Aceh Tamiang | TribuneIndonesia.com – Harga semen di sejumlah wilayah Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Tamiang, kembali mengalami kenaikan. Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Ketua Tameng Perjuangan Rakyat Anti Korupsi (TAMPERAK) dan Sekretaris Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (PEPABRI) Aceh Tamiang, Purn TNI Zulsyafri.
Saat ini harga semen di tingkat pasaran mencapai Rp90 ribu per zak. Angka tersebut meningkat dibandingkan harga sebelumnya yang lebih rendah. Kenaikan harga diduga dipicu oleh terbatasnya pasokan semen di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap material bangunan.
Menurut Zulsyafri, kondisi kelangkaan material bangunan, khususnya semen, menjadi persoalan yang kerap terjadi. Padahal Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki industri semen, namun kenyataannya pasokan ke sejumlah daerah masih terbatas sehingga berdampak terhadap harga jual di pasaran.
“Kelangkaan semen ini menjadi perhatian kita. Aceh merupakan daerah penghasil semen, tetapi pasokan ke daerah masih terbatas. Akibatnya harga semen bisa mencapai Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per zak,” ujar Zulsyafri.
Ia menyebutkan, saat ini stok semen Andalas di sejumlah tempat masih kosong. Kondisi tersebut membuat masyarakat dan pelaku usaha konstruksi harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan kebutuhan material pembangunan.
“Pasokan semen Andalas saat ini masih kosong. Kenaikan harga tentu sangat dikeluhkan masyarakat, terutama bagi mereka yang sedang melakukan pembangunan rumah maupun kegiatan konstruksi lainnya,” katanya.
Meski distribusi semen mulai mengalami ketidakstabilan, Zulsyafri mengapresiasi upaya para pemilik toko bangunan yang terus mencari tambahan pasokan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan aktivitas pembangunan tidak terhenti.
“Pelaku usaha toko bangunan terus berusaha mencari pasokan tambahan agar kebutuhan masyarakat tetap tersedia. Namun persoalan ini tetap harus mendapat perhatian serius dari pemerintah,” jelasnya.
TAMPERAK dan PEPABRI meminta pemerintah segera melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi dan pengiriman pasokan semen dari produsen maupun distributor ke daerah-daerah.
Menurut Zulsyafri, keterbatasan pasokan yang terjadi secara terus-menerus berpotensi membuka ruang terjadinya permainan harga yang pada akhirnya dapat membebani masyarakat dan berdampak terhadap perekonomian daerah.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan memastikan distribusi semen berjalan normal. Jangan sampai kelangkaan ini dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memainkan harga yang akhirnya merugikan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu memastikan ketersediaan material bangunan strategis agar pembangunan di Aceh tetap berjalan dan masyarakat tidak menjadi korban akibat persoalan distribusi. (##)


















