SIMEULUE Tribune Indonesia.com Menandai perjalanan 27 tahun pengabdian sejak berdiri pada 12 Oktober 1999 melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1999, Kabupaten Simeulue terus menunjukkan transformasi pembangunan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Momentum Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 tahun ini dikemas dalam nuansa kesederhanaan namun sarat akan makna dan khidmat.
Penjabat Bupati Simeulue, Mohammad Nasrun Mikaris, SH., MH. (Monas), menegaskan bahwa di tengah tantangan efisiensi anggaran daerah, esensi perayaan HUT bukanlah pada kemewahan seremonial, melainkan pada penguatan optimisme kolektif.
Pemerintah Daerah berfokus merangkul seluruh elemen masyarakat melalui berbagai kegiatan kemasyarakatan yang turut melibatkan peserta dari kabupaten tetangga di wilayah Aceh Barat Selatan (ABAS).
Sekretaris Komite Percepatan Pemekaran Provinsi ABAS, Syafril Yunus, menyampaikan bahwa usia 27 tahun menjadi titik refleksi atas kepemimpinan lintas generasi di Simeulue mulai dari Bupati Drs.Mohammad Amin, Drs. Darmili, Drs. Riswan NS, Erly Hasyim, SH., MH., hingga kepemimpinan Bupati Monas saat ini.
”HUT ke-27 ini bukan sekadar ajang perayaan, tetapi laporan pertanggungjawaban moral penyelenggara pemerintahan kepada publik. Simeulue memiliki rekam jejak ekonomi yang tangguh dengan pertumbuhan 3,05 persen pada tahun 2025, berada di atas rata-rata Provinsi Aceh. Tantangan kita ke depan adalah mengakselerasi kembali pertumbuhan tersebut ke angka 4 persen ke atas melalui efektivitas sektor unggulan,” ujar Syafril Yunus.
Empat Pilar Strategis Arah Pembangunan Simeulue
Untuk menjawab tantangan zaman dan mewujudkan target Simeulue sebagai pusat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2030, terdapat empat pilar strategis yang menjadi fokus perhatian bersama:
Simeulue Zero Victim & Pusat Studi Kebencanaan: Penguatan mitigasi bencana terintegrasi berbasis kearifan lokal Smong. Pemerintah mendorong terwujudnya Pusat Studi Kebencanaan di Simeulue sebagai pusat pembelajaran kebencanaan nasional dan regional.
Pengembangan Ekonomi Biru (The Blue Economy Hub of Aceh): Optimalisasi potensi maritim, perikanan (lobster, gurita, ikan), pariwisata bahari, serta penciptaan lapangan kerja kreatif bagi generasi muda dan lulusan perguruan tinggi melalui ekspansi investasi (Invest in Paradise).
Reformasi Birokrasi & Pelayanan Publik Inklusif: Mewujudkan SDM aparatur yang akuntabel, bebas KKN, serta menghadirkan pelayanan publik prima di sektor kesehatan dan pendidikan yang menjangkau masyarakat rentan, lansia, dan anak-anak.
Pelestarian Identitas Budaya (Manjago Vano): Menjaga kelestarian adat istiadat, kearifan lokal, dan pemanfaatan tata ruang produktif di tengah derasnya arus modernisasi.
Inklusivitas Generasi Muda dan Pencapaian Daerah
Syafril juga menekankan pentingnya memberikan ruang partisipasi yang bermakna (meaningful participation) bagi generasi muda sebagai agen perubahan di era digital.
Pemerintah daerah didorong untuk memfasilitasi wadah kreativitas seperti Youth Center, program beasiswa, serta forum dialog berkala antara pemuda dan pemangku kebijakan.
Sepanjang tahun 2026, Kabupaten Simeulue terus menorehkan ragam prestasi dan penghargaan lintas sektor, mulai dari tata kelola pendidikan, kesehatan, keterbukaan informasi publik, hingga pelestarian budaya dan keagamaan.
Capaian ini menjadi modal sosial yang kuat untuk melangkah menuju masa depan yang lebih sejahtera ”Dirgahayu Kabupaten Simeulue ke-27. Semoga Simeulue semakin maju, berinovasi, dan konsisten menghadirkan pelayanan publik yang berorientasi pada kemaslahatan seluruh masyarakat,” pungkasnya.
Poin Utama Rilis (Ringkasan):
Peristiwa: Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Simeulue (12 Oktober 1999 – 12 Oktober 2026).
Semangat: Kesederhanaan yang khidmat, efisiensi anggaran, dan partisipasi publik lintas daerah (ABAS). Visi Kunci: Refleksi pembangunan, penguatan ekonomi biru (Blue Economy), mitigasi bencana berbasis Smong, pelibatan pemuda, dan tata kelola pemerintahan bermartabat menuju tahun 2030″ tutupnya.












