tradisi Arab kala itu kerap menandai waktu berdasarkan peristiwa besar tanpa mencatat tanggal dan tahun secara detail, sehingga memicu perbedaan pendapat mengenai kepastian waktunya.

​Selain faktor kepastian waktu, Khalifah Umar juga secara tegas menolak opsi penggunaan tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW. Bagi Umar, tahun kepergian Rasulullah merupakan fase penuh duka mendalam bagi umat Islam, sehingga tidak tepat dijadikan awal penanggalan yang sarat optimisme.

​Berdasarkan pertimbangan matang, peristiwa hijrah dipilih karena dianggap sebagai pemisah yang jelas antara perkara yang hak (benar) dan yang bathil (salah).

Momentum ini juga menjadi titik balik kejayaan peradaban Islam yang awalnya bergerak secara sembunyi-sembunyi menjadi dakwah yang terbuka.

​Setelah tahun pertama disepakati, perdebatan beralih pada penentuan bulan pertama. Secara faktual, peristiwa hijrah Nabi sebenarnya terjadi pada bulan Rabiul Awwal, bukan di bulan Muharram.

​Namun, Khalifah Umar berargumen bahwa embrio atau rencana awal hijrah sejatinya sudah dimulai sejak bulan Muharram.

Hal ini merujuk pada peristiwa Baiat Aqabah di penghujung bulan Zulhijah, di mana setelah prosesi baiat tersebut, umat Islam langsung memulai pergerakan hijrah tepat saat memasuki bulan Muharram.

​Melalui konsensus final para sahabat, formula kalender Islam ini akhirnya resmi ditetapkan.

Sistem perputaran waktunya mengadopsi konsep peredaran bulan (Al-Qomari) yang telah akrab dengan tradisi masyarakat Arab, dengan menetapkan 1 Muharram sebagai penanda resmi dimulainya awal tahun baru Islam (talia)

Berita Terkait

Penyerahan Aset Renovasi Puskesmas Langsa Barat Berjalan Tertib, Pengelolaan Kekayaan Negara Ditegaskan
Pemimpin Bukan Mengubah-Ubah Kurikulum, Tapi Membangun Fondasi yang Kuat
Sambut HUT Kemerdekaan RI Ke 81 Wartawan Gayo Gelar Lomba Photo dan Karya Tulis Jurnalistik
Satgas TMMD ke-129 Kodim 0102/Pidie Tuntaskan Pembangunan Tempat Wudhu, Kini Siap Dimanfaatkan Santri dan Jamaah
Dr. Dedy Cahyadi, S.SiT., MT. Berhasil Raih Gelar Doktor dari ITL Trisakti
Guru adalah Pahlawan Sesungguhnya yang Membangun Peradaban Bangsa
Arief Martha Rahadyan Serukan Gerakan Bersama Cegah Karhutla di Tengah Cuaca Ekstrem
PT Jasa Raharja (Persero) Kantor Wilayah Utama DKI Jakarta Gelar Bakti Sosial di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 1 Jakarta Timur
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 05:20

TAMPERAK dan PEPABRI Soroti Stok Menipis, Harga Semen di Aceh Melambung hingga Rp90 Ribu per Zak

Selasa, 11 Agustus 2026 - 01:03

Mengangkat Rasa Nusantara, Menghidupkan Kuta: Gerakan Baru Industri F&B Bali

Senin, 10 Agustus 2026 - 13:06

BUPATI SIMEULUE SAMPAIKAN PESAN KEPADA MAHASISWA BARU UTU KAMPUS PAHLAWAN NASIONAL

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:36

BUPATI SIMEULUE RESMIKAN CAR FREE DAY, DORONG SILATURAHMI DAN PENGGERAK EKONOMI UMKM*

Senin, 10 Agustus 2026 - 03:48

LAPAS KLAS III SIMEULUE OPTIMALKAN PEMBINAAN WARGA BINAAN PERKUAT PROGRAM KEROHANIAN DAN KETAHANAN PANGAN

Senin, 10 Agustus 2026 - 02:29

Al Amin, S.Pd., M.Si Kepala UPTD KPH Wilayah X Aceh Mengucapkan DIRGAHAYU HUT RI KE-81 BERSATU BERDAULAT, RAKYAT SEJAHTERA, INDONESIA MAJU🇮🇩

Senin, 10 Agustus 2026 - 01:18

HUT IWO ke-14, IWO Bali Perkuat Komitmen: Pers Merdeka, Organisasi Makin Solid

Minggu, 9 Agustus 2026 - 12:58

KELUARGA 8 TERDAKWA KASUS DUGAAN PEMALSUAN STNK DAN MOTOR BODONG DI SIMEULUE DESAK PENEGAKAN ASAS PERSAMAAN HUKUM*

Berita Terbaru