Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas Soroti Krisis Tata Kelola: Kerusakan Lingkungan dan Korupsi Picu Penderitaan Rakyat

- Editor

Sabtu, 10 Januari 2026 - 01:32

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bireuen/Tribuneindonesia.com

Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menilai meningkatnya penderitaan rakyat di berbagai daerah merupakan dampak langsung dari krisis tata kelola pemerintahan, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam dan lemahnya pemberantasan korupsi. Maraknya praktik ilegal logging dan tambang ilegal disebut telah memperparah kerusakan lingkungan serta memicu bencana berulang yang kini dirasakan masyarakat luas.

Menurut Arizal Mahdi, banjir dan longsor yang terjadi hampir di berbagai wilayah tidak lagi dapat dipandang semata sebagai bencana alam. Ia menegaskan, kerusakan daerah aliran sungai, pembalakan liar, serta eksploitasi tambang tanpa kendali telah menciptakan bencana struktural akibat kelalaian dan pembiaran kebijakan.

“Ketika hutan dirusak dan tambang ilegal dibiarkan, maka banjir bukan lagi peristiwa alam semata, melainkan konsekuensi dari kegagalan tata kelola. Dalam kondisi ini, rakyat kecil selalu menjadi korban pertama,” ujar Arizal Mahdi.

Ia menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), yang menempatkan kesejahteraan rakyat, perlindungan lingkungan, dan keadilan sosial sebagai tujuan utama pembangunan negara.

“Indonesia bukan kekurangan rencana, tetapi kekurangan keberanian dalam menjalankan rencana itu sendiri. Selama praktik ilegal dan korupsi masih merajalela, RPJP dan RPJM hanya akan menjadi dokumen administratif tanpa makna substantif bagi rakyat,” tegasnya.

Baca Juga:  Polres Bireuen Gelar Deklarasi Pembubaran Geng Motor

Arizal Mahdi juga menyoroti korupsi sebagai akar persoalan yang melumpuhkan sistem pemerintahan. Menurutnya, korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga melemahkan penegakan hukum, membajak kebijakan publik, serta menciptakan ruang aman bagi pelaku kejahatan lingkungan.

Di sisi lain, masyarakat di berbagai daerah terdampak bencana masih menghadapi persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan hunian layak, lambannya pemulihan pascabencana, hingga minimnya transparansi data kerusakan dan kerugian. Kondisi ini dinilai memperkuat persepsi bahwa negara belum sepenuhnya hadir melindungi rakyat pada saat krisis.

Arizal Mahdi menegaskan, kritik dan suara publik tidak seharusnya dibingkai sebagai upaya menciptakan konflik atau adu domba. Sebaliknya, kritik merupakan bagian penting dari kontrol demokrasi agar penyelenggaraan negara tetap berada pada rel konstitusional dan berpihak pada kepentingan rakyat.

“Negara harus kembali pada tujuan dasarnya: melindungi rakyat dan menjaga alam. Tanpa pembenahan serius terhadap tata kelola sumber daya alam, penegakan hukum, dan pemberantasan korupsi, penderitaan rakyat akan terus berulang dan risiko bencana semakin besar,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah dan instansi terkait belum memberikan keterangan resmi atas pandangan dan kritik yang disampaikan tersebut.(Mh)

Berita Terkait

Bantuan Kemanusiaan 1 Juta Rupiah untuk Warga Seuneubok Saboh, Harapan Masyarakat Terpenuhi
Ketua TP-PKK Ny. Sadriah, S.K.M., M.K.M Tekankan Peran Imunisasi Anak
Langkah Strategis Dalam Memperkuat Sinergi, Kejaksaan Bireuen Tanda Tangani MoU Dengan RSUD DR.Fauziah Bireuen
Pelindo Resmi Terapkan Sistem Terintegrasi di Pelabuhan Bitung demi Efisiensi Global
PT Jasa Raharja melaksanakan Program Intensifikasi Keselamatan Transportasi Berbasis Domisili Korban
Pastikan Kamtibmas Kondusif, Kapolsek Matuari Pimpin Pengamanan Kompetisi Olahraga di Kota Bitung
Diduga Gunakan Material Galian C Ilegal, Proyek PT HK Disorot Tajam: Bupati Aceh Tenggara Diminta Jangan Jadi Penonton
STMA Trisakti Gelar Seminar Nasional Bahas Stabilitas Pertumbuhan Industri Perasuransian
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 08:12

PWKI Deli Serdang Hadirkan Edukasi Strategis di Desa Sumberjo

Rabu, 29 April 2026 - 15:52

Wabup Deli Serdang Hadiri Penutupan Satgas Pemulihan Bencana Aceh, Tegaskan Komitmen Bangkit Bersama

Selasa, 28 April 2026 - 23:58

Dari Rumah Reyot ke Harapan Baru Sentuhan hati Bupati Deli Serdang di Hamparan Perak

Selasa, 28 April 2026 - 16:06

Deli Serdang Perkuat Perang Melawan Narkoba, Sinergi dengan BNN Didorong hingga Desa

Selasa, 28 April 2026 - 15:49

Dari Tanah Sengketa hingga Irigasi Kritis, Bupati Deli Serdang “Ketuk Pintu” Pusat di Reses NasDem

Selasa, 28 April 2026 - 00:08

Lahan Eks HGU Lonsum 75 Hektare Resmi Diserahkan, Pemkab Deli Serdang Prioritaskan Kepentingan Rakyat

Senin, 27 April 2026 - 09:09

Bupati Asri Ludin Tegaskan Arah Baru Otonomi Daerah  Kerja Nyata, Bukan Sekedar Seremonial

Minggu, 26 April 2026 - 15:21

PPTSB Garda Budaya, Wabup Deli Serdang Serukan Persatuan untuk Negeri

Berita Terbaru

Feature dan Opini

Maling Teriak Maling: Cermin Retaknya Integritas di Lingkar Kekuasaan

Kamis, 30 Apr 2026 - 15:43