JAKARTA_Tribuneindonesia.com
Fenomena El Niño pada 2026 yang berpotensi kondisi kering menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. BMKG sebelumnya telah mengingatkan bahwa kondisi tersebut telah membuat sebagian wilayah Indonesia mengalami risiko kekeringan serta karhutla.
Data BNPB menunjukkan karhutla menjadi jenis bencana yang paling banyak tercatat pada Juni 2026, dengan 37 kejadian atau 34,9 persen dari kejadian bencana pada periode tersebut.
Arief mendorong pemerintah pusat dan daerah memperkuat pemetaan kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi, mempercepat respons dan memastikan ketersediaan sumber air di wilayah rawan, serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai larangan dan bahaya pembakaran lahan secara tidak terkendali.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan iklim dan dinamika cuaca tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi tanggung jawab manusia dalam menjaga lingkungan.
Cuaca memang berada di luar kendali kita, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi cuaca tersebut adalah pilihan yang berada di tangan kita, jangan menunggu alam memberikan peringatan melalui kebakaran, kita harus lebih dulu membaca tanda-tandanya dan bertindak,” tegas Arief.
Negara membutuhkan mata dan telinga yang berada langsung di lapangan. Masyarakat desa, kelompok tani, perusahaan, pemerintah daerah, aparat keamanan dan lembaga teknis harus berada dalam satu kesadaran bahwa satu titik api yang dibiarkan dapat berubah menjadi persoalan besar bagi banyak orang,” tutup nya



















