5 Bulan Pasca Bencana Aceh : Deretan Jembatan Putus di Aceh Belum Tersentuh Pembangunan

- Editor

Rabu, 15 April 2026 - 14:37

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : salah satu jembatan yang belum dibangun jalan Bireuen - Bener Meriah - Takengon

Caption : salah satu jembatan yang belum dibangun jalan Bireuen - Bener Meriah - Takengon

ACEH | TribuneIndonesia.com (15/04/2026) – Lima bulan sudah berlalu sejak bencana banjir menerjang sejumlah wilayah di Aceh. Namun hingga hari ini, kondisi infrastruktur dasar khususnya jalur transportasi darat di tiga kabupaten masih jauh dari kata normal. Sejumlah jembatan vital yang putus belum juga dibangun kembali, menimbulkan tanda tanya besar terhadap keseriusan pemerintah dalam menangani dampak bencana.

Di Kabupaten Bireuen, Jembatan Kuta Blang dan Tepi Mane masih terbengkalai tanpa kejelasan pembangunan. Sementara di Kabupaten Bener Meriah, daftar kerusakan justru lebih panjang: Jembatan Tajuk Enang-Enang, Tengge Besi, Umah Besi, Simpang Tiga Jalan Bandara Redelong, hingga jembatan di depan Batalyon 114/SM, seluruhnya masih mengandalkan konstruksi darurat.

Fakta di lapangan menunjukkan, hingga memasuki bulan kelima pasca banjir, belum terlihat tanda-tanda dimulainya pembangunan jembatan permanen di titik-titik tersebut. Kondisi ini memunculkan kesan lambannya respons pemerintah terhadap kebutuhan mendesak masyarakat.

Padahal, jembatan-jembatan tersebut bukan sekadar infrastruktur biasa. Jalur itu merupakan urat nadi perekonomian warga, penghubung antar wilayah, sekaligus akses utama bagi distribusi logistik dan aktivitas sehari-hari masyarakat.

Yang lebih memprihatinkan, warga dipaksa bertaruh nyawa setiap hari dengan melintasi jembatan darurat yang rawan rusak sewaktu-waktu. Kondisi terburuk terlihat di Jembatan Weh Porak, Simpang Lancang, yang kini dijadikan jalur alternatif untuk menghindari lintasan Tajuk Enang-Enang.

Baca Juga:  Kota Mandiri Bekala Mahakarya Baru Deli Serdang Menuju Peradaban Modern

Saat hujan deras, kawasan tersebut berubah menjadi lintasan berbahaya. Air dengan arus deras kerap melintasi badan jalan, mengancam keselamatan pengendara. Situasi ini bukan lagi sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan jiwa.

Ironisnya, di tengah kondisi darurat yang sudah berlangsung berbulan-bulan, belum ada kepastian waktu pembangunan dari pihak terkait. Minimnya progres di lapangan menimbulkan pertanyaan publik: apakah penderitaan masyarakat di daerah terdampak belum menjadi prioritas?

Keterlambatan ini bukan tanpa dampak. Aktivitas ekonomi warga tersendat, biaya distribusi meningkat, dan akses terhadap layanan dasar ikut terganggu. Jika dibiarkan berlarut, kondisi ini berpotensi memperdalam kesenjangan dan memperlambat pemulihan pascabencana.

Masyarakat kini hanya bisa berharap ada langkah nyata, bukan sekadar janji. Pemerintah dituntut segera turun tangan dengan aksi konkret, bukan menunggu hingga kondisi semakin memburuk, apalagi dengan ancaman musim hujan yang bisa memperparah situasi.

Jika dalam waktu dekat tidak ada percepatan pembangunan, maka wajar publik mempertanyakan komitmen pemerintah dalam menjamin keselamatan dan kesejahteraan warganya. (Wen to)

Berita Terkait

Diduga Catut Nama Anak Sebagai Anak Didik TK Swasta Telege Ceret di Aceh Tengah Disorot
RSUD Raja Ampat Jadi Lokasi Studi Tiru RSUD Oksibil, Dari Papua Pegunungan Belajar ke Papua Laut
Kajari Simeulue Terima Tahap II, 5 Tersangka Korupsi Jalan Simpang Air Dingin-Labuhan Bajau Rp7,6 Miliar Resmi Ditahan
Pangdam IX/Udayana Kerahkan Jajaran Tangani Dampak Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Bali
Polemik Dokter Spesialis Anak di Raja Ampat Berujung Baik, Direktur RSUD Tekankan Profesionalitas dan Kepentingan Masyarakat
PENCURIAN TOWER XL DI TUALANG BARO TERULANG! WARGA RESAH, DIDUGA KOMPlotan PENCURI BERKELIARAN DI TENGAH MALAM
Cak Imin Sentil Kader PKB: Jangan Terlena Kekuasaan, Kuasai Media Sosial dan Hadir untuk Rakyat
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 00:43

RSUD Raja Ampat Jadi Lokasi Studi Tiru RSUD Oksibil, Dari Papua Pegunungan Belajar ke Papua Laut

Selasa, 3 November 2026 - 19:03

Selasa, 3 November 2026 - 12:44

Polemik Dokter Spesialis Anak di Raja Ampat Berujung Baik, Direktur RSUD Tekankan Profesionalitas dan Kepentingan Masyarakat

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:06

Nelayan Meosmanggra Temukan Dugaan Bom Ikan di Waigeo Barat, Ketua HMNI Desak Aparat Bertindak

Jumat, 30 Oktober 2026 - 05:59

Surat Pembatalan Tugas dr. Laura Belum Dijawab Bupati, Dokter Tetap Layani Pasien Anak

Jumat, 30 Oktober 2026 - 05:53

Dari Sampah Menjadi Karya Seni: Miftahussakdan Dorong Kreativitas dan Kesadaran Lingkungan Melalui SavExpo

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:51

Surat Pembatalan Penugasan dr. Laura Belum Jelas, Pemkab Raja Ampat Belum Beri Kepastian

Kamis, 29 Oktober 2026 - 06:46

Xplore Indonesia Luncurkan Antologi Pemikiran Tokoh Nasional, Gaungkan Semangat Kebangsaan di Hari Sumpah Pemuda

Berita Terbaru