Sebagian Jakarta Kemarin Gelap Gulita, Jumat Pagi GM PLN UID Jaya Malah Santai Bersepeda

- Editor

Jumat, 10 April 2026 - 08:31

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Pemadaman listrik berskala besar bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Berdasarkan catatan, selama di era Dirut PLN Darmawan Prasodjo, sudah terjadi blackout berulang kali di sejumlah wilayah di Indonesia.

Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan hingga Bali, semuanya pernah merasakan _blackout_. Bahkan Jakarta sebagai urat nadi negara ini, yang semestinya paling dijaga keandalan listriknya, juga turut merasakannya pada Kamis sore hingga malam (9/4/2026).

Peristiwa itu pun berdampak luas bagi masyarakat. Padahal keandalan sistem kelistrikan adalah kebutuhan mendasar yang semestinya tidak bisa ditawar-tawar, terlebih bagi ibukota yang menjadi motor penggerak untuk Indonesia.

Mirisnya, ketika sebagian warga Jakarta masih merasakan dampak pemadaman listrik tersebut, dan publik menunggu pemulihan, justru arah dan sikap dari pucuk pimpinan PLN sampai saat ini belum jelas.

Bukan hanya harus menyampaikan permintaan maaf secara resmi, seharusnya dalam situasi krisis yang meluas, Darmawan Prasodjo sebagai pimpinan tertinggi di PLN, diharapkan tampil bertanggung jawab memberikan kejelasan sekaligus menunjukkan empati yang kuat kepada masyarakat yang terdampak.

Namun yang terlihat justru sebaliknya. Di saat publik mempertanyakan apa penyebab terjadinya pemadaman listrik di sejumlah wilayah di DKI Jakarta, pada Jumat pagi (10/4)2026), tanpa merasa ‘berdosa’, jajaran petinggi PLN UID Jakarta Raya terlihat bersepeda santai mengelilingi ibu kota.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Nasional Relawan Listrik untuk Negeri (Kornas Re-LUN) Teuku Yudhistira menilai, jelas hal itu sangat kontras dan tidak masuk akal.

“Karena jelas pemadaman yang terjadi bukan sekadar gangguan biasa. Peristiwa ini melumpuhkan sebagian an aktivitas ibukota, mengganggu aktivitas lainnya seperti pusat perbelanjaan, bahkan menghentikan operasional MRT Jakarta hingga penumpang harus dievakuasi. Dalam situasi seperti ini, publik tidak hanya terdampak secara fisik, tetapi juga secara psikologis muncul kekhawatiran, ketidakpastian. Wajar muncul pertanyaan besar apa yang sebenarnya terjadi?,” ujarnya saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat siang.

Baca Juga:  Rangkap Jabatan Pejabat Publik Picu Krisis Kepercayaan dan Etika Negara

Namun di saat pertanyaan itu muncul, lanjutnya, alih-alih melihat kesigapan penuh dari para Manajemen PLN, publik justru disuguhi citra yang berjarak dari realitas.

“Aktivitas bersepeda mungkin dimaksudkan sebagai ajang kebersamaan atau gaya hidup sehat, tetapi dalam konteks krisis, ia terasa seperti simbol ketidakpekaan. Kepemimpinan dalam sektor layanan publik tidak hanya diuji saat kondisi normal, tetapi justru saat krisis melanda,” tudingnya.

Copot Dirut dan GM PLN UID Jaya

“Di momen seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar kerja teknis di lapangan, melainkan juga kehadiran moral dari para pemimpin hadir di pusat kendali, memberikan penjelasan terbuka, memastikan pemulihan berjalan cepat, dan yang terpenting, menunjukkan empati kepada masyarakat yang terdampak,” imbuh Yudhis.

Karena jika faktanya seperti itu, kata Ketua Umum IWO tersebut, yang dipertaruhkan bukan hanya aliran listrik, tetapi juga kepercayaan publik terhadap PLN.

“Ketika masyarakat melihat adanya jarak antara penderitaan yang mereka rasakan dengan aktivitas para pemangku kebijakan, maka yang terkikis bukan hanya citra, tetapi legitimasi. Apalagi selama ini PLN kerap mengusung narasi ‘Melayani Sepenuh Hati’. Namun peristiwa ini justru menimbulkan pertanyaan: apakah sensitivitas terhadap pelanggan juga dijaga dengan hati?,” kata dia.

Lebih jauh Yudhistira mengatakan, jika krisis sebesar ini tidak cukup untuk mengubah prioritas, maka publik berhak mempertanyakan, untuk siapa sebenarnya pelayanan itu dijalankan. Kami harap hal ini jadi perhatian Presiden. Sudah sewajarnya copot Dirut PLN dan GM PLN UID Jaya yang seakan tak merasa bersalah atau peristiwa yang bukan masuk kategori _force majeure_ ini,” pungkasnya.

Berita Terkait

Wartawan Gelar Aksi Damai di Lapas Labuhan Ruku, Kalapas Sampaikan Permohonan Maaf dan Janji Pembenahan
Pelantikan Pengurus FKP70 Periode 2026–2030 “Menguat Silahturahmi, Bersinergi Membangun Generasi”
CV. Tona Jaya Kupi Dorong UMKM Kopi Aceh Tembus Pasar Nasional
Miris, Bocah 11 Tahun Diduga Dianiaya Dua Perempuan Dewasa di Pidie
DPD PJS Aceh Tegaskan Siap Hadir dan Ambil Peran Strategis di Rapimnas DPP PJS 2026 Jakarta
Putusan MA Diabaikan, Lamsin SKD Angkat Bicara: “Jangan Permainkan Hukum Negara”
Putusan MA Sudah Sampai ke Kabag Hukum, Pemkab Aceh Tenggara Dinilai Belum Bergerak Cepat
Aiyub & Yunus NSSGG Bikin Heboh TikTok, Sales Honda Jual Motor Sekaligus Jual Hiburan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:20

Muhajir Ismail Membawa Semangat Baru Pendidikan Bireuen

Rabu, 13 Mei 2026 - 07:48

Inspirasi Wisuda: Marshanda Maharani Raih Cum Laude di UBHARA Jaya, Tekankan Pentingnya Resiliensi

Rabu, 13 Mei 2026 - 02:18

Bupati Bireuen Lepas Keberangkatan Jemaah Haji Kloter BTJ 08 Embarkasi Aceh

Rabu, 13 Mei 2026 - 01:31

Patroli Malam Polres Aceh Tenggara, Wujud Nyata Hadirnya Polisi Jaga Keamanan Masyarakat

Rabu, 13 Mei 2026 - 00:35

​Penyegaran Birokrasi Bitung: Empat Pejabat Utama Resmi Dilantik

Selasa, 12 Mei 2026 - 12:31

​Terancam Pasal 466 KUHP Baru, Pemuda di Bitung Diamankan Satreskrim Usai Aksi Kekerasan Fisik

Selasa, 12 Mei 2026 - 06:26

​Hengky Honandar Perkuat Sinergitas Antikorupsi di Sulawesi Utara

Selasa, 12 Mei 2026 - 05:09

Dansatrol Kodaeral VIII Bitung Siap All-Out Sukseskan Festival Akbar di Lembeh Utara

Berita Terbaru